Kebanyakan Main Gadget Picu Kerusakan Sel Saraf

Ilustrasi ponsel pintar - Reuters
07 Agustus 2018 18:35 WIB Mia Chitra Dinisari Lifestyle Share :
Adplus Tokopedia

Harianjogja.com, JAKARTA - Lagi-lagi gadget membawa dampak negatif.  Pernahkah Anda mengalami kebas atau kesemutan yang tiba-tiba datang ketika beraktivitas?

Jika hal ini sering terjadi, ada baiknya Anda mulai mewaspadai hal tersebut. Karena jika dibiarkan, kondisi ini bisa membuat saraf Anda mati rasa, sehingga anggota tubuh Anda bisa tidak merasakan apapun lagi.

Kesemutan dan kebas yang sering muncul bisa jadi pertanda Anda mengalami neuropati atau gangguan saraf. Dan mengerikannya lagi, masalah tersebut saat ini bukan hanya dialami usia tua saja, namun juga sudah merambah ke generasi aktif yang berusia 26-30 tahun.

Awalnya, mungkin hanya Anda akan merasakan kesemutan atau kebas sewaktu-waktu saja, namun kemudian jika memburuk dan tidak dicegah serta ditangani dengan tepat bisa merusak seluruh sel saraf Anda dan bisa berakibat kelumpuhan.

Lantas, apa saja pemicunya? Gaya hidup sehari-hari menjadi penyebab. Dan menariknya, ternyata pemakaian gadget berlebihan menjadi pemicu terbesar saat ini.

Berdasarkan penelitian NENOIN yang dilakukan MERCK merupakan Studi Klinis mengenai kesehatan saraf tepi yang pertama kali diadakan di Indonesia menunjukkan bahwa gadget menyumbang 61,5% penyebab orang mengalami neuropati. Kemudian, neuropati juga disebabkan oleh mengendarai motor atau mobil (58,5%), duduk dengan posisi sama dalam waktu yang lama (53,7%), dan mengetik dengan komputer (52,8%)1.

Selain gaya hidup, kekurangan konsumsi vitamin B juga menjadi penyebab utama terjadinya neuropati ini. Berdasarkan riset tersebut, tercatat hanya 30,2% orang yang mengonsumsi vitamin B.

Hasil penelitian itu juga menyebutkan neuropati dapat dicegah dan diobati sebelum menjadi fatal. Untuk upaya pencegahan, jalani gaya hidup sehat, olah raga teratur, istirahat yang cukup, pola makan dengan gizi seimbang dan konsumsi vitamin neurotropik 1 x sehari sejak dini secara teratur atau sesuai petunjuk dokter.

Penelitian tersebut  telah dipublikasikan di Asian Journal of Medical Sciences 2018. Nenoin dilakukan di 8 kota melibatkan 411 pasien yang mengalami gejala neuropati ringan sampai sedang dari etiologi yang berbeda. Jadi sangat dapat dipercaya dan representatif terhadap masyarakat Indonesia.

dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat yang juga konsultan neurologis dari Departement Neurologi FKUI/RSCM mengatakan, neuropati memberikan beragam ketidaknyamanan dalam beraktivitas sehari-hari.

Jika dibiarkan, gejala neuropati seperti kram, kebas dan kesemutan dapat menetap dan mengarah pada kelumpuhan. Saraf dengan kerusakan lebih dari 50% sudah tidak dapat diperbaiki.

Salah satu contoh kerusakan saraf adalah Carpal Tunnel Syndrome(CTS). CTS dengan kondisi parah dapat menyebabkan rasa nyeri dengan frekuensi serangan yang semakin sering bahkan menetap.

"Rasa nyeri tersebut dapat membuat fungsi tangan menjadi terbatas, sehingga dapat menimbulkan kelumpuhan otot dan mengakibatkan kecacatan yang berpengaruh pada pekerjaan penderita . Dari fisik terlihat, tergantung dari jenis saraf yang terkena, bila saraf tangan yang terkena dan tidak mendapatkan pengobatan yang baik maka telapak dan jari-jari tangan menjadi melengkung.” ujarnya dalam peluncuran wajah baru Neurobion di Jakarta.

Lebih lanjut Dr Manfaluthy mengatakan, infeksi akibat neuropati banyak dialami oleh mereka yang mengalami kebas atau mati rasa atau baal sehingga tidak terasa ketika luka. Luka yang terjadi sangat mungkin terkena infeksi. Infeksi semakin parah ketika dialami oleh penderita diabetes.

"Pada penderita diabetes, angka prevalensi neuropati meningkat menjadi 50% atau 1 dari 2 penderita. Penurunan kualitas hidup terjadi ketika intensitas terjadinya gejala-gejala neuropati semakin sering," tambahnya.

dr Yoska – Medical Manager Merck Consumer Health, mengatakan salah satu cara mengatasi masalah neuropati adalah dengan mengonsumsi vitamin Neurotropik yang tidak hanya untuk mencegah namun juga bisa mengurangi gejala kerusakan saraf tepi sepeti kesemutan dan kebas hingga 62.9% dalam 3 bulan periode konsumsi.

"Vitamin neurotropik keluaran Neurobion ini terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 yang berfungsi memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf, dan memberikan asupan yang dibutuhkan supaya saraf dapat bekerja dengan baik," ujarnya.

Dia menjelaskan penggunaan suplemen neuropati untuk pengobatan umumnya dilakukan dalam tiga bulan, kemudian bisa dilanjutkan dengan suplemen untuk pencegahan ke depannya.

 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Adplus Tokopedia