Mencintai Burung Paruh Bengkok Bareng Jogja Parrotdiningrat

Komunitas Jogja Parrotdingingrat - ist/Jogja Parrotdiningrat
15 Mei 2018 13:35 WIB Bernadheta Dian Saraswati Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Komunitas berbasis hobi semakin bertambah. Satu yang baru saja muncul yaitu Jogja Parrotdiningrat. Komunits ini hadir untuk mewadahi para pecinta burung paruh bengkok di DIY.

Jogja Parrotdiningrat belum lama lahir. Komunitas ini baru diresmikan 28 Februari 2018 atau sekitar dua bulan lalu di Dalem Yudonegaran. Komunitas ini mewadahi para pecinta burung paruh bengkok. Di antaranya ada burung parkit, lovebird, nuri Indonesia, african grey, sun conure, sampai aneka burung makau.

Fifaldy Adhar Quthni, 23, Ketua Komunitas Jogja Parrotdiningrat mengatakan sebelum komunitas ini lahir para anggota sudah lama berkumpul dan berkegiatan. Mereka saling berdiskusi tentang cara merawat burung paruh bengkok, saling tukar-menukar informasi, dan saling memberikan masukan jika ada burung yang sakit.

“Kami sama-sama hobi [pelihara] burung paruh bengkok,” kata Faldy, panggilan akrab Fifaldy, kepada Harian Jogja di sela-sela pertemuan bulanan Jogja Parrotdiningrat di kawasan Kasihan, Bantul, belum lama ini.

Forum kebersamaan itu kemudian dibawa dalam sebuah organisasi formal berbasis komunitas. Hingga akhirnya nama Jogja Parrotdiningrat dipilih untuk menamai organisasi mereka. Kendati secara resmi hanya ada 56 orang yang terdaftar dan memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) Jogja Parrotdiningrat, tetapi anggota di akun Facebook sudah mencapai 700-an orang.

Komunitas ini rutin menggelar pertemuan mingguan maupun bulanan. Kegiatan gathering mingguan dilaksanakan di Alun-Alun Selatan setiap Minggu sore. Sementara untuk kegiatan rapat dilaksanakan setiap bulan.

Menurut Faldy, burung paruh bengkok tidak hanya bisa dinikmati dari sisi bulu warnanya yang indah. Burung ini juga tidak hanya bisa terbang bebas. Burung yang termasuk satwa cerdas ini dapat dilatih beberapa trik, bicara, siulan, dan juga bisa diternakkan sebagai mata pencaharian utama anggota maupun sampingan. “Jadi tidak hanya untuk hobi tetapi bisa untuk [bisnis] ternak yang nanti diharapkan dari hobi itu bisa membawa kesejahteraan anggota,” kata Faldy.

Para anggota tidak perlu takut kekurangan informasi karena hampir semua pengetahuan tentang perawatan burung paruh bengkok dimiliki beberapa anggota. Beberapa anggota ada yang bekerja sebagai pelatih, pedagang pakan burung, dan juga produksi anakan burung. Untuk masuk komunitas ini, syaratnya harus mengikuti tiga kali pertemuan rutin yang digelar.

 

Kedekatan Emosional

Bagian Humas Jogja Parrotdiningrat, Marji mengatakan bahwa memperlakukan burung sama halnya memperlakukan manusia. Butuh kesabaran yang tinggi agar tercipta kedekatan emosional antara pemiik dengan burungnya.

“Dikasih makan sambil dielus-elus, diberi nama dan rutin dipanggil namanya,” kata pria yang juga memiliki usaha peternakan burung parkit Australia dan betet Jawa ini.

Burung juga bisa diajarkan untuk mengenal waktu makan dengan peluit. Cara ini perlu dibiasakan sejak kecil agar burung dapat mengenal bunyi peluit yang ditiup pemiliknya. “Pelihara burung itu juga perlu move on. Kalau burungnya lepas dan tidak kembali, jangan terlalu disesali,” katanya.

Pemilik harus bisa move on untuk bisa melatih dan merawat burung-burung lainnya karena menurutnya suasana hati pemilik bisa dirasakan oleh satwa ini. Prinsipnya, menurut Marji, jika ingin burung berkualitas, maka cara melatihnya pun harus total.