KOMUNITAS: Kompakers Jogja, Saling Mengapresiasi, Bersama Belajar Fotografi

Komunitas Kompakers memotret bersama - ist
31 Januari 2019 09:35 WIB Lajeng Padmaratri Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Instagram kini tak hanya digunakan untuk membagikan cerita sehari-hari. Jika digunakan dengan bijak, media sosial berbasis foto ini dapat berguna sebagai wadah berbagi karya visual yang menarik. Tak terkecuali yang dilakukan sekumpulan perempuan dalam komunitas Kompakers Jogja.

Komunitas ini bermula ketika Echi Sofwan bersama ketiga sahabatnya senang mengunggah foto dalam waktu bersamaan di Instagram. Perempuan asal Medan itu senang memotret barang pecah belah dan mengunggahnya di media sosial.

“Mereka ada di beda kota dan senang mengunggah foto barang pecah belah di Instagram,” kata Arinda Putri Anugrahani, Ketua Kompakers Jogja saat ditemui Harian Jogja belum lama ini.

Biasanya, Echi dan teman-temannya akan mengunggah foto dengan tema serupa. Untuk mengumpulkan foto-foto tersebut, mereka menggunakan tagar #UploadKompakan.

Mulanya, mereka mengawalinya pada bulan September 2014. Setelah sering mengunggah foto bersamaan, rupanya banyak pengguna Instagram lain yang ikut serta dengan tema mereka. Menginjak bulan November 2014, mereka menggunakan tagar tambahan berdasarkan regional. Salah satunya ialah #KompakersJogja.

Melalui tagar ini, akhirnya komunitas daring tersebut mulai saling berkumpul antar wilayah. Kompakers merupakan sebutan bagi para pengguna Instagram yang turut serta dalam Upload Kompakan.

Arin mengatakan komunitas ini dapat menambah sisi kreativitas anggotanya. Sebab, setiap hari Upload Kompakan memiliki tema foto yang bisa diikuti oleh setiap member-nya. Tema foto ini seringkali mudah didapati di sekitar mereka. Misalnya saja, makanan, nuansa warna tertentu, hingga benda yang sangat spesifik seperti paperclip.

“Dari satu tema paperclip aja hasil fotonya bisa beragam. Satu objek ini bisa dieksplorasi banyak cara. Tergantung kreativitas kita. Kameranya pun boleh apa aja.”

Foto terbaik yang diunggah oleh anggota akan diberi apresiasi dengan diunggah ulang dalam Photo of The Day, hingga ajang Photo of The Year.

Di Jogja, wadah para pengguna Instagram ini didominasi oleh kalangan perempuan. “Kalau untuk Upload Kompakan, laki-laki juga boleh ikut upload. Tapi kalau ada acara kumpul-kumpul, kami memang mengkhususkan untuk perempuan. Soalnya, founder memang ingin menjaga dengan nilai-nilai keislaman,” jelas Arin yang menyandang jabatan Dek Lurah sebagai penyebutan ketua komunitas.

Dirinya termasuk anggota termuda di komunitas tersebut, karena mayoritas anggotanya merupakan kalangan ibu-ibu dan pekerja. Di samping kesibukan para perempuan ini, mereka tetap menyisihkan waktu untuk hobi fotografi.

Kelekatan dengan ajaran Islam ini pun menjadi dasar bagi setiap anggota ketika mengunggah foto. Ketika mengunggah foto, anggota tidak diperkenankan mengunggah foto manusia maupun penampakan makhluk hidup lain.

Sehingga, mereka lebih sering memotret makanan, benda mati, maupun gedung tinggi. Genre yang mereka gunakan ialah still alive photography. Meski menganut nilai Islam, namun Kompakers Jogja terbuka dengan anggota dengan keyakinan selain Islam yang tertarik dalam dunia fotografi.

Kini komunitas Kompakers Jogja tercatat memiliki anggota sebanyak 117 orang. Selain berbagi karya fotografi, setiap Kamis di grup LINE Kompakers Jogja para anggota akan berbagi ilmu tentang dunia fotografi dalam momen Kamis Sharing. Misalnya, bagaimana memilih angle foto yang baik, mengedit hasil foto, hingga tips-tips menyimpan properti fotografi.

Meski begitu, sharing Kompakers Jogja tak terbatas di grup LINE semata. Setiap sebulan sekali, para anggota akan berkumpul untuk mengadakan agenda offline. Entah itu workshop fotografi yang menghadirkan praktisi, maupun sekadar jalan-jalan bersama.