Dian Pelangi Persembahkan Gaya Retro

JIBI/Bisnis Indonesia
31 Agustus 2018 17:35 WIB Asteria Desi Kartika Sari Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Retro style menjadi garis desain perancang busana Dian Pelangi dalam koleksi busana siap pakai teranyarnya. Bertajuk Persona, gaya tersebut diterjemahkannya melalui palet warna netral nan bold seperti biru dongker, hijau, kuning, juga abu-abu. Terselip juga sentuhan aksen warna pink dan putih yang menjadi paduan untuk memperkuat sisi feminin dan misterius.

Tanpa meninggalkan signature Dian Pelangi yang selalu membawa nama wastra batik, kali ini perempuan 27 tahun itu menuangkan motif batik kontemporer dalam busana siap pakai ini. Ragam dari motif tersebut terinspirasi dari benda-benda yang bergaya retro, seperti piringan hitam, radio, geometris, pita kaset, garis, dan street art London yang dituangkan di atas bahan tile dan vinyl.

Titel Persona kali ini melambangkan kekuatan karakter dan pribadi desainer bernama lengkap Dian Wahyu Utami yang dapat dilihat dari pemilihan warna dan dominasi batik abstrak kontemporer.

“Inspirasi aku sebenarnya simpel, sih, dari interior. Aku sering travelling, dan suka eksplorasi tempat-tempat baru yang lagi hits. Rata-rata aku lihat interiornya mid-centuries,” kata Dian.

Setelah memperkenalkan label Dian Pelangi Nom dalam presentasi rebranding pada 2017 lalu, untuk pertama kalinya ia meluncurkan koleksi ready to wear yang terdiri dari 10 looks yang belum lama ini ditampilkan dalam Jakarta Modest Fashion Week 2018 di Gandaria City.

Koleksi modest wear dari Dian Pelangi ini merupakan look yang dibawa ke San Fransisco untuk pemotretan bersama dengan model berhijab internasional, Halima Aden. “Jadi, koleksi saya ini juga akan dibawa ke de Young Museum di Contemporary Muslim Fashions pada bulan September nanti,” jelas desainer berdarah Palembang.

Tampilan ini berbeda dengan koleksi Dian Pelangi sebelumnya yang menggunakan tenun. Pasalnya, busana kali ini diranjang dengan konsep daily wear yang lebih simpel maka material yang dipilih adalah katun dan viscose.

“Biasanya bahan-bahannya menggunakan songket, tenun, sekarang [koleksi Persona] lebih ke katun, ATBM, sehingga koleksi bisa dipakai ke daily wear,” kata dia.

Dian melanjutkan, akan semakin memperkuat kesan retro akan ditampilkan melalui permainan cutting dan siluet A-line, ruffles, double layer serta permainan aksen tali dalam beberapa busana.

Semakin melengkapi tampilan chick Persona, Dian menambahkan 10 aksesori dari label lokal yang tetap memunculkan kesan shiny look. “Aksesori kental dengan retro style dan warna-warni feminisme yang sesuai dengan konsep persona, tapi juga tetap ada aksesori yang blink-blink,” katanya.

Potongan busana ready to wear milik desainer berprestasi itu sebelumnya telah dipamerkan dalam New York Fashion Week 2018. Pada saat itu, Dian menyelipkan grafis grafiti agar terlihat artsy. Pasalnya, menurutnya masyarakat New York memiliki selera seni yang beragam.

Melalui busana siap pakainya, dia berharap dapat memberikan keragaman busana muslim modern. Selain itu, dia juga berharap bisa menjadi representasi dari wajah Muslimah. Atas prestasinya, dia juga dibanjiri pujian dari pencinta fesyen di media sosial atas usahanya untuk menunjukan hijab bisa membuat penampilan terlihat cantik.

“Kami tidak tertindas dan kami hanya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kita bisa cantik dan tetap bergaya dengan jilbab,” katanya.

Atas prestasi itu, tak heran Dian menjadi satu dari 30 orang berusia di bawah 30 tahun yang dinilai paling berprestasi dan berpengaruh di Asia menurut Forbes 2018. Nama Dian Pelangi masuk dalam kategori ‘The Art’ dan ‘Celebrities’ lantaran dianggap mampu membawa modernitas ke pasar mode, khususnya busana bersahaja dan jilbab.

Dia mampu menyisihkan lebih dari 2.000 nama lainnya dari berbagai negara di Asia dan Australia. Melalui akun Instagramnya pun Dian memberikan tanggapan terkait hal tersebut.

“Bisa. Walau tangan dan lutut gemetar. Walau gigi gemeretak dan suara parau. Walau jantung berdegup dan mata kunang-kunang. Kamu bisa. Lulusan pesantren dan SMK tata busana yang nggak punya gelar apa-apa di belakang namanya ini aja bisa. Kamu pasti lebih bisa,” tulisnya.