Mengenal Sociopreuneur, Usaha yang Dimulai dari Masalah Sosial

Ilustrasi - Popsugar
16 Maret 2019 08:47 WIB Reni Lestari Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Peluang usaha bisa didapat dari mana saja. Banyak motivasi dan pemantik yang bisa digunakan oleh seseorang untuk memulai mendirikan sebuah usaha. Ibu rumah tangga misalnya, umumnya memulai usaha dari pengembangan hobi. Hobi yang ditekuni menjadi sumber penghasilan juga banyak dijalani oleh pelajar dan mahasiswa yang berkeinginan menambah uang saku.

Lalu, pernahkah Anda mendengar istilah sociopreuneur? Orang-orang yang menamakan dirinya sebagai sociopreuneur umumnya menjadikan masalah sosial yang terjadi di sekelilingnya sebagai titik awal mendirikan perusahaan. Selain kejelian dalam menangkap peluang usaha, seorang sociopreuneur juga diyakini menjadi agen perubahan dan memiliki peran dalam mendukung perekonomian dalam lingkup yang luas. Selain itu, ada upaya pemberdayaan masyarakat dan misi dampak sosial tertentu yang terlibat dalam proses usaha berbasis sosial tersebut.

David Christian, sociopreneur dan Co-Founder Evoware, startup produsen edible cup, mengatakan dalam menjalankan sebuah usaha sosial, seorang sosiopreuneur harus tahu tujuan usaha sosial yang berasal dari dalam diri sendiri. Tujuan tersebut tentu saja tidak mengedepankan profit.

"Profit itu penting, tetapi bukan tujuan melainkan hasil. Kita harus berpegang pada value usaha sosial kita agar ketika kendala datang, kita ingat “why” kita menjalankan usaha sosial ini dan terus menjaga keberlanjutan usaha," kata David.

Contohnya Evoware, didirikan David dengan misi mengurangi penggunaan gelas plastik dengan memproduksi gelas yang bisa langsung dimakan setelah dipakai. David menciptakan Ello Jello, gelas yang terbuat dari rumput laut dan berbentuk jelly.

Usaha ini bermula dari problematika yang menempatkan Indonesia di posisi kedua penghasil sampah plastik kedua terbesar di dunia setelah China. Selain memiliki misi menyelamatkan lingkungan, bisnis ini juga merangkul petani rumput laut di Indonesia yang masih dalam kondisi prasejahtera. David juga mengembangkan pembungkus kopi menyerupai plastik dari rumput laut. Serupa dengan Ello Jello, pembungkus kopi tersebut juga bisa dimakan setelah selesai digunakan.

Tak hanya menjalankan bisnis, Evoware juga aktif melakukan kampanye-kampanye pelestarian lingkungan bekerjasama dengan berbagai pihak. Salah satu kolaborasi yang baru-baru ini dijalin yakni dengan FLIX Cinema. Dalam upaya kolaborasi ini, FLIX Cinema berkomitmen mengganti plastik dengan kemasan ramah lingkungan dan mendorong konsumen menggunakan botol minum dengan memberikan potongan harga. Bioskop ini juga mendorong konsumen menggunakan e-tiket sehingga mengurangi sampah kertas yang terbuang.

Selain model bisnis yang berkelanjutan dan adanya misi sosial, hal yang selanjutnya dibutuhkan oleh pengusaha sosial bisa saja berkaitan dengan modal. Artinya jika usaha tersebut sudah mulai bertambah skalanya, diperlukan investor untuk melakukan ekspansi.

Iwan Murty, Chief Executive Officer PT Tristar Service Indonesia mengatakan, sociopreuneur perlu memasukkan unsur pengukuran dampak sosial pada usahanya. Menurutnya kewirausahaan sosial akan terus berkembang di Indonesia karena menurut riset yang dia lakukan, 50% dari pendiri startup memulai bisnisnya karena ingin membuat dampak.

Dari kacamata investor, katanya, dia mengharapkan sebuah usaha sosial jangan hanya fokus pada produk melainkan pada masalah yang ada dan mulai mencari solusi dari situ.

"Pastikan ada pengukuran dampak sosial yang jelas agar meyakinkan para investor akan keberlanjutan usaha tersebut," ujarnya.

Diperlukan motivasi, kerja keras, inovasi dan kreatifitas sesuai perkembangan zaman tanpa melupakan tujuan utama yakni memberi dampak sosial yang positif. Banyak pihak menaruh harapan besar pada sociopreuneurship, bahwa gerakan ini akan menjadi salah satu solusi dari masalah-masalah sosial yang muncul di tengah masyarakat.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia