Saat Anak Bertanya soal Terorisme, Ini Jawaban Bijak Menurut Psikolog

Ilustrasi anak. - JIBI
14 Mei 2018 14:50 WIB Newswire Lifestyle Share :
Adplus Tokopedia

Harianjogja.com, JAKARTA- Rentetan teror bom yang terjadi di sejumlah tempat beberapa hari terakhir menyedot perhatian warga Indonesia termasuk anak-anak yang menyaksikan pemberitaan di berbagai media.

Teror bom di Surabaya, Jawa Timur, terjadi bertubi-tubi tentu saja meninggalkan rasa panik dan takut sebagian banyak orang, tak terkecuali anak-anak yang pasti juga akan penasaran dan bertanya tentang aksi terorisme itu.

Apalagi berbagai pemberitaan terkait kejadian tersebut menghujani berbagai media termasuk televisi yang sering ditonton anak-anak. Lalu bagaimana cara orangtua menjelaskan bila anak bertanya tentang terorisme?.

Menurut psikolog forensik UI, Nathanael EJ Sumampouw, untuk menjelaskan hal sensitif ini kepada anak, orang tua harus menanyakan terlebih dahulu kepada anak mengenai informasi apa saja yang diketahuinya tentang aksi terorisme.

"Jadi diawali dengan ajukan pertanyaan apa yang diketahui anak ketika ia menanyakan hal tersebut. Dia tahu itu dari mana, bagaimana pendapatnya," ujar Nael pada acara Ngobras (Ngobrol bareng Sahabat) di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selain itu ada lima tips lain dari Nael yang bisa orangtua terapkan jika buah hati menanyakan hal terkait aksi terorisme yang dilakukan pihak tak bertanggung jawab.

1. Batasi anak dari paparan bermuatan kekerasan

Anak harus dibatasi dari paparan yang bermuatan kekerasan seperti foto korban bom dan tembakan, atau tayangan di televisi yang menunjukkan kekacauan yang terjadi. Ada baiknya segera alihkan perhatian anak dengan kegiatan positif lainnya.

"Kalau misalnya lagi asyik nonton tv tiba-tiba ada tayangan breaking news soal kasus tersebut, orang tua juga jangan terlalu heboh menanggapi perkembangan beritanya. Agar anak juga tetap tenang dalam menyikapi," imbuh Nael.

2. Menjelaskan dengan bahasa sederhana

Ceritakan dengan sederhana apa yang sebenarnya terjadi. Selain itu, orangtua juga sebaiknya tak memberikan harapan palsu dengan mengatakan bahwa tak ada kejadian darurat yang terjadi. "Saat menjelaskannya juga nggak perlu detial, misalnya pelakunya ISIS-lah," pungkasnya.

3. Dengarkan perasaan dan pikiran anak

Menurut Nael, anak lebih butuh untuk didengar pendapatnya dibandingkan banyak menjelaskan apa yang terjadi. Tanyakan apa yang dirasakan dan dipikirkannya terkait kejadian tersebut.

4. Ekstra perhatian

Bagi anak yang berada pada lokasi kejadian tentu akan merasa trauma dengan apa yang terjadi. Sebagai orangtua, maka sudah sebaiknya memberikan perhatian ekstra kepada anak dan menunjukkan kasih sayang lebih dari biasanya.

5. Fokus pada rutinitas anak

Ketika anak melewati masa-masa sulit akibat kejadian yang menimpanya, maka orangtua harus segera membuat anak kembali ke aktivitasnya. Misalnya dengan langsung bersekolah, mengajaknya bermain yang menjadi favoritnya.

"Dengan adanya rutinitas, anak jadi mengembangkan harapan tentang hari esok. Sedikit demi sedikit ia akan mampu melupakan pengalaman pahitnya," jelas Nael.

Sumber : Suara

Adplus Tokopedia