Hanya 7,3% Penduduk Indonesia Menyikat Gigi dengan Benar

Harian Jogja/Gigih M. HanafiDafa, seorang pelajar SMP saat memeriksakan giginya di Puskesmas Depok III, Depok, Sleman, Senin (28 - 10). Kerja sama GlaxoSmith (GSK) Sensodyne dengan Kementerian Kesehatan RI menjangkau 121 puskesmas di wilayah DIY untuk mengoptimalkan fungsi Puskesmas dalam menjalankan fungsi promosi kesehatan gigi dan mulut serta perawatan gigi dan mulut terutama gigi sensitif.
28 Oktober 2013 21:55 WIB Abdul Hamied Razak Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Menyikat gigi perlu dilakukan dengan benar. Bila tidak, maka gigi meskipun terlibat bagus akan mengalami hipersensitif dentin. Sayangnya, di Indonesia hanya 7,3% saja yang menyikat gigi dengan benar.

Ratri, 40, hanya terbengong mendengarkan penjelasan dokter gigi Puskesmas Depok III, Sleman, Retno Haei Rohmini tentang penyakit gigi sensitif. Sesekali Ratei mengelus kedua pipinya dengan kedua tangannya, bergantian. Entah kesakitan atau memahami penjelasan dokter, Ratri hanya manggut-manggut.

“Pantesan, kadang gigi saya ngilu,” ujar warga Depok itu di di sela Media Briefing Glaxo Smith Kline (GSK) bersama Kemenkes di Puskesmas Depok III, Sleman, Senin (28/10/2013).

“Gigi sensitif keluhan berjuta umat,” begitu kalimat yang dilontarkan Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof Soedomo FKG-UGM dokter gigi Ammad Syaify.
Menurutnya, gigi sensitif atau hipersensitif dentin itu merupakan nyeri pendek dan tajam akibat dentin (bagian terbesar dari jaringan keras gigi) yang terbuka. Rasa nyeri itu disebabkan oleh abrasi (menyikat gigi dengan tekanan kuat), erosi (mengkonsumsi makanan dan minuman asam) ataupun atrisi (penggunaan gigi yang tidak benar).

“Dari sekitar 260 juta penduduk Indonesia 91% sudah menyikat gigi dengan sikat gigi. Tetapi, dari jumlah tersebut hanya 7,3% saja yang menyikat gigi dengan benar. Sebagian besar salah sehingga menyebabkan hipertensi,” tutur dokter yang juga mantan wartawan media nasional itu.

Sayangnya, lanjut pria yang akrab dipanggil Asep itu, banyak orang tidak menyadari terkena gigi sensitif. Padahal, lanjutnya, bila gigi tersebut terkena udara dingin, tekanan udara tinggi, pengeringan, gula, asam, atau tekanan pada gigi maka pasien akan merasakan ngilu yang intens dan menusuk.

Bila tidak ditangani dengan baik dan benar, kata Asep, maka gigi sensitif akan berdampak buruk kepada kesehatan gigi dan mulut secara keseluruhan.
“Kebiasan masyarakat mengkonsumsi penganan khas Jogja yang cenderung sangat manis dapat memicu kasus gigi sensitif ini. hal itu akan menyebabkan kualitas hidup manusia bisa turun,” kata Asep.

Penderita gigi sensitif sendiri dialami oleh satu dari tiga orang yang berusia antara 20 hingga 50 tahun. Ironisnya, dari 45% penduduk Indonesia yang mengalami gigi sensitif, sebanyak 52% pasien tidak berkonsultasi dengan dokter dan 75% lebih tidak menggunakan pasta gigi khusus secara teratur. “Ini alasan saya mengapa sebut gigi sensitif keluhan berjuta umat,” tukas Asep.

Asep mengatakan, menyikat gigi untuk tujuan agar gigi bisa putih hanya omong kosong belaka. Menurutnya, menyikat gigi hanya bisa menghilangkan plak (karang gigi) saja. “Ini perlu dilakukan edukasi karena hampir semua anak-anak memiliki gangguan pada gigi,” tambah Asep.