Leila Rouf, Gunakan Kain Perca, Padukan Lurik & Shibori

Salah satu baju lurik dipadu shibori rancangan Leila Rouf - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
09 Januari 2019 11:35 WIB Salsabila Annisa Azmi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bersemangat menghasilkan produk ramah lingkungan, Leila Rouf desainer asal Jogja pemilik merek Kaylila Lurik memanfaatkan kain perca dalam rancangan busananya. Ia memadukan lurik dan kain shibori dalam 22 baju bertema Kolaborasi.

Leila merancang busana-busana untuk anak-anak muda, dan ditampilkan dalam fashion show bertajuk Lost in Hawaii di Tjokro Hotel Klaten, Jawa Tengah belum lama ini. Perpaduan lurik dan shibori dianggap sebagai pertemuan dua kebudayaan yang berbeda.

Seperti diketahui lurik adalah kain asli Indonesia dan shibori merupakan kain semacam jumputan yang teknik pembuatannya asli dari Jepang. "Semua bahan baku yang kami pakai adalah karya para perajin yang tersebar di Jogja, Klaten, dan Jepara," kata Leila seusai fashion show.

Dalam proses merancang busana ini, Leila menyadari sampah sudah menjadi persoalan global yang memicu perubahan iklim. Maka salah satu jalan sederhana yang bisa dilakukan untuk mengendalikan sampah adalah turut menggunakan kain daur ulang atau kain perca dalam bahan baku rancangan busananya.

Kain perca tersebut digunakan untuk bagian-bagian kecil dalam rancangan busana milik Leila. Seperti pada bagian kerah dan kantong pada baju. Kain perca kemudian dipadukan dengan kain lurik, batik dan shibori.

Penggunaan kain shibori bekerja sama dengan desainer dari Rama Shibori, Endang yang fokus pada kain shibori itajimei. "Shibori itajimei dibuat dengan metode lipatan, motifnya bisa berupa garis lurus atau segitiga," kata Endang di tempat yang sama.

Paduan kain tersebut dirancang menjadi busana ready to wear atau siap pakai berwujud dress dan kemeja yang simpel dan elegan. Merancang busana dengan kain tradisional seperti lurik dan shibori merupakan tantangan tersendiri bagi Leila.

"Lurik adalah kain tradisional dari nenek moyang kita. Jadi ini tantangan buat saya sebagai desainer lurik, bagaimana untuk menghadirkan lurik agar bisa dipakai anak muda, misalnya dipakai pesta juga bisa," kata Leila.

Busana rancangan Leila Rouf ditampilkan dalam menggunakan berbagai tambahan aksesori seperti tas rotan dan topi jerami. Para model merupakan pegawai Tjokro Hotel Klaten yang memeragakan busana Kaylila Lurik di tengah para tamu yang sedang menikmati malam pergantian tahun.

Leila Rouf (kiri) dan Endang dari Rama Shibori.

"Ini adalah fashion show pertama saya. Jadi ini benar-benar tantangan buat saya untuk menata segalanya dari awal," kata Leila.

General Manager Tjokro Hotel Klaten, Fajar Tri Amboro, mengatakan fashion show oleh Kaylila Lurik turut mengangkat potensi kain lokal sekaligus menjadi daya tarik keunikan para pengunjung hotel dalam Lost in Hawaii.

Selain itu, rancangan busana Leila Rouf dalam Kaylila Lurik juga bisa menjadi contoh buat perajin kain tradisional di Klaten bahwa saat ini rancangan kain tradisional juga harus dibuat kekinian. "Itu penting untuk meningkatkan daya tawar. Rancangan tentunya harus mengikuti selera pasar yang saat ini suka dengan desain yang modern dan kekinian," kata Fajar.

Seluruh koleksi Kaylila Lurik rancangan Leila Rouf dapat dilihat di Taman Kuliner Condongcatur yang terletak di Jalan Anggajaya, Condongcatur, Sleman. Koleksi juga bisa dilihat di Instagram @kaylilalurik sedangkan ragam motif kain shibori yang digunakan dapat dilihat di Instagram @ramashibori.