Tari Made Kreasikan Digitarian Batik Corak Bali

Busana konsep digitarian dengan batik corak Bali rancangan Tari Made. - ist/Tari Made
10 April 2018 18:35 WIB Maya Arina Pramudita Lifestyle Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJA—Perancang busana Tari Made merancang beberapa busana dengan konsep digitarian. Ia menggunakan batik bercorak khas Bali. Proses pengerjaan batik dari busana-busana ini digarap sendiri oleh Tari Made agar menghasilkan karya eksklusif.

 

Digitarian adalah istilah dalam dunia mode. Asalnya adalah dari kata digit dan “rian” di belakang kata, diambil dari kata vegetarian. Digitarian tidak berkaitan sama sekali dengan tren tidak memakan daging. Istilah ini dimaknai tren busana yang digemari oleh generasi Z alias generasi Internet kekinian.

 

Sesuai namanya, tren digitarian melabrak semua pakem yang ada. Diidentikan dengan generasi Z yang begitu cepat berubah budaya karena pengaruh Internet.

 

Dalam rancangan kali ini, Tari Made sepenuhnya memanfaatkan kain nusantara. “Material kain yang digunakan dalam karya ini secara keseluruhan menggunakaan kain lokal selain dari batik tulis tersebut yang berbahan jenis katun, juga dilengkapi dengan kain tenun Bali berwarna navy serta kain jenis [yang dihasilkan dari] ATBM [alat tenun bukan mesin],” terang Tari Made kepada Harian Jogja belum lama ini.

 

Seluruh koleksi yang dibuat Tari Made dinamai Digitarian to the Batik dan ditampilkan dalam peragaan busana yang digelar oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) DIY Aksara Warna, di Hotel Satoria belum lama ini.

 

Dalam proses pengerjaan yang digarapnya sendiri, Tari Made menyebut menggunakan motif bunga Bali kontemporer tanpa merusak pakem tradisional. Ada beberapa kendala yang disebutnya agak mengganggu.

 

“Kendala dalam proses pengerjaan batik tulis hand made [buatan tangan] ini yaitu cuaca. Koleksi ini memiliki konsep yang matang sehingga pilihan pewarnaannya sudah ditentukan. Lalu saat cuaca tidak mendukung hasil akhir pewarnaan kurang memuaskan sehingga perlu pengulangan dan itu menyebabkan penambahan waktu pengerjaan,” ujarnya belum lama ini.

 

Tari Made juga menyebut melalui brand Sakamade ia berusaha konsisten mengangkat corak dan budaya Bali selaras dengan latar belakang budaya yang ia miliki.

 

“Saya berangkat masuk ke dunia fesyen berawal dari hobi melukis dan adanya darah seni turun temurunlah yang menambah wawasan untuk bekolaborasi dengan fesyen. Sedangkan seni Bali merupakan bagian dari keluarga Bali. Sehingga kami ingin menambah koleksi dunia batik di nusantara ini,” tutur Tari Made.

 

Ia menjelaskan Digitarian to the Batik terinspirasi dari dua corak bunga khas bali yaitu bunga sepatu dan bunga matahari. Motif-motif Sakamade menurut Tari memiliki gaya seni kontemporer dan motif bunga khas Bali dipilih karena memiliki filosofi tersendiri.

 

“Dengan style contemporer art ini saya merasa ada kebebasan berkreasi saat menuangkan ide-ide ataupun inspirasi,” ujarnya.

 

Koleksi Sakamade secara keseluruhan ditujukan untuk kalangan usia muda dan mapan selain itu kaum remaja yang cenderung mengikuti tren masa kini, dan ready to wear model busana yang chic dan didukung kualitas material fabric yang baik.

 

Selain potongan digitarian yang cenderung tampak tak beraturan, Tari juga menerapkan cutting garis tegas. “Nantinya saya ingin mencoba sesuatu yang baru dengan menggabungkan sub sektor sesuai tren masa kini yaitu kolaborasi gaya archen dan vigilian,” ujar desainer yang memiliki gerai workshop di Perumahan Sewon Indah, Sewon, Bantul ini.

 

Gaya archen bernuansa cerah menggambarkan mood tema alam dan warna alam. Gaya ini berciri menggelembung, berlekuk dan membongkah. Sedangkan gaya vigiliant berciri sederhana dan elegan serta menampilkan kesan modern. Gaya ini menggambarkan estetika dan kecanggihan yang terukur.

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia