Bergabung Jogja Flying Metal, Dilarang Bermain saat Marah

Anggota JFM bersama para pelempar pisau se-Indonesia belum lama ini - ist/JFM
08 Agustus 2018 17:35 WIB Salsabila Annisa Azmi Lifestyle Share :
Adplus Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJA—Pisau adalah benda tajam berbahaya jika tidak digunakan hati-hati. Beberapa orang mengoleksinya sebagai benda kesayangan. Namun mereka kemudian berpikir pisau tak bisa jadi sekadar pajangan. Dari pisau itulah muncul komunitas olah raga lempar pisau.

Lima orang  founder Jogja Flying Metal (JFM) awalnya hanya gemar mengoleksi berbagai jenis pisau. Lama kelamaan, Victor MH, salah satu founder merasa bahwa pisau itu tak cukup hanya jadi sekedar pajangan. Victor pun mulai mengajak teman-temannya melemparkan pisau-pisau itu ke beberapa sasaran. “Sebenarnya lempar pisau itu bisa melatih ketepatan dan konsentrasi. Kami berlima belajar lempar pisau otodidak,” kata Victor kepada Harian Jogja belum lama ini.

Komunitas JFM biasanya berkumpul di gerai Sugara Milk Jalan Wirosaban setiap hari Rabu atau Sabtu. Berbagai profesi, selepas bekerja, biasanya bermain lempar pisau di Sugara Milk. Di sana telah disiapkan beberapa sasaran pisau. Tak hanya anggota yang boleh mencoba merasakan sensasi olah raga lempar pisau, para pengunjung Sugara Milk juga dapat merasakan olah raga tersebut. Syaratnya harus ada instruktur dari anggota JFM yang mendampingi.

Victor mengatakan untuk melempar pisau harus ada jarak dan berat yang terstandar dari instruktur demi alasan keamanan. Pasalnya, semakin ringan sebuah pisau lempar, semakin jauh jarak pelempar dengan sasarannya.

Untuk melatih konsentrasi dan ketepatan sasaran, biasanya lempar pisau diawali dengan jarak sasaran yang pendek. Tahap awal, pelempar tidak perlu membuat pisau menancap di sasaran, cukup pisau tersebut dapat mengenai sasaran.

“Masyarakat boleh coba juga, asal ada instrukturnya. Karena terkadang pisau itu terpental kalau lemparannya masih terlalu kencang dan belum stabil. Kami ada istilah hold and clear, jadi kalau ada yang melempar pisau, tidak boleh ada yang membungkuk mengambil pisau, semua itu butuh instruktur yang mengarahkan,” kata Victor.

Victor mengatakan proses berlatih memfokuskan lemparan pisau tepat pada sasaran dan memperhitungkan jarak dengan kecepatan lemparan akan melatih kekuatan konsentrasi dan mengurangi ketegangan. Sebab dalam olah raga lempar pisau, dilarang keras bermain dalam kondisi psikis yang sedang marah atau tegang.

Kualitas Mental

Salah satu anggota JFM yang juga seorang fisioterapis, Daru Kumoro Jati mengatakan olah raga lempar pisau memengaruhi kualitas mentalnya dalam kehidupan sehari-hari. Terbiasa fokus pada sasaran dan memperhitungkan jarak lempar, membuat keseharian Daru jadi lebih konsentrasi dan tenang.

“Saya kan fisioterapis, terkadang kalau ada pasien saya kondisinya memburuk, saya jadi kepikiran, tetapi saat olah raga lempar pisau pikiran saya terfokus ke sasaran jadi tidak sempat memikirkan masalah itu, intinya mengurangi stres,” kata Daru.

Daru mengatakan jika ada masyarakat umum yang baru bergabung, mereka tidak diperkenankan memilih pisau mereka sendiri. Sebab untuk ukuran pemula ada jarak dan standar berat pisau yang harus dipatuhi. Apabila anggota melanggar, maka akan segera dicoret karena akan membahayakan anggota lain.

JFM, menurut Daru terbagi atas beberapa jenis instruktur. Pertama instruktur kesehatan atau fisioterapi, instruktur lemparan, dan instruktur peraturan lapangan mengenai jarak dan berat pisau. Instruktur pun memiliki tingkatannya masing-masing.

“Ada instruktur muda dan instruktur madya, untuk naik ke tingkatan instruktur lebih tinggi, nanti akan ada ujian-ujiannya. Ujiannya cukup ketat, ingat, safety first,” kata Daru.

Adplus Tokopedia