Melihat Wastra Tenun di Tangan Desainer Dalam Negeri

Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) Spring/Summer 2018 - JIBI/Bisnis Indonesia/Dwi Prasetya
17 Mei 2018 10:35 WIB Asteria Desi Kartika Sari Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Para desainer Indonesia kini memandang wastra atau kain tradisional nusantara sebagai benda berharga. Mereka terus menggunakannya dan menempatkan menjadi kain bergengsi.

Presiden Asosiasi Perancang Pengusaha Muda Indonesia (APPMI) Poppy Dharsono mengakui, desainer Indonesia mulai banyak yang memiliki kesadaran untuk mengangkat kebudayaan baik tenun maupun batik.

“Kain tenun memang dikenal sebagai kain yang tebal sehingga kurang efisien jika digunakan untuk busana siap pakai. Namun, hal itu dapat disiasati dengan spinning benang sehingga dapat mengubah benang yang tebal menjadi lebih tipis. Selain itu benang juga lebih panjang dan tidak mudah putus,” jelasnya.

Lebih lanjut, Poppy mengatakan, beberapa daerah memiliki teknologi tersebut tetapi tidak dapat dilepaskan dari bantuan pemerintah. Bantuan itu diperlukan karena material benang masih begitu mahal dan dipasok oleh kelompok tertentu saja.

Dia mengharapkan agar pemerintah dapat membantu menyiapkan jalur distribusi yang benar sehingga tidak bergantung pada satu kelompok yang membuat harga tenun di Indonesia menjadi lebih mahal jika dibandingkan negara tetangga seperti Laos, Myanmar, Thailand.

Salah satu nama desainer yang berkreasi dengan bahan tenun adalah Didiet Maulana. Melalui koleksi Spring Summer 2018, Didiet mendobrak pemikiran bahwa kain tenun hanya pantas digunakan oleh orang tua.

Didiet mengemas kain tenun menjadi busana yang berjiwa muda. Dia mengaplikasikan tenun dalam potongan busana loose fit, cropped top, wide pants, dan camp-collar shirt. Dia juga membuat jaket denim yang dipadukan dengan potongan busana tenun ikat.

Koleksinya mengangkat tajuk Surya, berupa koleksi pakaian renang dengan model two-piece dan one pice dengan motif tenun. “Bahan yang digunakan untuk baju renang tersebut, tetap menggunakan bahan baju renang tetapi bermotif tenun.”

Lekat

Desainer lain yang mengangkat wastra (kain tradisional Indonesia yang memiliki makna dan simbol tersendiri) tenun adalah Amanda Indah Lestari. Creative Director LEKAT ini selama 4 tahun konsisten menjadikan tenun Baduy sebagai bahan utama.

Amanda mengatakan, kain tenun khas Suku Baduy masih belum banyak digunakan oleh desainer. Hal ini membuatnya tertantang untuk memilih material ini. “Desainer banyak yang mengambil material dari luar pulau Jawa. Padahal di Banten banyak bahan menarik, dan belum banyak dieksplorasi,” tuturnya.

Dia mengatakan, kain tenun Baduy memiliki ciri khas yakni lebih ringan dan memiliki motif geometris yang lebih menarik. Ciri khas ini dijadikan Amanda sebagai kekhasan dari busana yang diusung dengan bendera Lekat.