KoKe Tawarkan Cara Lain Menikmati Kopi

Produk KoKe berupa gelang dari biji kopi. - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
15 Mei 2018 12:35 WIB Bernadheta Dian Saraswati Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kopi menjadi salah satu kuliner yang tren di kalangan anak muda saat ini. Di sana-sini bermunculan kafe dengan ragam kopi Nusantara. Namun di tengah gencarnya tren minum kopi, seorang anak muda bernama Yudhi Prasetyo menawarkan cara menikmati kopi dengan cara yang lain.

Bagi Yudhi, menikmati kopi tidak harus diminum. Kopi tidak harus dihaluskan, dicampur air, dan kemudian dikonsumsi. Menikmati kopi yang harum, bisa dengan cara yang sederhana yaitu dengan dihirup aroma biji kopinya.

Cara ini menurutnya sangat cocok untuk orang-orang yang tidak suka meminum kopi tetapi suka menghirup aromanya.

Salah satu cara yang dilakukan Yudhi adalah merangkai biji-biji kopi itu menjadi sebuah kerajinan gelang, anting, dan kalung. Sama dengan kopi yang dipakai untuk minuman, biji kopi pilihan baik arabika maupun robusta itu dirangkai dengan senar satu per satu untuk dapat dipakai di pergelangan tangan dan leher penikmat kopi.

Khusus untuk membuat aksesori ini, Yudhi selalu menggunakan kopi arabika. Selain bentuknya yang cantik, aroma kopi ini lebih awet. Sementara untuk robusta biasa digunakan untuk membuat parfum atau pewangi ruangan.

Pria 26 tahun asal Palembang yang sudah sejak 2009 tinggal di Jogja ini memulai bisnisnya dengan nama Kopi Kreatif atau disingkat dengan KoKe pada November 2015. Saat itu ia masih bekerja di sebuah perusahaan penyedia jasa Internet di Jogja, di mana banyak temannya yang doyan minum kopi.

Hanya ada beberapa orang saja yang tidak suka tetapi sangat antusias mencium baunya. Ia pun berpikir bagaimana caranya agar temannya itu masih bisa ikut menikmati aroma kopi, tanpa harus meminum.

“Saat kami lagi santai, saya minta tiga biji kopi dan saya taruh di tangan. Saya berpikir bagaimana aroma kopi ini bisa awet sampai lama. Nah kebetulan saya sukanya kalau ada jam [di tangan kiri] pasti ada gelang [di tangan kanan], makanya lalu muncul ide bikin gelang dari kopi,” kata pria lulusan S-1 Public Relation UPN Veteran dan S-2 Pemberdayaan Masyarakat di APMD ini, Senin (30/4).

Niatnya itu sering diremehkan teman-teman dan juga para barista yang dikenalnya. Mereka seakan ragu jika biji kopi bisa dirangkai karena biji kopi punya sifat yang mudah rapuh.

Saat awal percobaan membuat gelang memang sering gagal. Biji kopi banyak yang pecah dalam waktu kurang dari sebulan. Ia juga sering dihujat karena aroma kopi bisa hilang kurang dari dua bulan. Namun Yudhi tak putus asa karena dalam benaknya ada keyakinan bahwa aksesori kopi pada suatu saat nanti akan menjadi sebuah kebutuhan dan juga gaya hidup.

 

Bereksperimen

Berbekal keyakinannya, Yudhi ngangsu kawruh (menimba ilmu) di beberapa barista kopi. Inginnya, biji kopi tetap kuat kendati terkena air. Namun dari situ ia bisa mengetahui jika biji kopi yang terkena air justru bisa lebih kuat karena menyusut.

Teknik agar tidak rapuh hanya pada proses pemanasnya. Biji kopi yang sudah kering kemudian dilubangi dengan bor kecil secara manual. Untuk proses ini, Yudhi mengerahkan beberapa ibu rumah tangga untuk melakukannya.

Selain aksesori gelang dan kalung, Yudhi juga menyediakan kalung tasbih dan rosario sebagai sarana beribadah umat Islam dan kristiani. Jelang Ramadan seperti ini, ia sudah mulai memproduksi tasbih dalam jumlah yang cukup banyak. Ada pula parfum dan juga kancing kopi. Dalam sebulan, ia bisa memproduksi sampai 10.000 barang berbahan dasar biji kopi.

Untuk harga dipatok mulai Rp35.000 sampai Rp150.000 per item. Jika aroma kopi mulai memudar, ia menyarankan kepada pembeli agar menaruh gelang atau aksesori lainnya dalam kantung berisi biji kopi dan kopi bubuk. Seketika aroma wangi kopinya akan kembali kuat.