KOMUNITAS: YFCC DIY Merespons Perubahan Iklim, Menampung Anak Muda

YFCC DIY saat Hari Bumi, Sabtu 28 April 2018 dengan Kemangteer Jogja. - ist/YFCC DIY
14 Oktober 2018 10:35 WIB Lajeng Padmaratri Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Isu lingkungan beberapa tahun ini menjadi perhatian banyak orang. Tak terkecuali oleh anak muda. Melalui komunitas Youth for Climate Change (YFCC), generasi muda di Indonesia merespons perubahan iklim dengan mengedukasi masyarakat untuk melakukan mitigasi perubahan iklim melalui gaya hidup sehari-hari.

Pada mulanya komunitas YFCC terbentuk melalui Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) saat pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 4 Juli 2008. Salah satu kegiatan yang diselenggarakan DNPI pada masa itu ialah mengadakan Youth for Climate Camp pada 28-30 Oktober 2011 di Bukit Golf, Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Hingga 2013, kegiatan camping ini berlangsung rutin setiap tahun. Setelah menghasilkan banyak alumni dari seluruh Indonesia, semangat Youth for Climate Change mulai menyebar ke daerah lain, salah satunya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Beberapa alumni YFCC dari DIY kemudian memprakarsai terbentuknya YFCC DIY pada 10 November 2013. Bertepatan pada momen peringatan Hari Pahlawan Nasional itu, Hendri Bagus Setiawan dan kawan-kawan menggelar aksi pungut sampah di kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Meski sempat vakum pada awal 2014, YFCC DIY lahir kembali melalui Youth for Climate Camp 2014 yang berlangsung di Bogor, Jawa Barat. Tak hanya DIY, beberapa komunitas regional dari YFCC Indonesia mulai dibentuk untuk menginisiasi gerakan di daerah, beberapa di antaranya yaitu YFCC Jambi dan YFCC Jawa Timur.

Ketua YFCC DIY periode 2018-2019, Andrean Aldi Wijaya menjelaskan bahwa saat ini YFCC DIY telah menjadi komunitas yang bergerak secara mandiri. “Sempat dinaungi oleh Dinas Lingkungan Hidup, tetapi sekarang kami sudah berjalan sendiri,” jelasnya kepada Harian Jogja belum lama ini. 

Komunitas ini juga telah lepas dari Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) sebab DNPI dibubarkan melalui Perpres No.16/ 2015.

Kini kegiatan YFCC DIY dijalankan oleh 30 sukarelawan yang umumnya terdiri dari mahasiswa. Mulai dari mengadakan kampanye, seminar, hingga kolaborasi dengan komunitas lain coba YFCC lakukan untuk menyadarkan masyarakat terkait perubahan iklim dan sadar lingkungan.

“Kegiatan kami sebenarnya banyak yang kolaborasi, meskipun ada juga yang kami lakukan sendiri, yaitu YFCC goes to village, YFCC goes to school dan seminar,” jelas laki-laki yang masih menempuh studinya di Jurusan Psikologi, Universitas Mercu Buana, Jogja ini.

Ia menyebutkan, pada April 2018 lalu YFCC DIY baru saja menggelar acara penanaman bakau di Pantai Pasir Mendit, Kulon Progo. Kegiatan ini berkolaborasi dengan komunitas lingkungan lain yaitu Kemangteer.

Selain itu, YFCC DIY juga berpartisipasi dalam World Clean Up Day 2018 yang diselenggarakan di Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Bahkan, agenda makrab (malam keakraban) YFCC DIY juga diisi dengan kegiatan memungut sampah. “Waktu makrab di Pantai Slili kami mungut sampah juga,” ujar dia.

Mencintai Bumi

Tak hanya fokus ke pembersihan lingkungan, YFCC DIY juga berupaya mengenalkan pentingnya mencintai bumi kepada anak-anak. Andre menuturkan, tahun lalu komunitasnya mengenalkan tentang hidrogel ke siswa SDN Gejayan, Condongcatur, Sleman.

Hidrogel merupakan media tanam yang dinilai menarik bagi anak-anak. Butiran gel ini akan mengembang ketika direndam dengan air. Ketika sudah mengembang, anak-anak diajak untuk menanam sayur menggunakan media tersebut.

“Harapannya itu biar adik-adik suka menanam. Kan menarik, ya. Kami ajarkan karena bisa dilakukan di mana saja,” jelasnya.

Saat ini YFCC sedang mempersiapkan kampanye dalam rangka peringatan ulang tahun komunitas. “Kami sedang mencari isu lingkungan apa yang cocok,” kata dia.