TIPS KESEHATAN : Berikut Penyebab Anak Alami Alergi

20 Oktober 2016 08:20 WIB Abdul Hamied Razak Lifestyle Share :

Tips kesehatan mengenai penanganan alergi.

Harianjogja.com, SLEMAN -- Menangani alergi pada anak perlu dilakukan secara tepat. Salah penanganan bisa mengakibatkan anak kekurangan nutrisi (mallnutrisi).

Menurut Sumadiono, dokter spesialis anak RSUP Dr Sardjito, alergi merupakan bentuk reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap sesuatu yang dianggap berbahaya walaupun sebenarnya tidak. Ini bisa berupa substansi pemicu alergi atau alergen yang masuk atau bersentuhan dengan tubuh.

"Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko alergi pada anak. Riwayat alergi pada keluarga, kelahiran caesar, makanan tertentu atau sesuatu yang terhirup seperti polusi yang termasuk polusi udara dan asap rokok," kata Suma sapaan akrabnya usai kegiatan edukasi "Tanggap Alergi dengan 3K" yang digelar Sarihusada bekerjasama dengan Departemen Kedokteran Keluarga dan Komunitas FK UGM serta Unit Kerja Koordinasi (UKK) Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Rabu (19/10/2016).

Dari berbagai faktor pemicu, makanan merupakan salah satu masalah pemicu alergi yang paling sering dialami oleh anak. Ada sekitar 20% anak pada satu tahun pertama mengalami reaksi terhadap makanan yang diberikan. Secara global, tercatat sekitar 240 hingga 550 juta orang berpotensi menderita alergi makanan.

"Alergi makanan secara signifikan bisa mempengaruhi kualitas hidup penderita, terutama pada anak-anak," ucapnya.

Dia bercerita, di Banjarnegara, Jawa Tengah, ada kasus yang perlu mendapat perhatian para orangtua. Akibat kesalahan menangani alergi yang dialami anaknya, orangtua membiarkan anak tidak makan makanan yang membuat anak tersebut alergi. Sayangnya, orangtua itu tidak memberikan alternatif makanan untuk mengganti makanan yang menyebabkan alergi pada anaknya.

"Alergi susu sapi, misalnya. Anak dilarang minum susu sapi, tetapi tidak diberikan alternatif lainnya. Itu salah satu yang menyebabkan anak kekurangan nutrisi. Di Banjarnegara ada kasus itu, akhirnya anak malnutrisi kemudian meninggal," ceritanya.

Dia mengingatkan, dampak alergi yang tidak ditangani dengan baik dapat mempengaruhi kualitas hidup dan tumbuhkembang anak. Misalnya, aktivitas belajar dan bermain anak terbatas, anak sulit konsentrasi hingga sulit tidur. Allergy & Asthma Foundation of America, lanjut Suma, mencatat alergi susu sapi merupakan salah satu alergi makanan yang paling banyak terjadi pada anak. Prevalensi alergi susu sapi pada anak-anak di tahun pertama kehidupan menyentuh 5% kelahiran hidup.

"ASI merupakan yang terbaik bagi bayi dan anak yang mengalami alergi," kata Suma.

Jika anak terdiagnosis alergi protein susu sapi, kata Suma, ASI harus tetap diberikan. Namun, sang ibu harus mengeliminasi susu sapi dan produk turunannya seperti sup krim, pudding dengan saus susu, pancake, dan lain sebagainya.

"Segera konsultasikan dengan dokter anak mengenai asupan nutrisi dan penanganannya. Selama masa treatment, asupan nutrisi anak dapat digantikan dengan susu soya," usulnya.