Donor Darah Itu Gaya Hidup bagi Sang Pendonor Tersepuh Ini

Harsito Darmoseputro/Harian Jogja - Bernadheta Dian Saraswati
16 Mei 2018 14:35 WIB Bernadheta Dian Saraswati Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—17 Desember 2017 menjadi hari spesial bagi Harsito Darmoseputro karena ia bertemu dengan orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia bisa berkesempatan bertemu Presiden karena tindakan kemanusiaan yang selama ini dilakukannya.

Suasana Kamis (3/5/2018) pagi itu cukup cerah di kawasan Perumahan Gunung Sempu, Kasihan, Bantul. Sinar matahari yang terasa menyengat pada 08.20 WIB cukup menerangi halaman rumah Harsito yang dipenuhi dengan bunga gelombang cinta berukuran besar itu. Dari halaman, suara musik keroncong terdengar kencang.

Tak lama kemudian, si empunya rumah keluar. Mengenakan kemeja putih polos dengan bawahan celana panjang kain warna hitam, Harsito menyambut Harian Jogja dengan ramah. Sembari mengajak duduk di ruang tamu sisi utara, tangannya memutar tombol volume tape deck untuk mengecilkan suara lagu keroncong yang diputarnya.

Di sudut ruang tamu itu, sebuah foto berukuran 10R terpajang menghadap ke timur, menghadap ke pintu masuk. Foto itu tampak beda dari foto lawas yang dipajang di kanan kirinya. Bukan foto dengan keluarganya, tetapi dengan Jokowi.

“Itu foto waktu [Harsito] menerima penghargaan dari Pak Jokowi,” tutur Harsito sembari menunjuk ke arah foto itu dipajang.

Di sisi foto itu, bersanding sebuah piagam tanda kehormatan yang sudah dipigura rapi. Piagam itu pula yang diterima Harsito dari Presiden Jokowi. Dalam piagam itu tertulis bahwa Harsito menerima tanda kehormatan Satyalancana Kebaktian Sosial karena telah mendonorkan darahnya lebih dari 100 kali.

Saat itu, Harsito maju bersama 987 donor dari 22 provinsi di Indonesia. Tidak hanya menjadi donor terbanyak, ia juga menjadi donor paling sepuh karena usianya sudah melebihi tujuh dasawarsa. Pada saat penerimaan penghargaan itu, ia sudah mendonorkan darahnya sebanyak 112 kali mulai 1982-2017, dalam usia 72 tahun.

Penghargaan itu berhasil dicapainya setelah ia rutin melakukan donor darah setiap tiga bulan sekali. Akhir-akhir ini, ia bahkan donor selama dua bulan sekali. Pemilik darah golongan A ini tak pernah absen untuk donor.

Ia hanya pernah bolong sekali karena hemoglobinnya rendah akibat semalaman begadang memasang bendera 17-an. “Perasaannya [tidak donor] kecewa. Setelah itu, kalau mau donor saya harus istirahat cukup, makan terjaga,” kata pria sembilan cucu yang lama berkarya sebagai guru Bahasa Indonesia ini.

Harsito mulai menjadi donor sejak 1982. Selain dorongan dari hati untuk berbuat kemanusiaan, motivasi lainnya melakukan donor adalah ingin gemuk. Harsito termasuk pria bertubuh kecil. Semasa hidupnya tak pernah berat badannya melebihi 65 kilogram. “Orang bilang katanya kalau mau gemuk, rutin donor. Nyatanya juga enggak. Saya masih kecil sampai sekarang,” ujarnya sembari tertawa.

Bonus Kesehatan

Bonus terbesarnya sebagai donor rutin bukan gemuk tetapi sehat. Kakek penyuka makanan tape ini tak pernah merasakan sakit parah. Kartu Askesnya pun sama sekali tak pernah dipakai untuk berobat penyakit yang berat. Jika orang lain merasa lemas, Harsito justru bisa tidur nyenyak setelah donor darah.

Bagi dia, ada tiga alasan kenapa ia setia mendonorkan darahnya. Pertama ingin membantu orang lain sesuai kemampuannya karena donor darah tidak membutuhkan duit. Kedua, saat bisa mendonorkan darahnya, berarti ia termasuk orang yang sehat.

Dan ketiga, ingin memberi inspirasi dan motivasi pada anak muda untuk mengikuti jejaknya. Ia ingin membuktikan bahwa lansia tetap bisa mendonorkan darahnya, asal sudah dimulai dan rutin dilakukan sejak muda.

Selama menjadi donor, salah satu pengalaman menarik yang tak pernah dilupakan adalah saat ia diminta donor hanya selang waktu dua minggu. Saat itu, ada keluarga pasien di RSUP dr. Sardjito yang membutuhkan golongan darah A.

Mereka kemudian menghubungi Harsito dan memohon-mohon agar mau mendonorkan darahnya untuk kesembuhan ayahanda mereka. “Lalu saya tes dan hasilnya bisa memenuhi untuk donor lagi meski baru dua minggu donor. Karena hati lega, efek di fisik enggak terasa,” kata Harsito. Ia pun bertekad akan tetap menjadi donor sampai batas kemampuannya.