KOMUNITAS: Belajar Terbang Bersama Levitasi Hore

Karya foto anggota Komunitas Levitasi Hore - ist/Levitasi Hore
06 November 2018 10:35 WIB Lajeng Padmaratri Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Komunitas Levitasi Hore Jogja mempelajari teknik fotografi yang masih tren dan digandrungi anak muda yaitu teknik levitasi. Hasil karya seni visual ini menampilkan hal-hal yang mustahil dilakukan manusia, contohnya terbang.

Teknik levitasi dalam dunia fotografi memungkinkan obyek foto yang seolah-olah sedang melayang. Seni visual jenis ini bisa dihasilkan dengan proses manual maupun edit. Dalam proses manual, model foto akan melakukan lompatan untuk ditangkap gambarnya melalui kamera ketika melayang oleh fotografer. Teknik foto levitasi juga diperbolehkan untuk diedit dengan bantuan olah digital.

Teknik ini dipopulerkan oleh Natsumi Hayashi, fotografer asal Jepang yang mengunggah foto-foto levitasinya melalui situs pribadinya pada 2011.

Gaya berfoto ini kemudian populer di kalangan anak muda di berbagai negara, salah satunya di Indonesia. Anggun Adi atau yang akrab disapa Mas Goen kemudian mengumpulkan orang-orang yang memiliki minat fotografi melalui situs jejaring sosial Kaskus.

Tak lama, Komunitas Levitasi Hore terbentuk, kemudian bercabang di beberapa region, salah satunya di Kota Jogja.

Di Kota Pelajar ini, Levitasi Hore Jogja dimotori oleh kalangan mahasiswa. Aan Faizin N.H dari Amikom dan Ikhsan Bimo dari UNY merintis komunitas ini sejak 2012. Pada masa itu, teknik foto levitasi menjadi tren di kalangan penggemar fotografi.

“Belum gaul kalau belum pasang foto levitasi buat avatar BBM dan display picture Facebook waktu itu,” tutur Asabo Prabowo, Koordinator Levitasi Hore Jogja saat ditemui Harian Jogja belum lama ini.

Dalam berkarya, Levitasi Hore Jogja mencoba menghadirkan hasil foto yang cenderung dianggap sederhana. Mereka melakukan hal-hal biasa tetapi dilakukan secara levitasi, misalnya mendorong troli di swalayan namun dilakukan dalam posisi terbang. Meski begitu, dalam proses pengambilan fotonya tidak mudah karena harus berkali-kali pengambilan gambar hingga dianggap sudah menarik.

Komunitas yang mengusung tagline “Awake Dewe Mabur, Ora Mlumpat” ini kemudian memanfaatkan situs jejaring sosial untuk membagikan karya foto levitasi mereka. Pada mulanya mereka menjangkau massa melalui blog, Facebook dan Twitter. Seiring berjalannya waktu, Instagram dipilih karena di sanalah media sosial untuk seni visual berada.

Membawa kata “hore” untuk nama komunitas membuat Asabo dkk memilih berkegiatan dengan cara senang-senang. “Kami di komunitas have fun dengan hobi ini dan hore-hore aja,” kata dia.

Adakan Photowalk

Setiap tiga bulan sekali, komunitas ini memiliki kegiatan bernama photowalk. Di sini, para anggota akan melakukan photoshot sambil jalan-jalan ke destinasi yang telah ditentukan sebelumnya.

Lebih dari 20 anggota komunitas ambil bagian untuk kegiatan ini, baik itu menjadi model maupun menjadi fotografer. Salah satu anggota komunitas yaitu Hadi Wijoyo menuturkan bahwa memang tidak semua anggota berkenan jadi objek foto ataupun fotografer.

“Ada tipikal orang yang merasa bagus untuk difoto. Ada juga yang merasa nggak bagus difoto, misal dia kaku dan enggak enjoy itu bisa ngefoto,” jelas anggota yang sudah bergabung sejak 2014 ini.

Selain jalan-jalan sembari berfoto, Levitasi Hore Jogja juga memiliki agenda tiga bulanan lainnya yaitu klinik fotografi. Di sini, anggota akan belajar teknik fotografi yang lebih umum dan tidak melulu teknik levitasi.

“Orang umum juga boleh ikut,” kata Hadi. Pembicara yang dihadirkan juga dari kalangan fotografer yang sudah lama berkiprah di dunia fotografi.

Tak melulu dipamerkan melalui media sosial, karya para anggota Levitasi Hore Jogja juga kerap diikutkan dalam pameran fotografi. Komunitas ini sejak awal berdiri sampai 2016 mengisi salah satu booth di event Indie Clothing selama empat tahun berturut-turut di Jogja Expo Center.

“Pernah juga kami bikin pameran foto dalam rangka ulang tahun. Ulang tahun keempat dan kelima kemarin kami pameran di Omah Kopi,” kata dia.