Bergaya dengan Tas Karakter dari Imokey

Ridhani Sabrina (Arin), menunjukkan tas koleksi Imokey di galerinya di Gang Alamanda No.3, Jalan Afandi, Gejayan, Depok, Sleman, belum lama ini. - Harian Jogja/Bernadheta Dian Sarasawati
14 Juni 2018 16:35 WIB Bernadheta Dian Saraswati Lifestyle Share :
Adplus Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJA—Jogja memiliki segudang pebisnis kreatif yang saling berlomba menghadirkan produk yang eksklusif. Begitu juga dengan Ridhani Sabrina. Kendati mengangkat bisnis tas dari bahan simpel yaitu kanvas yang gampang ada dimana-mana, konsep bisnis dan model tasnya dibuat berbeda.

Arin, begitu nama panggilan perempuan 23 tahun asal Cilacap ini, baru saja melakukan soft opening galeri tasnya pada akhir Mei kemarin. Galeri yang dinamai Imokey itu ada di gang Alamanda, Jalan Afandi, Depok, Sleman.

Galeri ini ia dirikan setelah menjalani bisnis tas kanvas sejak 1,5 tahun silam. Awal mula berbisnis dimulai dari media online. Facebook, Instagram dan marketplace online ia jadikan lapaknya. Lantaran banyak pelanggan yang penasaran dengan galerinya, Arin pun tergerak untuk membuka toko offline.

Mimpi Arin akhirnya terpenuhi. Dengan menyewa ruko dan ia sulap jadi galerinya, ia bisa memberikan layanan yang lebih baik kepada pelanggan. Di dalam galeri yang di-setting dengan gaya minimalis 1990-an itu, perempuan asal Cilacap, Jawa Tengah yang saat ini sedang menempuh studi S-2 di Universitas Gadjah Mada ini memajang seluruh model tas buatannya yang dilabeli Imokey itu.

Nama model-model itu antara lain Imo, tas sporty dan berjiwa adventure dengan harga Rp135.000; Orbit, tas besar untuk sekolah harga Rp150.000; Swing, tas selempang untuk santai harga Rp95.000; Cattitude, tas dengan simbol kucing harga Rp130.000; Fancy kecil Rp120.000; dan Hobo, tas yang terinspirasi dari Thailand harga Rp135.000. Selain tas, ada pula kaus sambung Rp135.000.

“Kalau nama Imokey itu supaya brand-nya eyecatching dan mudah diingat. Imokey dari kata oke oke. Kalau model tasnya memang sengaja kami beri nama satu-satu supaya tidak hanya sekadar nomor kode saja,” kata Arin ditemui di galerinya, belum lama ini.

Bisnis tas itu muncul setelah Arin lulus S-1 Manajemen di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Saat itu, ia tidak ingin bekerja kendati ia pernah melamar marketing di salah satu perusahaan di Jogja. Ketertarikannya terhadap dunia fesyen membuat Arin tergerak membuka bisnis tas.

Arin dan satu temannya akhirnya jalan-jalan ke Bandung untuk mencari referensi. Di sana ia menemukan penjahit yang menghasilkan tas dengan jahitan yang rapi dan murah. Keduanya langsung membelanjakan uang Rp500.000 sebagai modal awal.

“Rp500.000 dapat banyak karena saat itu harga per tas hanya Rp25.000an. Tas itu murah tapi saya ingin ngasih value lagi agar enggak murahan,” kata Arin.

Untuk memberi tambahan nilai pada tas itu, Arin membuat pom-pom dari benang wol untuk ditambahkan sebagai aksesoris pada tas itu. Bisnis laris manis, tetapi sang partner akhirnya berhenti melakukan kerjasama setelah bisnis berjalan sebulan. Arin akhirnya menekuni bisnisnya bersama sang kekasih, Naufal Nusidiq, 24.

 

Banyak Digemari

Semakin hari produk tasnya semakin digemari. Arin pun akhirnya mencari penjahit dari Jogja agar bisa terus mengontrol cara kerjanya. Mulai saat itu, Arin membuat desain tas sendiri dan tinggal dijahitkan kepada penjahitnya di daerah Wirosaban.

“Model tas Imokey ini simpel, basic, tetapi ada aura kekiniannya. Kita kembali ke era 1990an tetapi tetap sentuhannya modern,” tutur Arin.

Ia memilih bahan tas dari kanvas kelas medium agar mampu merambah ke kalangan SMA sampai mahasiswa. Harganya dipatok mulai Rp95.000-Rp150.000. Jika harus menggunakan bahan kelas premium, maka harga jual juga akan mengikuti tinggi.

 

 

Adplus Tokopedia