Tahukah Anda, Olahraga Bisa Menjadi Sarana Penyembuhan Penyakit

Dosen Fisiologi FKKMK UGM, Denny Agustiningsih saat sedang memberikan materi dalam seminar Olahraga Untuk Pencegahan dan Penyembuhan Penyakit dan Pelatihan Peresepan Olahraga, Sabtu (30/3/2019), di Gedung Radiopoetro, FKKMK UGM. - Harian Jogja/Uli Febriarni
31 Maret 2019 02:17 WIB Uli Febriarni Lifestyle Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Universitas Gadjah Mada (UGM) mengajak masyarakat untuk menjadikan olahraga sebagai salah satu media pencegahan dan penyembuhan penyakit. Hal tersebut diwujudkan lewat seminar Olahraga Untuk Pencegahan dan Penyembuhan Penyakit dan Pelatihan Peresepan Olahraga, Sabtu (30/3/2019).

Ketua Panitia, Siswanto mengungkapkan, ada tiga faktor utama yang memengaruhi kesehatan dan umur panjang manusia, yaitu genetika, lingkungan, perilaku. Manusia memiliki sangat sedikit kendali atas faktor genetik, sehingga penting untuk fokus pada faktor lingkungan dan perilaku untuk meningkatkan kesehatan. Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi penyakit tidak menular meningkat, antara lain penyakit hipertensi, diabetes, gagal ginjal kronis, stroke, kanker. 

"Salah satu faktor penting adalah kurang aktivitas fisik," ujarnya, di ruang diskusi Lantai I Gedung Radiopoetro, FKKMK UGM.

Hubungan yang bermanfaat antara olahraga dan kesehatan, telah dikenal sejak abad ke-5 SM. Hal itu juga telah dibuktikan lebih lanjut dalam serangkaian penelitian ilmiah, yang menunjukkan hubungan jelas antara aktivitas fisik dan status kesehatan. Dari penelitian itu dinyatakan, manusia yang terbiasa cara hidup aktif dan bugar, hidup lebih lama dan lebih sehat daripada mereka yang tidak melakukannya.

"Tenaga kesehatan, khususnya dokter harus memahami pentingnya latihan dalam mengobati dan mencegah penyakit kronis. Bukti ilmiah telah menyokong bahwa olahraga adalah obat," ucapnya. 

Dosen Fisiologi FKKMK UGM, Denny Agustiningsih mencontohkan olahraga bagi penderita penyakit kardiovaskular. Peresepan olahraga harus diberikan menyesuaikan kapasitas dan kemampuan pasien, karena olahraga sebagai pengobatan ini bersifat personalize medicine.

Hal yang penting adalah aktivitas olahraga dimulai intensitas rendah, waktu pendek dan harus ada peningkatan, setelah melalui evaluasi misalnya pertiga bulan. Selama jangka waktu itu, pasien dimonitor mulai dari kapasitas fungsional, risiko, motivasi.

"Dilakukan pula evaluasi target. Dilihat dosisnya, boleh naik atau tidak? Kalau boleh dinaikkan, seberapa naiknya?" ujar dia, di hadapan peserta seminar dan pelatihan.

Menurut dia, hasil monitor rutin bukan hanya untuk dokter yang memberikan resep olahraga, melainkan juga untuk pasien, karena pada prinsipnya hasil latihan harus terlihat.

Ada goals dalam mengaplikasikan olahraga sebagai pengobatan, yang biasa disingkat SMART, yaitu spesific, measurable, attainable, realistic, time-based.
"Ada target yang perlu dicapai pasien, misalnya kalau evaluasi pertiga bulan tadi, dalam tiga bulan tekanan darah sistolik pasien harus stabil, dalam tiga kali pengukuran," ungkapnya.

Sementara itu, Dosen Fisiologi FKKMK UGM lainnya, Zaenal Muttaqien Sofro mengatakan, rekomendasi peresepan olahraga harus penuhi asas FITT, frequency, intencity, type, time-based. Selain itu, sebelum menerapkan terapi ini, pasien harus menghitung dan melihat rerata denyut jantung (heart rate) mereka. Jangan sampai ketika latihan, aktivitas mereka melewati ambang batas heart rate mereka. Ini justru akan berdampak buruk bagi tubuh.

Olahraga dapat dilakukan dalam bentuk jalan, berenang, bersepeda dan lainnya, asalkan menggerakkan pula otot-otot besar pada tubuh. Terapi ini bisa dilakukan sembari pasien tetap mengonsumsi obat atau suplemen, yang sudah diresepkan untuk penyakit mereka.

"Bahkan bisa dimungkinkan, secara bertahap, efek dari berolahraga dapat membantu menurunkan dosis obat yang selama ini sudah mereka konsumsi," ungkapnya.