KOMUNITAS: Jawasastra, Membumikan Budaya Jawa lewat Budaya Pop

Pentas ludruk oleh para anggota Komunitas Jawasastra - ist/Jawasastra
29 November 2018 09:35 WIB Salsabila Annisa Azmi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Budaya Jawa bagi anak muda dipandang sebagai sesuatu yang agung, luhur dan tak terjamah. Akibatnya, banyak yang enggan mempelajarinya karena dirasa terlalu kaku. Komunitas Jawasastra lahir untuk membumikan berbagai macam budaya jawa melalui pendekatan budaya pop.

Gerakan-gerakan apik Komunitas Jawasastra berawal dari kegelisahan Fajar Laksana, 23, saat melihat fenomena anak muda yang tertelan hoaks mengenai asal-usul suatu budaya Jawa. Misalnya, anak muda yang percaya bahwa Candi Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman.

Mereka langsung mempercayai hal itu tanpa melihat sisi budaya Jawa, di mana asal usul Candi Borobudur tertulis dalam naskah-naskah Jawa, salah satunya Negarakertagama. Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra yang mendirikannya. 

“Padahal Candi Borobudur itu juga budaya asli Jawa. Dari kegelisahan itu saya ngopi, punya ide untuk mendekatkan sastra jawa dan budaya jawa dalam budaya remaja yang ngepop. Kemudian saya buat akun Instagram Jawasastra, yang asal namanya dari sastra jawa, tinggal dibalik aja,” kata mahasiswa semester akhir Jurusan Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada  (UGM) itu kepada Harian Jogja belum lama ini.

Sejak SMP, Fajar sudah berkecimpung dalam dunia teater ludruk. Tak jarang dia juga terlibat dalam pembuatan naskah ludruk. Sama seperti Fajar, sepuluh anggota pertama Komunitas Jawasastra yang dihimpun melalui media sosial juga memiliki kegemaran dalam budaya Jawa.

Dari sepuluh orang anggota aktif itu, hanya empat orang yang satu jurusan kuliah dengannya. Sisanya jurusan kuliah lain dari kampus yang berbeda pula. Dengan orang-orang itu, Komunitas Jawasastra resmi berdiri pada Mei 2017.

Tak sekadar membumikan budaya Jawa yang terasa setinggi langit bagi generasi milenial, para anggota juga merekonstruksi pemikiran-pemikiran tentang budaya jawa yang selama ini dianggap klenik.

Misalnya hal-hal berbau mistis seperti mengunjungi makam, mereka meluruskannya dengan kajian ilmu yang ilmiah. Tetapi bukan berarti juga mengesampingkan sisi klenik, mereka menyeimbangkan antara ilmu ilmiah dengan sisi klenik. Supaya anggota bisa saling belajar dan menganalisis budaya Jawa dari dua sisi.

Salah satu cara membumikan budaya Jawa untuk generasi milenial adalah menggelar agenda tahunan pada Mei 2018 lalu saat hari jadi komunitas. Agenda itu mereka beri nama Ekspedisi Sastra Jawa. Fajar dan anggota sepakat membuka pendaftaran di Instagram Komunitas Jawasastra untuk anak muda yang berminat pada sastra lisan cerita rakyat yang berasal dari Desa Sidorejo, Kulonprogo.

“Di sana punya punden atau makam. Kami ajak mereka keliling makamnya sambil mempelajari cerita rakyat yang lahir disitu. Soalnya jaman sekarang, anak muda ditanyain bagaimana asal usul desanya, mereka enggak tahu kan,” kata Fajar kepada Harian Jogja belum lama ini.

Tak hanya keliling makam yang dianggap klenik saja yang dijadikan sumber ilmu budaya Jawa, tempat yang memiliki cerita rakyat seperti perbukitan di suatu desa juga mereka jadikan lokasi Ekspedisi Sastra Jawa. Rencananya kegiatan itu akan diadakan secara tahunan untuk memeringati berdirinya Komunitas Jawasastra. Bahkan kegiatan ini juga telah didukung oleh pemerintah setempat dan akan terus dilaksanakan di desa-desa DIY.

Anggota Komunitas Jawasastra, Sri Suryani, 22, menambahkan penjelasan Fajar. Kegiatan-kegiatan itu dikelola oleh 10 orang anggota dan anggota lain yang bergabung dengan sistem terbuka. Masing-masing dari mereka memiliki kegemaran masing-masing dalam budaya Jawa.

Tak melulu soal aksara Jawa, misalnya soal keris dan tari. “Kami enggak pernah memaksakan anggota untuk bisa dalam suatu bidang. Misal anggota minatnya bukan di aksara jawa, ya sudah, dia bisa menyebarkan budaya jawa melalui bidang lain yang dia minati,” kata gadis yang akrab disapa Yani itu.

Sedang Viral

Saat ditanya kegiatan rutin selain membacakan antologi sastra jawa dan membukukannya, Yani hanya tertawa. Kegiatan rutin harian biasanya diadakan secara informal, sesederhana minum kopi bersama sambil membahas isu-isu hangat seputar budaya Jawa. Apapun yang sedang viral, mereka akan mengaitkannya dengan budaya Jawa. Contohnya peristiwa yang dikaitkan dengan ilmu pembacaan weton dan pembacaan hari baik menurut kalender Jawa.

Anggota juga aktif memikirkan konten instagram yang diupload dua hari sekali. Biasanya terkait pengumuman sayembara dan undangan untuk mengumpulkan antologi sastra jawa yang nantinya akan dibukukan oleh anggota. Sebelum membukukan antologi sastra Jawa, mereka juga sudah bahu membahu galang dana sponsor.

“Kami juga sempat ada website, tapi sekarang sedang off dulu. Isinya adalah kajian-kajian kami tentang berbagai budaya jawa. Misalnya serat jawa, tentang keris, dan budaya-budaya jawa,” kata Yani.

Seluruh kegiatan itu dibiayai dari usaha anggota menggalang dana melalui berbagai sponsor dan juga menjadi perantara event dengan rekanan. Misalnya, ada sebuah event yang membutuhkan pembacaan puisi jawa atau musik gamelan, mereka akan menyalurkannya dengan rekanan tepercaya.