TUBERCULOSIS YOGYAKARTA : TBC Merambah Orang Kaya

10 Mei 2015 12:26 WIB Lifestyle Share :

Tuberculosis Yogyakarta tidak melulu menyerang masyarakat kelas bawah, tetapi juga orang-orang berada.

Harianjogja.com, JOGJA–Penyakit tuberculosis atau TBC masih menjadi momok bagi masyarakat Indonesia. Penyakit TBC adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman tubercle bacillus atau TB.

Selama ini, penderita penyakit TBC identik dengan kalangan masyarakat miskin dengan tingkat pengetahuan kesehatan minim. Kini, para penderita penyakit TB merambah pada kalangan masyarakat menengah ke atas yang sangat memperhatikan kebersihan lingkungan.

Di Indonesia, penyakit TBC termasuk penyakit yang susah diberantas dan ditanggulangi. Hal ini dikarenakan adanya stigma di masyarakat yang cenderung mengucilkan penderita penyakit TBC. Masyarakat terkesan malu apabila terjangkit penyakit TBC lantaran penyakit menular itu dicap sebagai penyakit orang miskin.

Lambat laun, terjadi pergeseran suspect penyakit TBC di kalangan masyarakat. Penderita penyakit TBC merambah golongan orang berkecukupan alias kaya yang hidupnya mapan, tingkat pengetahuan kesehatan tinggi dan selalu memerhatikan kebersihan lingkungan di sekitar rumah.

Hal ini diakui Kepala Puskesmas Gedongtengan,Kota Jogja, Tri Kusumo Buwono. Menurut dia, pergeseran sasaran suspect penyakit TBC dari orang miskin ke orang kaya terjadi selama lima tahun terakhir. Penularan penyakit TBC melalui udara saat penderita berinteraksi dengan orang lain. Adapun gejala-gejala penderita penyakit TBC antara lain batuk berdahak selama lebih dari dua pekan, berat badan menurun drastis dan kerap berkeringat pada malam hari.

“Sekarang tidak lagi orang miskin yang menjadi sasaran suspect penyakit TBC. Ada juga kalangan masyarakat menengah ke atas yang berobat ke puskesmas karena terinfeksi penyakit TBC. Masyarakat yang kerap berinteraksi dengan orang lain rawan terjangkit penyakit TB karena penularannya melalui udara,” katanya saat ditemui di kantornya, Kamis (30/4/2015).

Dia membeberkan ada beberapa penyebab utama pergeseran sasaran suspect penyakit TBC dari orang miskin ke orang kaya. Pertama, ada penyakit penyerta yakni HIV yang mengganggu sistem kekebalan tubuh sehingga terjangkit infeksi TB. Biasanya terjangkit virus HIV terlebih dahulu selang beberapa tahun kemudian baru tertular penyakit TB.

Kedua, golongan orang kaya cenderung memilih berobat ke klinik-klinik dokter swasta yang belum menerapkan pengobatan penyakit TB menggunakan strategi Directly Observed Treatment, Short-course atau DOTS. Strategi DOTS merupakan metode pengobatan jangka pendek penderita TBC selama enam bulan.

Kecamatan Gedongtengen merupakan salah satu wilayah jumlah kasus penyakit TBC terbanyak di Kota Gudeg. Selama 2014, tercatat 15 penderita TBC dengan BTA positif yang berobat ke Puskesmas Gedongtengen.