PARENTING: Ini Pentingnya Membacakan Buku Cerita pada Anak

Ilustrasi membacakan buku cerita - ist/abc
28 November 2018 09:35 WIB Tika Anggreni Purba Lifestyle Share :

JAKARTA—Membaca adalah kegiatan penting yang dapat mendukung tumbuh kembang anak. Ketika mereka masih belum bisa membaca, peran orang tua untuk membacakan cerita sangat diperlukan.

Mengapa membacakan buku cerita itu penting? Menurut lifehack.org kegiatan tersebut bisa memengaruhi kesuksesan anak di masa depan. Anak-anak dapat belajar mengenai orang, tempat, ide, dan sebagainya.

Selain itu anak-anak akan mempelajari kemampuan verbal ketika mendengar orang tuanya membacakan cerita. Dalam pembicaraan sehari-hari biasanya kosa kata sangat terbatas, namun melalui buku anak-anak bisa menambah pembendaharaan kata-katanya.

Tidak hanya itu, kemampuan membaca, berkomunikasi, dan menulis akan terasah sejak dini ketika anak-anak dibiasakan mendengar buku cerita. Apalagi jika Anda menginginkan anak mempelajari bahasa asing, membaca adalah alat utamanya.

Ketika membaca, anak-anak akan diperkenalkan dengan berbagai variasi topik misalnya soal budaya. Mereka akan menerima banyak pengetahuan baru yang tadinya tidak mereka ketahui. Hal ini akan terjadi secara alami seiring perjalanan waktu.

Anak-anak memiliki pengertian yang sempit mengenai dunia di sekelilingnya karena mereka masih belum banyak pengalaman. Dengan membaca buku anak-anak akan dibukakan mengenai berbagai perbedaan yang ada di dunia. Kisah-kisah di buku cerita biasanya mengajarkan nilai dan moral sehingga anak bisa belajar lebih banyak.

Dari pada membiarkan anak menonton televisi atau bermain gawai, membacakan buku jauh lebih baik. Interaksi saat membacakan buku pada anak akan membentuk ikatan yang kuat antara orang tua dengan anak.

Otak anak juga semakin terlahir ketika dibacakan buku, karena ia diberikan stimulasi melalui kata-kata dan gambar. Mereka juga akan belajar untuk berkonsentrasi ketika mendengarkan cerita. Ini akan melatih kemampuan otaknya, termasuk juga dalam kreativitas dan imajinasi.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia