Advertisement
Sugeng Bersama, Ramai-Ramai Sejahtera
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Banyak komunitas yang muncul di Jogja, baik komunitas berdasarkan hobi maupun berdasarkan nama. Salah satu komunitas nama yang aktif berkembang di Jogja adalah Paguyuban Sugeng. Komunitas ini tak ingin sekadar kumpul tetapi memberikan dampak terhadap kesejahteraan anggotanya.
Sebuah angkringan di Jalan Gayam No.7 Gondokusuman, Baciro, Jogja, tampak ramai didatangi pembeli, Jumat (6/4) malam. Angkringan itu berdiri di utara jalan dengan plakat besar terpasang di depannya bertuliskan Angkringan Sugeng.
Advertisement
Tak seperti angkringan pada umumnya yang membuka dagangannya di pinggir jalan dengan gerobak, Angkringan Sugeng berada di dalam sebuah rumah. Gerobak dorong khas angkringan diletakkan di pintu kedatangan, lengkap dengan menu nasi kucing dan berbagai camilan.
Saat Harian Jogja memasuki angkringan itu, belasan orang tampak berkumpul. Mereka adalah kumpulan orang-orang Jogja bernama Sugeng. Mereka juga yang memiliki Angkringan Sugeng itu, angkringan yang baru dibuka sekitar sebulan lalu.
Angkringan itu adalah usaha bersama orang-orang yang memiliki nama Sugeng. Mereka tergabung dalam Paguyuban Sugeng khusus untuk regional Jogja. Sugeng Iman Diryo, Ketua Paguyuban Sugeng Regional Jogja menjelaskan komunitas ini memang hadir tidak sekadar sebagai media kumpul dan senang-senang, tetapi lebih dari itu ingin memberikan dampak yang lebih besar terhadap anggota maupun masyarakat.
Angkringan Sugeng menjadi salah satu wujudnya. Dalam angkringan ini, para anggota bersinergi membuka usaha angkringan. Pada satu sisi untuk menambah khazanah perkulineran di Jogja. Di sisi lain juga untuk memberikan lapangan kerja bagi masyarakat.
Secara nasional, Paguyuban Sugeng lahir pada 9 November 2008, yang kemudian diikuti kehadiran komunitas di tingkat regional. Selain Jogja, ada Bali, Bandung, Batam, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta dan Banten.
Sugeng Iman mengatakan pria dan wanita Indonesia yang memiliki unsur nama Sugeng boleh bergabung dalam komunitas ini, baik tulisannya di-KTP Sugeng, Soegeng, Sugenk atau Soegenk. Komunitas ini berawal dari media sosial Facebook.
Tercatat sampai saat ini sudah ada 8.978 orang yang bergabung, tetapi yang terdaftar secara resmi dengan ditunjukkan lewat Kartu Tanda Anggota (KTA) sebanyak 3.000-an orang. “Kalau di DIY sendiri ada 150-an,” kata Sugeng Iman, Jumat (6/4).
Memiliki Banyak Usaha
Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Paguyuban Sugeng Indonesia ini menjelaskan, berdasarkan nama yang sama, komunitas ini ingin menjadi satu keluarga yang secara bersama-sama menguatkan ekonomi kerakyatan. Antaranggota tercipta simbiosis mutualisme dan berkontribusi terhadap daerah masing-masing.
Para anggota Paguyuban Sugeng banyak yang memiliki usaha. Saat ini sebuah aplikasi sedang dikembangkan untuk mewadai usaha para anggota. Aplikasi bernama Gogeng ini menampung semua bisnis milik nama Sugeng.
Ada usaha makanan lesehan, persewaan kendaraan, penjual surjan dan blangkon, pedagang oleh-oleh, sampai pengelola hotel. Aplikasi itu membantu memasarkan produk anggota. “Kalau terkoneksi semua, maka ekonomi kerakyatan akan tumbuh,” katanya.
Melalui kerja sama yang terbentuk, komunitas ini memiliki brand Warung Sugeng. Gerakan Warung Sugeng ini mewajibkan anggota komunitas untuk melabeli nama Sugeng pada usahanya. Menurut Sugeng Iman, jika Warung Sugeng menempel di semua daerah, maka akan banyak dikenal dan viral.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Harga Cabai Rawit Merah Beringharjo Tembus Rp55.000, Pasar Lain Stabil
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- 11 Cara Kematian Paling Menyakitkan Menurut Sains
- Selain Enak, Deretan Makanan Super Ini Bisa Cegah Penyakit
- Manfaat Tertawa, Menggigil, hingga Muntah pada Tubuh Anda
- Sejumlah Zodiak Ini Diramalkan Menikah di Tahun 2023
- Seorang Ibu Minum ASI Sendiri karena Tak Rela Jika Dibuang
- Wajah dan Tubuh Tidak Simetris, Ini Penyebabnya
Advertisement
Advertisement




