Jatuh Miskin Gara-Gara Sakit

Poster penyakit tidak menular. - JIBI/Solopos/Dok
16 April 2018 11:25 WIB Tim Lipsus Bisnis Indonesia Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Akibat rekomendasi pemecatan dokter Terawan Agus Putranto oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), terungkit lagi pro-kontra soal metode Digital Substraction Angiography (DSA) dalam penanganan strok oleh mantan tim dokter kepresidenan itu. Gaungnya pun lebih luas berkat media sosial.
Metode DSA yang di tangan Terawan lebih dikenal sebagai cuci otak (brain flushing) menjadi perdebatan panjang, bahkan bertahun-tahun. Selama itu, ribuan orang telah melakukan cuci otak ke dokter Terawan yang berpraktik di RSPAD Gatot Subroto.

Dalam bahasa awam, brain flushing layaknya menyemprot “gorong-gorong” aliran darah yang tersumbat dengan air yang mengandung sodium chloride. Saat pembuluh darah tersebut lancar kembali, semua akan berubah dan jaringan sel berfungsi kembali. Biayanya tidak murah, puluhan juta rupiah untuk tindakan DSA yang dikerjakan sekitar 25 menit di rumah sakit di Jakarta Pusat itu. Padahal, menurut Terawan biaya DSA bisa di bawah Rp10 juta, tergantung perhitungan rumah sakit dan wilayah.

Rumah sakit lain, seperti Rumah Sakit Gading Pluit, menawarkan dua pilihan, non-VIP dan VIP. Menurut petugas administratif yang tak mau disebut namanya, paket tindakan DSA non-VIP berbiaya Rp27,3 juta, belum termasuk biaya kamar, pemeriksaan lab dan rontgen kepala. Bila termasuk seluruhnya, akan memakan biaya sekitar Rp35 juta. Untuk DSA kelas VIP, dikenakan tarif Rp35,2 juta, belum biaya kamar, pemeriksaan lab dan CT scan tengkorak kepala. Bila termasuk seluruhnya, akan memakan biaya sekitar Rp45 juta. Di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), tarifnya sekitar Rp15 juta.

Saking populernya brain flushing dokter Terawan ini, antrean jadwal tindakan DSA bisa sampai dua bulan bahkan lebih, meskipun proses hingga penjadwalan tindakan hanya sehari.
Tak kurang dari tokoh-tokoh seperti Aburizal Bakrie, Try Sutrisno, AM Hendropriyono, Dahlan Iskan, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga seniman Butet Kertaradjasa pernah merasakan tangan dingin Kepala RSPAD Gatot Subroto itu.

Dukungan pun mengalir setelah surat keputusan MKEK yang bersifat internal dan rahasia beredar ke publik. Bahkan SBY, yang mengaku dekat secara personal dengan dokter Terawan, membuat video sekitar delapan menit berisi dukungan dan cerita soal kehebatan dokter lulusan UGM itu. Rekomendasi MKEK PB IDI sendiri seperti menemui jalan buntu di tengah suara masyarakat yang menyerukan dukungan kepada Terawan. Menteri Kesehatan Nila Moeloek pun tampak hati-hati mengambil keputusan, salah satunya karena kasusnya berkembang menjadi perbincangan dan perhatian luas publik.

“Kemenkes bersama pemangku kepentingan terkait akan segera mencari solusi terbaik atas metode digital substraction angiography (DSA) atau lebih dikenal dengan cuci otak ini,” tukas Nila.

Sementara itu, Ketua Umum PB IDI Ilham Oetama Marsis menegaskan organisasinya merekomendasikan penilaian terhadap tindakan terapi dengan metode DSA dilakukan oleh tim Health Technology Assessement (HTA) Kemenkes. PB IDI pun menunda melaksanakan putusan MKEK karena keadaan tertentu sehingga dokter Terawan masih berstatus sebagai anggota IDI.

Isu persaingan pun mencuat. Namun, Prof. IOM, panggilan akrab Ilham Oetama Marsis, segera menampik. Menurutnya profesi dokter sangat berbeda dengan profesi-profesi yang lain karena terikat oleh kode etik kedokteran. “Karena itu, anggapan ada persaingan di antara kami itu yang mengakibatkan kehebohan. Padahal, tidak, karena kami punya kode etik kedokteran Indonesia. Ini upaya untuk memecah barisan IDI yang tadinya solid menjadi berbeda pendapat,” ujarnya.

Biaya
Survei Sample Regristration System (SRS) pada 2014 di Indonesia menunjukkan strok menjadi pembunuh utama setelah penyakit jantung koroner. Kedua penyakit timbul lebih karena ulah manusia sendiri, yakni kebiasaan hidup yang buruk. Selain penyebab kematian, strok juga juga sering menyebabkan kecacatan yang membuat biaya perawatannya bisa jadi jauh lebih tinggi. Selain strok, sakit jantung, diabetes dan kanker juga tercatat sebagai penyakit berbiaya mahal.

Namun, bagi Salim Harris, Ketua Kelompok Studi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi), biaya pengobatan penyakit strok tidak mahal. Yang mahal, sebutnya, adalah karena komplikasi.
“Pengobatan strok itu mahal karena memakai obat alteplase, obat penghancur bekuan darah dan obat untuk DSA pengambil bekuan darah. Kalau tidak dilakukan itu semua, tidak ada yang mahal, kecuali ada komplikasi,” kata Salim.

Contoh lain, pasien dalam kondisi sehat tetapi mempunyai kondisi aneurisma pecah di otaknya, maka harus dilakukan coiling dengan DSA. “Coil-nya saja harganya ratusan juta rupiah. Kalau pakainya dua atau tiga bisa mungkin Rp25 juta-Rp50 juta.”

Selain strok, penanganan kanker juga masih sangat mahal. Besarnya biaya penanganan kanker yang direalisasikan lewat BPJS Kesehatan mencapai Rp2 triliun pada 2017, di luar dari leukemia.
Sampai-sampai, Dirut Rumah Sakit Kanker Nasional Dharmais Abdul Kadir mengatakan bila seseorang divonis menderita kanker, maka dia langsung jatuh miskin. “Secara total, biayanya Rp300 juta sampai Rp400 juta. Bisa dibayangkan, kalau ada masyarakat kita yang menderita kanker, meskipun ekonominya menengah, kalau kena kanker, langsung jatuh miskin,” kata dia.

Menurut internist hematology-medical oncology (consultant) MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Jeffry B. Tenggara, obat menjadi salah satu alasan mahalnya penanganan kanker.
“Kesulitan yang mungkin cukup sering kita hadapi bukan alat, tetapi obat. Banyak obat-obatan yang dipakai di luar negeri tidak boleh digunakan di Indonesia hanya karena masalah registrasi BPOM.”

Contohnya, untuk penanganan kanker multiple myeloma menggunakan obat Talidomid. Namun, obat ini di Indonesia sampai saat ini tidak diperbolehkan karena belum teregistrasi di BPOM.
Namun, untuk obat-obatan yang penting atau yang sangat diperlukan hampir semua sudah ada di Indonesia. Untuk fasilitas pengobatan sudah hampir tidak ada bedanya dengan di luar negeri.
Jeffry berharap harga obat kanker di Indonesia bisa diturunkan.

“Tergantung pemerintah itu bagaimana caranya, tetapi memang obat kanker ini amit-amit sekali harganya, kebangetan mahalnya.”

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia