Suhu Dingin Jadi Tidak Merasa Haus, Tetap Harus Minum, Ini Alasannya

Warga menutup sinar matahari yang menyinari muka saat matahari bersinar terik di musim kemarau. - Harian Jogja/Nina Atmasari
07 Juli 2018 13:37 WIB Salsabila Annisa Azmi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Penurunan suhu di DIY dan Jateng disebabkan karena peralihan dari puncak musim kemarau menuju musim hujan. Kondisi cuaca seperti saat ini rentan membuat daya tahan tubuh menurun.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Fita Yulia mengatakan saat ini suhu di DIY sangat panas pada siang hari namun udaranya dingin. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar orang tidak merasa haus. Padahal manusia tetap membutuhkan cairan meskipun tidak berkeringat terlalu banyak.

"Tetap harus dijaga [daya tahan tubuhnya] dengan minum air putih yang banyak. Apalagi cuaca seperti ini rentan menumbuhkan virus influenza dan batuk," kata Fita melalui sambungan telepon, Sabtu (7/6/2018).

Fita mengatakan akhir-akhir ini saat tengah hari udara menjadi kering. Sehingga menyebabkan banyak debu di udara. Menurut Fita hal tersebut dapat menyebabkan penyakit pencernaan seperti diare dan penyakit mata.

Lebih jauh Fita berpesan pada masyarakat agar rutin minum air putih 2 liter sehari dan memperhatikan asupan gizi yang ada dalam makanan. "Tidak harus 4 sehat 5 sempurna tidak apa-apa, yang penting asupan gizi yang masuk harus sesuai dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan.

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY I Nyoman Sukanta mengatakan saat ini DIY-Jateng masih proses menuju akhir musim kemarau.

"Suhu akan mulai kembali normal seiring dengan berakhirnya puncak musim kemarau atau mau mendekati awal musim hujan. Setiap wilayah akan berbeda-beda kapan mulainya. Untuk wilayah DIY dan Jateng sekitar Agustus akhir atau awal September," kata Nyoman melalui sambungan telepon, Sabtu (7/6/2018).

Nyoman mengatakan penurunan suhu pada Juli belakangan dominan disebabkan karena dalam beberapa hari terakhir di wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT kandungan uap di atmosfer cukup sedikit.

"Yang bikin siang panas sekali, malam dingin sekali itu ya karena uap di langit sedikit, ibaratnya bumi tidak memiliki 'selimut' untuk melindungi kita dari panas matahari dan cuaca dingin malam hari," katanya.