TIPS SEHAT : Jalan Kaki 3 Jam dalam Seminggu, Jurus Jitu Halau Demensia

18 Mei 2017 03:20 WIB Mediani Dyah Natalia Lifestyle Share :

Tips kesehatan mengenai manfaat jalan kaki.

Harianjogja.com, KANADA -- Kebiasaan jalan yang teratur dapat mengurangi gejala kerusakan kognitif yang berhubungan dengan melemahnya pembuluh darah di otak.

Dilaporkan Dailymail, Selasa (16/5/2017), partisipan yang berisiko alami demensia tetapi memiliki kebiasaan berjalan kaki tiga jam dalam seminggu dan rutin dilakukan selama enam bulan menunjukkan hasil memuaskan. Tim Kanada yang menuliskan hasil penelitian ke Jurnal Kesehatan Olahraga, Inggris menyatakan olahraga ringan ini dapat meningkatan kinerja otak maupun perbaikan yang lain.

Vascular Cognitive Impairment (VCI) merujuk pada gangguan berpikir ringan atau jika lebih parah mengarah pada demensia. Persoalan ini mirip dengan kerusakan pembuluh darah di jantung atau anggota tubuh lain.

"Terbukti olahraga aerobik meningkatkan kesehatan jantung dan otak," papar ilmuwan senior Teresa Liu-Ambrose kepada Reuters Health.

"Lebih spesifik, kebiasaan ini mengurangi salah satu risiko penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi, diabetes tipe II dan kolestrol tinggi," tambah Liu-Ambrose, peneliti masalah Penuaan, Perpindahan dan Saraf Kognitif di Universitas British Columbia, Vancouver.

Kondisi kronis tersebut memiliki dampak negatif terhadap kesehatan otak lantaran terdapat sumbatan aliran darah ke otak. Otak adalah organ metabolis penting dan untuk menjaga tetap sehat dibutuhkan aliran darah yang lancar untuk mengirimkan nutrisi dan oksigen ke jaringan.

"Dalam penelitian kami terungkap, mengurangi tekanan darah berhubungan dengan peningkatan fungsi kognitif," kata Liu-Ambrose.

Olahraga aerobic bermanfaat untuk meningkatkan sel-sel sehat di dalam otak. Liu-Ambrose dan tim secara random mengamati 38 lansia dengan VCI ringan dan dibagi menjadi 1-2 kelompok.

Kelompok pertama mendapatkan latihan aerobik yang konsisten dan terdiri dari berjalan selama 3 jam dalam seminggu dan dilakukan selama enam minggu berturut-turut. Sementara kelompok yang satu hanya melanjutkan kebiasaan mereka. Adapun keduanya mendapat informasi mengenai kerusakan kognitif vaskuler dan tips berupa diet sehat.

Sebelum memulai latihan dan setelah program berakhir pada minggu keenam, seluruh partisipan juga melalui proses MRI untuk otak dan tes lain untuk mengetahui aktivitas sel saraf dan kemampuan kognitif.

Orang yang termasuk kelompok dengan bobot olahraga konstan menunjukkan peningkatan reaksi kognitif yang baik dan terdapat perubahan aktivitas otak.

"Hasilnya, olahraga dapat menjadi alternatif efektif untuk menjaga kesehatan kognitif lansia," kata Liu-Ambrose.

Lebih lanjut dia menyatakan tak tahu jika olahraga dapat mencegah VCI karena tak banyak penelitian yang mengkaji hal tersebut.

"Bagaimanapun juga, populasi dari hasil penelitian tersebut menunjukkan aktivitas fisik mengurangi risiko VCI. Terlebih lagi, latihan aerobik sangat efektif mengurangi risiko penyumbatan darah yang berhubungan dengan VCI, seperti tekanan darah tinggi."

Kajian ini diakuinya masih minim. Di sisi lain, kata dia, partisipan yang dapat berjalan lebih dari satu jam menggambarkan kondisi kesehatan mereka jauh di atas rata-rata.

"Dari sample kecil dapat diketahui hasil dari percobaan. Intinya, enam bulan latihan menunjukkan peningkatan aspek kognitif dan fungsi otak," papar Dr. Joe Verghese, Direktur Montefiore Einsten Center for the Aging Brain di Montefiore Medical Center, New York.

"Efek dari olahraga dan kajian lain menggambarkan peningkatan kinerja otak, dari merencanakan, memikirkan dan memutuskan" kata Verhese yang tak termasuk dalam kajian tersebut dalam email tertulis.

"Melalui penelitian ini diharapkan dapat dilakukan riset lebih dalam, termasuk dampak penambahan olahraga kepad apasien lansia dengan risiko vaskuler, untuk melindungi fungsi otak," paparnya lagi.