Yuk Mulai Latih Anak agar Bebas dari Diaper

Ilustrasi bayi - Reuters
15 Oktober 2018 09:35 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Mengajarkan anak untuk mandiri untuk urusan buang hajat boleh jadi bagian terberat dari proses mengasuh anak di bawah lima tahun. Kepraktisan memberikan anak diaper membuat para orang tua dan buah hatinya nyaman tak perlu terus-menerus repot setiap kali buah hati kita buang air. Risiko boros finansial sampai ruam tak lagi jadi soal.

Kendati demikian, seiring pertambahan usia buah hati dituntut lebih mandiri untuk buang hajat. Sejumlah institusi prasekolah bahkan tidak memperbolehkan anak mengenakan diaper ke sekolah. Pada momentum itulah sejumlah orang tua mulai kelabakan mengajarkan anaknya.

Seperti dilansir raisedgood.com, melatih anak buang air secara mandiri bermanfaat untuk menciptakan koneksi bayi dengan orang tua. Selain itu, orang tua juga menghargai naluri bayi serta membantu kita memahami anak. 

Penulis buku Go Diaper Free, Andrea Olsen, menyebutkan usia paling ideal untuk melatih anak mandiri buang air adalah saat bayi berumur 18 bulan. Sebenarnya tidak ada patokan baku. Ibu bisa melatih anak tidak mengompol atau buang air sembarangan sejak anak lahir.

Tapi beberapa menganggap pola asuh melepaskan anak dari diaper sekali pakai sejak bayi kelewat radikal. Sebelum benar-benar menerapkan langkah bebas diaper, berikut ini beberapa langkah-langkah yang bisa dijajal orang tua.  

Siapkan peralatan

Melatih anak buang air mandiri membutuhkan komitmen orang tua untuk bolak-balik menggendong, mengangkat, dan meletakkan anak di “toilet”nya. Siapkan dulu beberapa peralatan  salah satunya toilet untuk bayi (baby potty). Kebanyakan toilet mini ini dirancang untuk bayi lengkap dengan wadah penampungan khusus sehingga orang tua bisa langsung membuang kotoran ke toilet. Sebelum itu, orang tua bisa juga membiasakan anak menggunakan cloth diapers alias diaper yang bisa digunakan berulang. Berbeda dari diaper biasa yang langsung kering begitu terkena ompol, popok modern ini masih menyisakan sensasi basah sejenak untuk melatih anak supaya tidak nyaman buang air sembarangan. Selain itu, tetap sediakan diaper sekali pakai pada tahap awal untuk jaga-jaga pada malam hari. Peralatan wajib lain adalah perlak.

Observasi kebiasaan buah hati

Bayi secara konsisten memberikan sinyal ketika mereka lapar, kedinginan, ingin dibuat nyaman, termasuk buang air kecil atau besar. Seperti cara komunikasi lainnya yang dilakukan bayi, orang tua butuh waktu untuk memahami sinyal tersebut. Beberapa tanda paling umum antara lain menangis atau rewel, menggeram, wajah memerah, menyipitkan mata, menendang kaki atau memukul tangan, menggeliat, otot menegang di area perut, dan memegang area genital.

Waktu alamiah

Kebayakan bayi biasanya buang air tanpa bisa diprediksi sepanjang hari. Namun sejatinya kebiasaan tersebut bisa diajari secara alamiah. Umumnya, anak ingin berkemih atau buang air besar setelah bangun tidur, setelah menempuh perjalanan dengan kendaraan, selama atau setelah makan dan minum, serta saat ditaruh di kereta dorong atau dalam gendongan. Selain itu, latih insting orang tua untuk memahami kapan anak butuh buang air.

Kenalkan cara memberi tahu

Ketika kita mengobservasi bayi, kita bisa mulai mengenalkan cara kepada anak untuk berkomunikasi memberikan sinyal apakah mereka ingin pipis atau buang air besar. Bisa dengan kata “Hmmm” atau menggumam. Dengan cara seperti ini, bayi bisa mengasosiasikan suara kita dengan buang air. Kebiasaan tersebut bermanfaat buat orang tua segera membawa anak ke toiletnya.

Sumber : JIBI/Solopos/raisedgood.com