Advertisement

Kaum Milenial Jadi Target Pemasaran Hunian di DIY

Nina Atmasari
Jum'at, 23 Maret 2018 - 19:20 WIB
Nina Atmasari
Kaum Milenial Jadi Target Pemasaran Hunian di DIY

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA- Prospek produk hunian di DIY pada tahun ini dinilai masih memiliki peluang yang baik, meski geliat bisnis properti tidak secerah 2017 lalu. Besarnya pasar dari generasi milenial, menjadi target market yang mulai dipersiapkan para pengembang.

"Para pengembang di DIY sudah mulai menyasar ke sana. Kalau dilihat dari statistiknya, orang Indonesia itu bisa memiliki rumah sekitar usia 30-35 tahun, secara umum. Jadi yang sekarang masih berusia sekitar 20an tahun merupakan peluang yang besar untuk ke depan," ujar Ketua Real Estate Indonesia (REI) DIY, Rama Adyaksa Pradipta, Kamis (22/3/2018).

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Rama memaparkan saat ini, usia-usia 20 tahun ke atas mulai banyak yang menabung untuk uang muka rumah. Karena pada usia-usia antara 30 tahun ke atas, rencana untuk membeli rumah sudah mulai dipikirkan oleh para generasi ini.

"Pengembang pun juga sudah bersiap menangkap peluang pasar dari generasi milenial ini," ungkap Rama.

Selain itu, prospek pengembangan produk properti di tahun ini mulai digenjot dengan variasi produk hunian. Pengembangan produk hunian pada tahun ini lebih menunjukkan diversifikasi, di mana para pengembang mulai menyasar 20% suplai untuk hunian vertikal.

Rama menuturkan pasar hunian vertikal cukup potensial untuk dikembangkan saat ini, mengingat keterbatasan lahan masih menjadi momok bagi bisnis ini. Peminat produk hunian vertika seperti apartemen yang tengah banyak berkembang di DIY ini ternyata semakin banyak menarik konsumen.

"Kendati demikian, memang untuk hunian vertikal sebagian besar motifnya masih investasi," ungkap Rama.

Rumah-rumah tapak atau landed house juga masih menjadi pasar utama pengembangan produk hunian di DIY. Beberapa pengembang di bawah naungan REI juga mulai mengembangkan rumah-rumah terjangkau untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Kendati demikian, diakui Rama, jumlah produksi masih relatif terbatas dan tidak banyak, karena terganjal harga tanah yang mahal. "Rerata untuk saat ini, harga rumah dengan kisaran Rp300 juta sampai Rp500 juta masih yang banyak diminati, karena dari sisi harga masih cukup relevan," imbuh Rama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

ATF Dimanfaatkan Destinasi Wisata Jogja Gaet Wisatawan Asing

Jogja
| Minggu, 29 Januari 2023, 20:07 WIB

Advertisement

alt

Pendaki asal Madiun Ditemukan Tak Bernyawa di Puncak Gunung Lawu

News
| Minggu, 29 Januari 2023, 20:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement