Sosialisasi Secara Utuh Bisa Tekan Jumlah Penderita Kanker Payudara

08 Oktober 2013 19:55 WIB Abdul Hamied Razak Lifestyle Share :

Harianjogja.com JOGJA-Kanker payudara adalah penyebab utama morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) akibat kanker pada wanita di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Setiap tahun, jumlah kejadian yang ditemukan semakin meningkat sehingga penyakit tersebut menjadi salah satu masalah kesehatan yang krusial.

Menurut Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gajah Mada (UGM), Lina Choridah, meski mekanisme kerja kanker payudara hingga kini secara pasti belum diketahui, namun estrogen diduga memegang peranan penting terjadinya kanker payudara.

Estrogen [hormon yang memainkan peran kunci dalam perkembangan organ dan sistem reproduksi wanita] bereaksi melalui mekanisme proliferasi [pengembangbiakan] dan metabolit genotoksik.

“Reseptor estrogen utama adalah reseptor estrogen ?, dikodekan sebagai gen ESR1.Variasi keberhasilan terapi anti estrogen diduga karena adanya polimorfisme gen ESR1. Densitas mamografi merefleksikan perbandingan jumlah stroma, epithelial, dan jaringan lemak,” terang Lina pada ujian terbuka Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan di Auditorium FK UGM, Selasa (8/10/2013).

Secara umum, sambungnya, densitas mamografi dikaitkan dengan proliferasi sel yang diduga merupakan efek estrogenik.

“Wanita dengan densitas mamografi tinggi memiliki faktor risiko kanker payudara yang lebih kuat,” tegas perempuan yang mampu mempertahankan disertasinya berjudul Densitas Mamografi Metode Nilai Ambang, Kadar Estradiol, dan Polimorfisme Estrogen Reseptor 1 Sebagai Prediktor Kanker Payudara.

Dia menjelaskan, densitas mamografi merupakan novel independent risk factor kanker payudara pada populasi di Indonesia khususnya etnik Jawa. Polimorfisme estrogen receptor 1 (ESR1 PvuII dan ESR1 Xba1) juga merupakan prediktor kanker dengan proporsi menunjukan adanya dominasi alel T/A sesuai dengan proporsi wanita Asia.

Adapun kadar estradiol, lanjutnya, secara langsung tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan risiko kanker payudara. Sementara, Gama Dejavu atau Gadjah Mada Densitas Mamografi Jawa PvuII merupakan model baku emas sekaligus model terbaik perhitungan risiko kanker payudara.

“Densitas mamografi memiliki korelasi dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) sesuai status menopause, memiliki korelasi positif kuat dengan polimorfisme ESR1 PvuII tetapi tidak berkorelasi dengan riwayat keluarga,”tuturnya.

Lina menilai, pengembangan mamografi sebagai alat deteksi dini kanker payudara sekaligus sebagai prediktor risiko yang kuat sangat diperlukan di samping penambahan modalitas citra payudara lain. Seperti, ultrasonografi dan MRI untuk mengantisipasi adanya masking effect.

Dia mendorong agar kaum perempuan meningkatkan wawasan mengenai peranan densitas mamografi sebagai novel independent risk factor kanker payudara.

“Ini harus disosialisasikan untuk meningkatkan kewaspadaan bagi populasi dengan risiko yang lebih tinggi. Dengan demikian diharapkan akan dapat dimanfaatkan sebagai acuan upaya preventif maupun intervensi untuk menurunkan risiko kanker payudara,” harapnya.

Sayangnya, Indonesia memiliki keanekaragaman etnik sehingga diperlukan penelitian multi etnik lebih lanjut terkait faktor genetik penyeab kanker payudara. Apalagi, faktor risiko kanker payudara ini bersifat multifaktorial, jelas anggota tim onkologi kanker payudara FK UGM ini.