Tips Memilih Makanan Pendamping ASI yang Tepat

Stella Elvina, Founder OMO! Snack menerima hadiah modal usaha Rp1 miliar setelah memenangi kompetisi bisnis MAKERFEST 2018. - Istimewa
27 Februari 2019 19:45 WIB Budi Cahyana Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Memilih makanan bayi tentunya tidak boleh sembarangan karena apa pun yang dikonsumsi akan mempengaruhi tumbuh kembang sang buah hati. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para ibu, khususnya yang memiliki bayi pada usia 6-12 bulan dan telah memasuki masa pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI).

Lastdes Christiany Friday, Dosen di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, membagikan tips bagi para ibu untuk melakukan MPASI. Lastdes juga merupakan Co-Founder dan ahli gizi dari OMO! Healthy Snack, snack sehat untuk bayi. Bersama Stella Elvina selaku Founder, OMO! Healthy Snack berhasil menjadi juara pertama pada puncak kompetisi bisnis MAKERFEST 2018 yang diselenggarakan oleh Tokopedia pada Desember 2018 lalu.

Kenali Kebutuhan Gizi Bayi

Sebelum menentukan menu atau pilihan makanan, Lastdes mengingatkan para ibu untuk memahami kebutuhan gizi bayi. Salah satu caranya adalah dengan mengelompokkan bayi menjadi dua kategori yakni usia 0-6 bulan dan 6-12 bulan. Bayi usia 0-6 bulan hanya memerlukan Air Susu Ibu atau ASI untuk memenuhi kebutuhan gizi. Sementara itu, bayi usia 6-12 bulan tetap harus diberikan ASI sebagai sumber gizi utama dengan mulai memperkenalkan makanan pendamping ASI.

“MPASI diberikan secara bertahap menyesuaikan kemampuan bayi. MPASI dapat dimulai dari makanan lunak seperti bubur saring dan puree. Pemberian MPASI juga menyesuaikan usia dan kondisi bayi,” jelas Lastdes.

Bagi bayi usia 6-9 bulan, ibu dapat mulai memberikan makanan padat yang tinggi karbohidrat dalam porsi kecil. Jenis makanan yang diberikan adalah makanan tunggal ditambah dengan ASI, tanpa gula dan garam tambahan. Mulailah dengan makanan pokok (serealia) seperti nasi, jagung, ubi, labu kuning, kentang, dan pisang. Porsi MPASI adalah 2-3 sendok makan yang diberikan dua kali sehari, pagi dan malam.

Sementara itu, bayi usia 9-12 bulan dapat diberikan makanan padat yang tinggi karbohidrat, protein dan lemak dalam porsi kecil. Pada usia ini, ibu bisa mulai memberikan makanan kombinasi berupa makanan pokok yang dicampur protein hewani (ikan, telur, hari, daging) atau protein nabati (tempe, tahu, kacang-kacangan) dan sayuran (labu siam, wortel, bayam, tomat). Porsi MPASI adalah 250 gram yang diberikan tiga kali sehari, mengikuti waktu makan keluarga.

Memilih Gizi Sesuai

Ibu perlu mengetahui zat yang baik untuk bayinya. Menurut Lastdes, zat yang baik diberikan untuk bayi terbagi menjadi dua, yakni zat gizi makro dan zat gizi mikro. Zat gizi makro terdiri dari makanan berprotein tinggi, karbohidrat cukup, dan lemak cukup. Sementara zat gizi mikro terdiri dari vitamin dan mineral.

Ketika memberikan makanan kepada bayi, sebisa mungkin kita harus menghindari gula dan garam tambahan, kafein yang biasa terdapat pada kopi dan teh, serta monosodium glutaman (MSG). Gula, garam dan MSG sebaiknya tidak diberikan kepada bayi agar mereka tidak memiliki kecendrungan memilih rasa makanan tertentu sejak dini. Hal ini penting agar bayi mau memakan beragam jenis makanan untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Para ibu juga harus menghindari perisa buatan seperti perisa kaldu, pengawet buatan, pewarna buatan, dan makanan mentah kepada bayi.

“Pertimbangan itulah yang membuat kami benar-benar selektif dalam menentukan bahan baku dan kandungan gizi OMO! Healthy Snack. Kami tidak memberikan garam, MSG, maupun gula di dalam OMO! Healthy Snack. Kami ingin memberikan snack yang aman untuk dikonsumsi bayi, apalagi bayi sangat sensitif dalam hal makanan,” jelas Stella, Founder OMO! Healthy Snack.

Memperkenalkan MPASI

Menurut Lastdes, snack dapat dikategorikan sebagai MPASI apabila diberikan diluar waktu makan utama dan dimulai saat bayi berusia 9 bulan. Memperkenalkan MPASI dimulai dari makanan yang lunak kemudian makanan yang lebih keras.

Untuk snack, dalam MPASI ada yang disebut dengan finger food. Finger food adalah MPASI yang dapat digenggam oleh bayi atau balita. Bentuk makanan dibuat menarik misalnya bentuk bunga dan bintang. Makanan dibentuk menarik agar balita dapat menikmati waktu makan dengan tidak terpaksa. Finger food ini juga diterapkan oleh OMO! Healthy Snack, fungsinya agar ibu dapat menjelaskan aneka bentuk tersebut untuk merangsang kecerdasan anak.

Informasi yang diberikan Lastdes tersebut merupakan hal yang juga ia dan Stella terapkan dalam OMO! Healthy Snack. Inovasi yang mereka bawa membuat OMO! Healthy Snack keluar sebagai juara 1 kompetisi bisnis MAKERFEST setelah menjalani penilaian yang ketat oleh enam orang juri berpengalaman yakni William Tanuwijaya (CEO Tokopedia), Gati Wibawaningsih (Dirjen Industri Kecil dan Menengah, Kemenperin), Andi F. Noya (wartawan senior), Arto Soebiantoro,  Yoris Sebastian dan Ben Soebiakto (praktisi-praktisi Brand & Marketing).

Sebagai juara pertama, OMO! Healthy Snack yang digawangi oleh Stella dan Lastdes berhasil memperoleh modal usaha sebesar Rp1 miliar dari MAKERFEST. Hadiah tersebut kini digunakan oleh mereka untuk membeli mesin agar dapat meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk.

Setelah memenangkan kompetisi MAKERFEST, omzet OMO! Healthy Snack meningkat drastis. Saat diluncurkan pada September 2018, omzet OMO! Healthy Snack sekitar Rp5 juta-Rp20 juta. Kini, omzet OMO! Healthy Snack mencapai Rp250 juta-Rp300 juta setiap bulan. Beragam produk dari OMO! Healthy Snack bisa diakses melalui Tokopedia.