Ini Dia Fakta-Fakta Soal Delusi

Ilustrasi delusi - Reuters
23 April 2019 12:37 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Seseorang yang mengalami delusi akan mengalami kesulitan membedakan realitas. Gangguan seperti ini termasuk gangguan psikotik.

Delusi, seperti semua gejala psikotik, dapat terjadi sebagai bagian dari banyak gangguan kejiwaan yang berbeda. Namun, istilah gangguan delusi digunakan ketika delusi adalah gejala yang paling menonjol.

Seseorang dengan penyakit ini memiliki keyakinan yang salah, meskipun ada bukti atau bukti yang bertentangan, dikutip HiMedik dari health.harvard.

Orang dengan gangguan delusi biasanya tidak mengalami halusinasi atau masalah besar dengan suasana hati. Tidak seperti orang dengan skizofrenia, mereka cenderung tidak memiliki masalah besar dengan kegiatan sehari-hari.

Ketika halusinasi memang terjadi, mereka adalah bagian dari kepercayaan khayalan. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki khayalan bahwa organ-organ dalam membusuk dapat berhalusinasi bau atau sensasi yang berkaitan dengan khayalan itu.

Karena orang-orang dengan gangguan delusi sadar bahwa kepercayaan mereka unik, mereka umumnya tidak membicarakannya.

Gejala:

Gejala utama adalah khayalan yang terus-menerus atau keyakinan tetap misalnya, tentang situasi, kondisi atau tindakan yang tidak terjadi, tetapi mungkin masuk akal dalam kehidupan nyata.

Jenisnya meliputi:

1. Erotomanik, yaitu khayalan tentang hubungan cinta yang istimewa dengan orang lain, biasanya seseorang yang terkenal atau memiliki kedudukan tinggi.

2. Grandiose adalah khayalan bahwa orang tersebut memiliki kekuatan atau kemampuan khusus, atau hubungan khusus dengan orang atau figur yang kuat, seperti presiden, selebritas, atau Paus.

3. Cemburu atau khayalan bahwa pasangan seksual tidak setia.

4. Penganiayaan, yaitu berupa khayalan bahwa orang tersebut diancam atau dianiaya.

5. Somatik atau delusi memiliki penyakit fisik atau cacat.

Penyebab:

Melansir dari psychologytoday, penyebabnya tidak diketahui, beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang mengembangkan delusi sebagai cara untuk mengelola stres ekstrem atau berurusan dengan riwayat trauma.

Genetika juga dapat berkonstribusi pada perkembangan gangguan delusi. Individu lebih mungkin didiagnosis dengan gangguan delusi jika mereka memiliki anggota keluarga dengan skizofrenia atau gangguan kepribadian skizotipal.

Pengobatan:

Gangguan delusi adalah kondisi yang sulit untuk diobati. Orang dengan kondisi ini jarang akan mengakui bahwa kepercayaan mereka adalah delusi atau bermasalah dan karenanya jarang mencari pengobatan.

Penilaian dan diagnosis yang cermat sangat penting untuk pengobatan gangguan delusi. Karena delusi sering ambigu dan hadir dalam kondisi lain, mungkin sulit untuk membidik diagnosis gangguan delusi.

Selain itu, gangguan kejiwaan yang ada bersamaan harus diidentifikasi dan diobati. Pengobatan gangguan delusi sering melibatkan psikofarmakologi dan psikoterapi.

Sumber : Suara.com