Mendeteksi dan Menghindari Pergaulan Tak Sehat

Ilustrasi pertemanan - Reuters
08 Agustus 2018 18:35 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Banyak orang terjebak dalam lingkup pergaulan yang tidak sehat. Mereka jamak berhubungan dengan orang dekat yang beracun bagi kondisi psikologis alias toxic friend. Barangkali tidak semua menyadarinya. Namun ciri-cirinya gampang dikenali dan dekat dengan keseharian.

Siapapun sumber persoalannya baik teman, rekan kerja, pasangan, bahkan orang tua tanpa disadari membuat hati kita terluka. Terlebih saat beberapa orang terdekat yang disebutkan tadi bersikap manipulatif, menindas, kelewat agresif, atau narsis. Celakanya, kita acapkali tersadar kondisi tersebut tidak sehat. Namun sulit keluar dari jerat lingkar pergaulan itu.

Bagi yang secara mental belum cukup kuat, terdapat beberapa strategi untuk menghadapi lingkungan sekitar yang kurang sehat, berikut ini kiatnya:

  1. Kenali kelemahan kita sehingga rentan jadi sasaran

Ada kalanya kita mengorbankan perasaan sendiri saat perasaan teman sedang buruk. Akhirnya kita rela menyenang-nyenangkan teman tersebut karena takut membuat dia tidak nyaman. Interaksi semacam ini tanpa sadar menimbulkan pola berulang. Kebiasaan merasa gampang tidak enak hati ini juga menimbulkan orang lain gampang mengontrol diri kita dengan kekuatan atau kelemahan mereka. Tentu saja demi menebus perhatian semu mereka.

  1. Pahami reaksi kita

Takar reaksi kita saat relasi bermasalah, apakah cenderung berlebihan atau kurang. Seseorang bisa terus-menerus mengintimidasi atau menganggap rendah kita karena kita tunjukkan cenderung datar atau tidak bereaksi saat ada masalah. Ada juga tipe yang gampang cemas dan bereaksi berlebihan ketika diberi masalah. Hal ini tanpa sadar menyuburkan jiwa narsis penindas untuk terus melanggengkan tradisi menindas. Untuk mengantisipasinya, kita bisa menyiapkan respons tegas misalkan gertak mereka atau bilang kita tidak suka dengan perlakuan menindas semacam itu.

  1. Percaya pada nurani

Alasan orang memilih hidup dalam lingkar pergaulan beracun lantaran minimnya kepercayaan diri. Jika posisi kita saat ini selalu merasionalkan hubungan tidak sehat atau belum mengetahui sia-sianya hidup penuh keraguan pada diri sendiri, maka inilah saat paling pas untuk berhenti. Saatnya mengembalikan kepercayaan penuh pada nurani untuk hidup dengan lingkar pergaulan lebih sehat. Tak perlu takut kehilangan relasi dan ancaman kesendirian. Jika merasa berat meninggalkan lingkungan tidak sehat tersebut, coba pertimbangkan pencapaian anda bisa mengenal diri sendiri lebih baik saat ini jika tidak bersama mereka.

  1. Tegaskan batasan dan ancang-ancang keluar

Jika orang yang “beracun” tidak bisa kita hindari misalkan rekan kerja, tetangga, ibu mertua, atau teman dalam satu lingkar pergaulan, yang perlu kita lakukan adalah menegaskan batasan perilaku yang ditoleransi dan jenis kontak. Banyak orang sulit menakar kadar negosiasinya. Tapi yang perlu diingat, tidak perlu kasar atau main tuduh. Yang paling penting adalah bersikap tegas. Misalkan di tempat kerja, kita bisa bilang tidak keberatan dengan kritik namun tidak perlu mengurusi persoalan berat badan. Karena berat badan tidak ada hubungannya dengan kinerja. Atau kepada mertua yang membuat bahan guyonan soal tagihan belanja, kita bisa bilang kalau itu tidak lucu. Sampaikan dengan sopan kita mungkin bukan pengurus rumah tangga terbaik namun keluarga kita berkembang ke arah positif. Untuk teman yang menyebalkan, kita tinggal pasang keberanian untuk meninggalkan mereka. Tidak ada kata toleransi untuk setiap tindakan yang konsisten merendahan, meremehkan, atau memarjinalkan.

Sumber : JIBI/Solopos/reachout.com/psychologytoday.com