IDE BISNIS: Gypsy Indonesia, Mengadopsi Filosofi Kaum Gypsy pada Desain Tas

Tas produk Gypsy Indonesia - ist/Gypsy Indonesia
09 Januari 2019 09:35 WIB Salsabila Annisa Azmi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Terinspirasi kaum Gypsy yang hidup nomaden dan selalu mengenakan busana berpernak-pernik etnik, Satria Rifai atau Fai, 25, ingin menghayati perjalanan mereka sebagai perantau. Ia mengadaptasi budaya kaum Gypsy ke dalam karakteristik produk Gypsy Indonesia berupa tas.  

Lima tahun yang lalu saat Fai dan sang istri, Sekar Indrawati, 25, berkuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja, mereka memulai bisnis kecil-kecilan dengan produk berkonsep pop. Seperti kaus dan tas. Seiring dengan berjalannya waktu, Fai mulai memikirkan konsep yang unik dan tidak pernah ada di Indonesia untuk produk yang dijualnya.

Mengandalkan ilmu yang didapat dari teman-teman di ISI Jogja dan ilmu kuliahnya, Fai tertarik untuk menonjolkan karakteristik kaum Gypsy yang kental dengan konsep etnik pada setiap produknya.

Gypsy merupakan sebuah kaum di Eropa yang hidup nomaden. Mereka melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain dengan pakaian berkonsep etnik. Misalnya seperti pakaian berbahan kulit dengan kancing dari tulang hewan. Motif dalam pakaian mereka pun unik dan penuh filosofi yang menggambarkan spirit mereka dalam melakukan perjalanan sehari-hari.

Fai yang merupakan perantau dari Banyuwangi, Jawa Timur merasa semangat merantau juga ada dalam filosofi tersebut. “Saya terpikir kalau bikin konsep gypsy ini pasti akan familiar di Indonesia kalau memang diusahakan. Kalau di sini kan gypsy seperti musafir ya. Konsep produk musafir seperti ini belum ada di Indonesia, jadi aku tertarik untuk menjadikan ini karakteristik produk. Di mana produk andalan kami adalah tas,” kata Fai kepada Harian Jogja, belum lama ini.

Budaya kaum Gypsy yang memiliki akar dari budaya India, dan sedikit banyak memengaruhi budaya Indonesia. Misalnya dari cara berpakaian hingga situs budaya. Juga ornamen masjid yang bernuansa gothic berpadu nuansa religius.

Fai mengimplementasikan motif-motif itu dengan ilmu estetika dan teori bentuk yang didapatnya selama berkuliah. Sadar bahwa selera masyarakat terhadap konsep itu sangat tersegmentasi, Fai memutuskan untuk tetap melanjutkan desain tasnya. Dia anggap hal itu sebagai tantangan dari idealismenya. Ia kemudian menamai produknya dengan jenama Gypsy Indonesia.

Di luar dugaan ia mendapat respons baik dari konsumen. Tak hanya orang-orang yang seleranya sama dengannya yang membeli tas itu, tetapi juga orang dengan fesyen sehari-hari yang lebih bervariasi. Terutama anak muda yang sehari-harinya berkuliah dan nongkrong membawa tas-tas dengan berbagai macam model.

“Setelah saya riset, ternyata itu karena marketing di Instagram kami yang menunjukkan bahwa tas Gypsy Indonesia bisa dikenakan dengan outfit casual juga, jadi selain menampilkan tas dengan busana etnik, kami juga tampilkan dengan busana casual yang ternyata juga cocok, apalagi ini unisex bisa dipakai laki-laki dan perempuan juga,” kata Fai.

Seiring waktu, orderan pun mulai melonjak.  Fai bertugas mendesain tas, sedangkan istrinya memantau proses penjahitan. Awal membuka usaha, mereka masih menggunakan penjahit pesanan. Tentu saja proses produksi masih lambat dan kapasitas produksi masih sedikit. Tak jarang di masa-masa itu, sepasang suami istri muda ini salah memprediksi kuantitas produksi. Terutama saat mencoba berinovasi dengan lini produk lain seperti pouch dan notebook.

“Dulu sering produksi kebanyakan ternyata enggak laku. Dari situ kami belajar banyak inovasi tidak boleh sembarangan langsung banyak kuantitasnya, kami harus lihat reaksi pasar dulu seperti apa,” kata Sekar menyambung penjelasan Fai.

Gerai di Malioboro

Sekar mengatakan bahwa saat ini Gypsy Indonesia telah menjadi salah satu pemasok produk di salah satu gerai belanja besar Malioboro. Tempat itu meripakan pusat wisatawan berbelanja batik dan pernak-pernik khas Jogja. Tak mudah untuk menembus pasar itu, apalagi dengan idealisme awal mereka.

“Awalnya dia [Fai] merancang desain tas itu ya benar-benar Gypsy. Bahannya dari kulit, terus kancingnya dari tulang sapi yang mahal, akhirnya kami pas presentasi pertama kali ditolak karena harga produk terlalu mahal,” kata Sekar.

Pemilik gerai belanja itu pun memberi mereka 15 hari untuk kembali mempresentasikan produk mereka. Selama 15 hari, Fai kembali memikirkan desain yang tak menghilangkan karakteristik Gypsy Indonesia namun dengan biaya produk yang rendah.

Fai tak mengganti ornamen di tas dan bentuk aksesorinya, dia hanya mengganti bahan dengan yang lebih terjangkau. Misalnya bahan kain livina berwarna cokelat dan kancing menggunakan kayu ranting pohon asam. Produknya pun diterima hingga kini telah dua tahun mereka memasok ke gerai tersebut.

“Setelah masuk di gerai belanja itu, pesanan meningkat pesat, 60 pieces habis dalam waktu dua hari saja. Omzet kira-kira Rp20 Juta ke atas lah,” kata Fai.

Namun kegagalan presentasi produk saat harga bahan masih mahal bukan berarti dikesampingkan. Rencananya Fai akan mengembangkan segmen middle up dengan merancang produk berbahan eksklusif. Tak hanya tas, Fai juga akan terus bereksperimen dengan motif Gypsy dalam berbagai produk, seperti notebook dan pouch. Harga tas-tas di Gypsy Indonesia saat ini berkisar antara Rp80.000 hingga Rp200.000. (salsabila@harianjogja.com)