Pilih Pengasuh Anak agar Tak Khawatir, Ada Kiatnya

Ilustrasi anak dan orang tua - Reuters
31 Juli 2018 15:35 WIB Dewi Andriani Lifestyle Share :
Adplus Tokopedia

Harianjogja.com, JAKARTA-Tak masalah jika harus terpaksa menggunakan jasa baby sitter atau pengasuh bayi. Namun Anda harus tetap memilih dengan detail, sebab kepada merekalah anak Anda diserahkan untuk diasuh.

Setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi buah hatinya. Menjaga, merawat, dan melihat tumbuh kembang anak setiap saat menjadi momen yang sangat menyenangkan.

Namun, bagaimana jika ibu harus bekerja untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga? Mau tidak mau, anak harus dititipkan.

Ada beberapa pilihan yang dapat diambil oleh orang tua. Pertama, dititipkan kepada keluarga seperti kakek, nenek, tante, atau ipar. Kedua, menitipkan anak di tempat penitipan anak atau day care. Ketiga, mempekerjakan seorang pengasuh atau baby sitter.

Tidak sedikit orang tua yang mempekerjakan pengasuh untuk menjaga dan merawat anaknya. Perasaan was-was atau khawatir bisa saja timbul ketika anak dititipkan kepada orang yang baru dikenal. Oleh karena itulah, orang tua harus benar-benar bijak dan perlu mempertimbangkan berbagai hal sebelum memilih pengasuh.

Sebab, jika tepat memilih pengasuh maka akan sangat membantu perkembangan anak secara optimal. Sebaliknya, jika salah memilih pengasuh, akan berdampak secara jangka panjang bagi kehidupan anak.

Rahmi Dahnan, psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati mengatakan di dalam memilih pengasuh, hal utama yang harus diketahui orang tua adalah latar belakang pengasuh tersebut, serta siapa pihak yang mereferensikannya.

Jika pun harus mencari dari yayasan, maka carilah yayasan yang sudah kredibel dan bertanggung jawab atau risiko yang mungkin terjadi.

“Karena sangat riskan meninggalkan anak dengan orang yang tidak dikenal. Kita perlu lakukan wawancara singkat sebelum pengasuh masuk ke rumah kita. Misalnya, bagaimana proses pengasuhan orang tuanya dulu. Apakah dia dekat dengan orang tuanya atau tidak, apakah dia pernah mengalami trauma atau tidak,” ujarnya.

Dari pertanyaan-pertanyaan singkat tersebut, orang tua dapat menilai dan melihat kepribadiannya. Sebab, jika di masa kecil pengasuh tersebut pernah mengalami trauma atau memiliki hubungan yang buruk dengan kedua orang tuanya, hal tersebut akan berpengaruh terhadap pola pengasuhan yang dia lakukan kepada anak kita.

Selain itu, yang tidak kalah penting orang tua perlu mencermati kesehatan, karakter, dan pola pikir pengasuh. Jika dia memahami pentingnya menjaga kesehatan maka dia akan mampu menjaga kebersihan dan kesehatan anak.

Adapun dari segi karakter, seorang pengasuh sebaiknya memiliki sifat yang ceria, sabar, jujur, penyayang, serta memiliki pemikiran yang terbuka untuk mau mempelajari aturan atau pola asuh yang akan kita terapkan pada anak.

Biasanya, pengasuh yang sudah lebih berpengalaman memiliki gaya pengasuhannya sendiri sehingga orang tua lebih sulit melakukan intervensi.

Adapun yang belum berpengalaman, akan lebih terbuka dan orang tua lebih mudah melatih pengasuh tersebut mengenai pola asuh atau peraturan yang sesuai keinginan orang tua.

GUNAKAN INSTING

Sementara itu, Febrizky Yahya, pengurus Komunitas Parenting Rangkul mengatakan bahwa dalam memilih pengasuh seorang ibu dapat menggunakan feeling atau instingnya. Jika dari awal sudah merasa kurang sreg atau kurang pas, maka jangan diteruskan.

“Biasanya anak juga ada feeling sendiri. Ketika dia menolak untuk diajak bermain sama pengasuh atau nangis terus. Ternyata karena pengasuh tersebut mungkin tidak sabaran dengan anak atau mudah emosi,” ujarnya.

Ketika sudah mendapatkan pengasuh yang cocok, maka orang tua harus tegas dalam memberikan aturan-aturan yang dilakukan dalam pengasuhan anak. Misalnya ketika anak menangis jangan langsung digendong, atau anak tidak boleh nonton TV setelah lewat jam tertentu.

Orang tua juga jangan terlalu membedakan sikap dan perilaku kepada pengasuh, jadikan mereka seperti bagian dari anggota keluarga sehingga dia akan merasa nyaman. Jika nyaman, maka akan berdampak pada cara pengasuhannya kepada anak kita.

“Harus jadi satu kesatuan, kalau perlu ajak pengasuh bermain bersama,” ujar wanita yang juga menjadi Putri Wirausaha Kreatif 2012.

Senada disampaikan Rahmi yang mengatakan bahwa orang tua perlu menjalin komunikasi yang baik dengan pengasuh.

“Kita juga harus memanusiakan pengasuh, beri dia hadiah-hadiah tertentu untuk melunakan hatinya sehingga dia merasa senang bekerja dengan kita,” ujarnya.

Jika komunikasi lancar, maka berbagai aturan atau pola asuh yang ingin kita terapkan kepada anak dapat dijalankan dengan baik oleh pengasuh. Termasuk dalam hal pemberian jadwal atau kegiatan harian yang dilakukan oleh anak.

“Pengasuh harus dapat mengikuti jadwal harian yang diberikan. Misalnya kapan waktunya mandi, bermain, dan makan.”

Namun, jika seorang pengasuh yang sudah dipekerjakan menunjukan sifat dan perilaku yang kurang baik sehingga menyebabkan anak merasa ketakutan atau sering menangis ketika bersama pengasuh, maka hal tersebut perlu dievaluasi ulang.

Selain itu, orang tua juga perlu waspada jika pengasuh sudah mulai merasa paling tahu dan tidak peduli dengan arahan yang disampaikan, apalagi sampai melakukan kekerasan pada anak maka bisa menjadi tandatanda untuk segera mencari pengasuh yang baru.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Adplus Tokopedia