Bapak Ibu, Nutrisi Bekal Sekolah Anak Jangan Disepelekan Ya

Ilustrasi anak makan - ist/Medicaldaily
20 Agustus 2018 19:35 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Di tengah segudang kesibukan harian, tugas tambahan menyiapkan bekal ke sekolah buat si kecil kelihatan repot. Tapi jangan buru-buru menyerah. Orang tua dijamin emoh melewatkan satu kesempatan pun membawakan makanan dan minuman sehat demi menunjang kegiatan anak menempuh pendidikan setelah melihat manfaatnya.

Sebuah riset yang dilakukan organisasi dengan fokus pendidikan di Amerika Serikat The Brown Center Chalkboard menunjukkan korelasi erat antara pengaturan pola makan dan perkembangan kognitif buah hati. Dalam penelitian tersebut, dibedah pengaruh nutrisi pada perkembangan fisik, kognisi (konsentasi dan memori), sampai perilaku.

Riset kualitas bekal sekolah ini dikerjakan selama lima tahun pada medio 2008-2009 dan 2012-2013 di 9.700 sekolah tingkat dasar dan menengah di California. Dari jumlah tersebut, 12% sekolah menyediakan bekal bagi muridnya dengan menggandeng pihak ketiga yang ditunjuk.

Dalam riset itu, kualitas bekal makanan tiap sekolah diukur dengan standar Healthy Eating Index (HEI) berskala 0-100. Rata-rata skor HEI nutrisi makanan keluarga di negara setempat adalah 63,8. Sedangkan rerata skor HEI nutrisi bekal di sekolah cuma 59,9. Nilai tersebut menujukkan bekal yang disediakan sekolah kalah sehat ketimbang makanan rumahan setempat.

Penelitian dilanjutkan dengan meneliti murid yang diberi asupan nutrisi bekal sekolah dengan skor HEI di atas standar rata-rata makanan rumahan. Hasilnya, murid yang mengonsumsi bekal lebih bergizi nilai akademisnya meningkat 40% lebih baik ketimbang anak-anak yang tidak membawa bekal atau diberi asupan asal-asalan.

Selain menunjang kompetensi akademis, nutrisi bekal ke sekolah juga diuji terkait dampaknya pada jumlah murid yang mengalami kelebihan berat badan. Setelah diukur dengan standar medis, ternyata pemberian bekal makanan sehat di sekolah tidak terbukti signifikan menekan berat badan murid karena waktu riset terbilang singkat.

Asal-Asalan

Penelitian lain yang dikerjakan Profesor Promosi Kesehatan dari Dalhousie University, Sara FL Kirk, melibatkan 5.800 anak usia sekolah dasar kelas V di Kanada. Dia menemukan fakta anak-anak yang diberi asupan makanan asal-asalan di sekolah memiliki masalah suasana hati dan kualitas kesehatan rendah.

Studi lanjutan yang dilakukannya juga menemukan hasil pengaturan makan tidak berkualitas pada anak, misalkan melewatkan sarapan sehat dan banyak mengonsumsi gula, juga berpengaruh pada merosotnya prestasi.

Kendati boros dan merepotkan, menyiapkan bekal pangan sehat ke sekolah tetap disarankan bagi setiap orang tua. Dampak sudah teruji. Selain itu, anak-anak dengan bekal pangan sehat telah berinvestasi jangka panjang untuk kesehatan, mengurangi risiko obesitas, serta menumbuhkan kebiasaan makan sehat sejak dini.

Penyediaan makanan sehat di sekolah saat ini masih menjadi problem di Indonesia. Pasalnya, dari riset yang dirilis Unicef lewat Sustainable Development Goals (SDGs) negara kita punya masalah dengan gizi anak. Sebanyak 37% anak-anak mengalami malnutrisi kronis, 12% anak-anak mengalami malnutrisi akut, 12% anak-anak mengalami kelebihan berat badan.

Sumber : JIBI/Solopos