PARENTING: Kecerdasan Anak Bisa Distimulasi, Simak Tipsnya

Ilustrasi anak - Reuters
30 Oktober 2018 10:35 WIB newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA –  Orang tua perlu mempertimbangkan proses stimulasi, pola asuh orangtua, dan kecerdasan emosi anaknya untuk melakukan observasi terhadap kondisi anaknya.

”Dengan mempertimbangkan ketiga hal ini, diharapkan para orangtua selaku pemberi stimulasi dapat melakukan observasi terhadap kondisi diri dan anaknya, serta melakukan sinkronisasi agar proses stimulasi dapat berlangsung lebih cepat,” kata  dokter, Ketua Program Studi Psikologi Terapan, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia belum lama ini.

Idealnya, kata Rose Mini,  orangtua juga melakukan pemetaan perkembangan atau identifikasi kecerdasan majemuk anaknya terlebih dulu, untuk mengetahui kecerdasan apa saja yang sudah berkembang dan menonjol dalam diri anak, dan kecerdasan apa yang belum berkembang dan masih perlu diasah lagi agar lebih optimal. Observasi  dapat dilakukan dengan mengamati perilaku keseharian anak, termasuk lewat minat dan aktivitas kegemaran anak.

Proses stimulasi perlu diberikan orangtua sedini mungkin, sehingga setiap kecerdasan dapat tampil optimal. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar efektif pemberian stimulasi antara lain gaya belajar. Bisa dengan medium visual (melalui indera penglihatan), auditori (melalui indera pendengaran) dan atau kinestetik (melalui indera peraba). Agar stimulasi diterima secara optimal, ada baiknya orang tua menyesuaikan metode dan gaya belajar yang digunakan, dengan gaya belajar anak.

Pola asuh orang tua merupakan gaya pengasuhan yang diterapkan dan bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Ada 4 jenis pola asuh yang biasa diterapkan, yakni authoritarian (otoriter), uninvolved (tidak terlibat), indulgent (permisif) dan otoritatif (demokratis). Pola asuh dinyatakan efektif, bila orangtua dapat menerapkannya pada situasi dan kondisi yang tepat, termasuk dalam proses stimulasi terhadap kecerdasan majemuk anak.

Lalu kecerdasan emosi adalah merupakan kemampuan individu untuk memahami perasaan diri sendiri, maupun orang lain, dan dapat menggunakan pemahaman tersebut untuk mengarahkan pikiran dan tindakan.

Kecerdasan emosi meliputi 5 aspek yaitu mengenal emosi diri, mengendalikannya, mengenal emosi orang lain (empati), kemampuan memotivasi diri, serta kemampuan membina relasi dengan orang lain. Dengan terasahnya kecerdasan emosi, maka stimulasi yang diberikan akan mudah diterima dan dicerna anak secara kognitif.

 

 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia