KOMUNITAS: Paguyuban Salon Yogyakarta, Bersama Memperkuat Skill Hadapi Salon Waralaba

Anggota Paguyuban Salon Yogyakarta saat seminar dan pelatihan keterampilan salon belum lama ini. - ist
09 April 2019 07:37 WIB Salsabila Annisa Azmi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Di tengah perkembangan salon-salon waralaba di Jogja, salon-salon milik perorangan yang berjaya pada 90 an kini masih digemari pelanggan-pelanggan setianya. Para pemilik salon-salon itu memutuskan membuat Paguyuban Salon Yogyakarta (PSY) untuk saling memperkaya skill dan ilmu perawatan rambut.

Era 1990-an merupakan kejayaan bagi salon-salon milik perorangan. Semua orang selalu menghampiri salon-salon di pinggir jalan, memilih model rambut di katalog dan mereka dimanjakan dengan tangan-tangan ahli yang mengerjakan rambut mereka dengan berbagai produk perawatan rambut.

"Dulu ada seorang trainer salah satu merk produk yang mengumpulkan kami dalam satu grup Whatsapp [WA]. Dia yang memperkenalkan pemilik salon ke pemilik salon yang lain di Jogja. Tujuannya dikumpulkan supaya kalau ada produk baru, atau model rambut baru, dia gampang menyebarkannya ke salon-salon di Jogja," kata anggota PSY, Subardi, pemilik Salon Baddy di Jalan Gejayan belum lama ini.

Pada 2016, trainer itu pindah tugas wilayah dan meninggalkan mereka. Otomatis trainer tersebut juga meninggalkan grup WA yang sudah dibentuknya.

Para pemilik salon di dalamnya sudah terlalu akrab satu sama lain. Maka Subardi dan anggota lain memutuskan untuk mendirikan PSYpada 29 Agustus 2016. Tak ada struktur organisasi resmi di dalamnya. Semua setara sebagai teman berbagi info dunia persalonan.

Dalam grup itu terdapat ratusan pemilik salon di Jogja, bahkan DIY. Mulai dari pemilik pangkas rambut madura, salon rias manten dan wisuda, salon kecantikan dan perawatan wanita semua berhak berhabung di dalamnya. Jangkauan wilayahnya pun tak pilih kasih, salon-salon kecil rumahan di wilayah perdesaan pun ikut dirangkul komunitas ini. "Tidak ada batasan seberapa besar salon itu. Salon kecil sampai besar, semua bisa gabung dengan kami," kata Subardi.

Di dalam PSY, para anggota saling mengenal dan saling berbagi tentang pengetahuan produk rambut dan kecantikan, teknik potong rambut dan model potong rambut paling anyar hingga berbagi teknik pijat kulit kepala.

Subardi mengatakan semua ilmu dalam dunia persalonan memang tidak ada pakemnya kecuali rebonding dan smoothing, namun kegiatan berbagi pengetahuan di grup whatsapp bertujuan untuk saling menumbuhkan skill dan meratakan pengetahuan sesama pemilik salon.

"Ada pemilik salon yang memang sertifikasi sekolah salon, ada yang merintis salon di rumahnya secara otodidak. Akan tetapi kami di sini semua sama. Justru dengan bergabung dengan kami itu, pengetahuan yang sekolah salon akan diratakan ke semua pemilik salon di dalamnya," kata Subardi.

Mengenai persaingan harga, Subardi mengatakan selama ini tidak ada masalah. Subardi tak menampik memang hasil pekerjaan tangan dari para anggota berbeda-beda. Mereka pun mematok harga yang berbeda-beda dari satu jenis pelayanan.

Akan tetapi, masing-masing salon memiliki segmen pasarnya sendiri. Jadi harga yang ditetapkan memang sudah sesuai dengan segmen yang mereka tuju.

"Kami tidak pernah mempermasalahkan harga. Di sini kami berbagi ilmu saja. Biasanya kami bertemu kalau ada seminar dari suatu brand produk salon. Brand produk kalau mau mengadakan seminar juga langsung ke kami, jadi langsung menyebar infonya," kata Subardi.

Rutin Kumber

Selain dalam seminar, PSY juga rutin menggelar Kumpul Bersama (Kumber) setiap bulan. Subardi mengatakan di dalam grup WA banyak para pemilik salon yang saling akrab dan kenal tetapi belum pernah bertemu karena kesibukan mereka masing-masing. Di situ lah fungsi Kumber untuk mereka. Mulai dari pemilik salon di Jogja, Sleman, Bantul, Kulonprogo hingga Gunungkidul dapat bertatap muka dan saling mengenal.

Rasa saling mengenal juga akan memudahkan operasional salon mereka masing-masing. Bardi mencontohkan suatu salon rias wisuda kebanjiran pesanan saat musim wisuda, pemilik salon itu dapat meminta bala bantuan di grup WA untuk mengirimkan tenaga bantuan. "Sering kami begitu, kalau ada yang kebanjiran pesanan, kirim tenaga kerja buat bantu," kata Subardi.