PARENTING: Memanfaatkan Tantrum sebagai Ruang Edukasi

Ilustrasi anak-anak - Reuters
27 November 2018 10:35 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tantrum nyaris bikin semua orang tua frustasi. Seperti dilansir Kidshealth.org, tantrum bisa beragam rupa mulai merengek, menangis sampai berteriak, menendang, atau memukul. Perilaku tersebut sebenarnya umum bagi anak-anak berusia satu sampai tiga tahun. Yang membedakan cuma intensitasnya. Ada yang sering tapi ada juga yang suma sesekali.

Tantrum disebut normal dalam fase pertumbuhan anak. Hal itu merupakan ekspresi saat anak sedih atau frustasi. Perilaku tersebut bisa muncul saat anak-anak capai, lapar, atau merasa tidak nyaman. Bisa juga saat mereka ingin sesuatu dari orang tua kayak mainan atau perhatian. Belajar menghadapi frustasi merupakan ketrampilan seiring berjalannya waktu.

Bagi orang tua, jangan panik dan ikut frustasi dulu ketika melihat buah hati kita tantrum. Ada kiat untuk menghadapi perilaku anak-anak yang menjengkelkan tersebut. Berikut beberapa di antaranya:

Berikan perhatian positif

Biasakan posisikan buah hati sebagai anak yang manis. Berikan anak pujian dan perhatian setiap mereka berlaku baik.

Ajari anak mengontrol sesuatu

Orang tua perlu sering melatih anak mengambil keputusan misalkan “Kamu mau jus jeruk atau apel?” atau “Kamu mau gosok gigi sebelum atau sesudah mandi?. Jangan cuma bertanya “Kamu mau gosok gigi sekarang?” pertanyaan tersebut dengan gampang dijawab “enggak” oleh anak. 

Alihkan perhatian anak

Coba alihkan perhatian anak dengan mengganti permintaannya. Caranya dengan memulai kegiatan baru untuk mengobati rasa frustasi setelah ia dilarang. Atau cara lainnya dengan cari suasana lain. Misalkan dari dalam kamar di rumah, orang tua bisa mengajaknya jalan ke luar rumah. 

Pertimbangkan setiap permintaan anak

Ada kalanya orang tua sulit menolak permintaan anak. Padahal hal itu bagian dari edukasi dan bermanfaat di kemudian hari.

Ketahui batas ketahanan anak

Jika kita paham anak balita kita capai, berarti itu bukan waktu terbaik mengajak mereka berbelanja ke supermarket atau jalan ke mal.

Tetap kalem saat anak tantrum

Jangan bikin masalah tantrum makin runyam dengan kita marah-marah atau ikut frustasi. Ingat, tugas kita sebagai orang tua adalah membuat anak tenang. Jadi kita perlu kalem agar anak juga bisa ikut kalem.

Mengenal penyebabnya

Jika biangnya anak sedih, solusi terbaiknya dengan menyediakan kenyamanan. Kalau anak lapar atau capai, kita bisa memberikannya makanan atau menyuruh istiirahat. Jika anak bosan, kita bisa berikan anak pengalihan perhatian untuk mengerjakan aktivitas lain. Kalau anak tantrum karena cari perhatian, cara terbaiknya adalah mengabaikannya. Jika penyebabnya anak menolak sesuatu, tetap tenang dan jangan berikan banyak penjelasan yang tidak ingin dia dengar.

Jika anak menyakiti diri sendiri

Usahakan bawa anak ke tempat yang tenang dan aman untuk menenangkannya. Cara ini juga bisa diaplikasikan untuk menghadapi anak tantrum di keramaian. Kalau anak sulit dibilangi untuk berhenti, coba terapkan metode time-out atau pegangi anak selama beberapa menit. Upayakan konsisten. Agar anak tidak lagi menyakiti dirinya sendiri.

Setelah tantrum

Jangan hadiahi anak dengan apapun selepas tantrum. Metode ini menunjukkan cara anak mencari perhatian atau meluapkan emosi tidak efektif. Alih-alih memberikan hadiah, orang tua lebih disarankan memuji keberhasilan anak mengontrol emosinya dengan pernyataan, “Ibu suka kalau kamu anteng”. Anak biasanya juga jadi rapuh saat tantrum karena mereka tampak tidak imut. Setelah tantrum mereda, saatnya kita memeluk dan memastikan anak kita dicintai bagaimana pun kondisinya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia/Solopos