GANGGUAN JIWA : Tidak Semangat Kerja? Mungkin Anda Alami Ini

05 Mei 2015 14:40 WIB Lifestyle Share :

Gangguan jiwa, untuk mendeteksi dini gangguan jiwa Pemkot membentuk kampung ramah jiwa

Harianjogja.com, JOGJA-Penderita gangguan jiwa, tidak melulu pada gangguan jiwa berat, melainkan
juga gangguan jiwa ringan, seperti depresi, stres, dan sebagainya.

Sebelumnya, Kepala UPT Panti Karya Waryono menyampaikan sekitar 4.700-an penduduk Jogja mengalami gangguan jiwa. Kecamatan Kotagede menjadi wilayah yang memiliki penduduk dengan gangguan jiwa terbanyak se-Jogja, yaitu 700-an orang.

Lebih lanjut, dia mencontohkan pekerja atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tidak semangat bekerja dapat dikategorikan sebagai gangguan jiwa.

“Sudah dibayar tetapi bekerja tidak semangat bisa jadi ada indikasi gangguan jiwa,” imbuh dia, dalam acara Pengenalan Deteksi Dini Gangguan Jiwa dan Manajemen Penanganan Jiwa di masyarakat di Pendopo Balaikota Jogja, Senin (4/5/2015).

Namun, ia tidak menampik jika penderita gangguan jiwa di Jogja belum seluruhnya tertangani atau tidak lebih dari 10%. Persoalan ketidaktahuan dan kurang kepedulian masyarakat, menjadi penyebab utama. Terkait pemicu, faktor ekonomi masih menduduki peringkat pertama sebagai penyebab seseorang mengalami gangguan jiwa.

Oleh karena itu, terang Waryono, Pemerintah Kota Jogja berupaya untuk mengenalkan cara mendeteksi dini gangguan jiwa serta manajemen penanganan jiwa di masyarakat melalui pembentukan kampung ramah jiwa di Jogja.

Pada 2015, Pandean, Brontokusuman, dan Giwangan menjadi kampung percontohan kampung ramah jiwa. Sementara, tahun depan sudah disiapkan tujuh kampung lainnya yang akan menjadi kampung ramah jiwa.

Alasan pemilihan tiga kampung tersebut menjadi kampung ramah jiwa, antara lain, potensi sumber daya manusia, kesiapan wilayah, dan lain-lain.

“Untuk jangka panjang akan diwujudkan menjadi kota ramah jiwa,” tegas dia.

Sebelum pelaksanaan program kampung ramah jiwa, Waryono mengatakan, telah dilakukan pelatihan bagi 50 PSM dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai mitra untuk menangani penderita gangguan jiwa di masyarakat hingga tingkat kelurahan dan kampung pada 29 April sampai dengan 1 Mei.

“Harapannya mereka dapat mendeteksi penderita gangguan jiwa di masyarakat dengan ilmu yang mereka peroleh selama pelatihan,” ujarnya.