KOMUNITAS: Bebas Tuangkan Ide Berbagai Genre Bersama Komik Strip Jogja

Anggota komunitas Komik Strip Jogja - ist/Komik Strip Jogja
02 Mei 2019 06:57 WIB Salsabila Annisa Azmi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Membuat komik strip atau cerita bergambar yang langsung usai dalam satu halaman membutuhkan ide dan eksekusi yang tidak main-main. Komunitas Komik Strip Jogja terbentuk untuk mewadahi para komikus yang fokus pada komik strip media digital untuk saling mengasah ide storytelling dan teknik menggamba.

Ketua Komunitas Komik Strip Jogja, Prasetyo Pradana bercerita awal terbentuknya komunitas ini melalui kegelisahannya dalam berkarya membuat komik. Banyak komikus yang membuat karakter komik yang seakan-akan sesuai dengan diri mereka. Sementara itu, Pepe, begitu dia akrab disapa, memiliki gaya karakter yang tidak merefleksikan dirinya. Pepe pun pergi ke acara para komikus di UNY pada Desember 2015.

"Ternyata banyak juga yang karakter komiknya unik, saya lihat dua karakter komik yang cocok. Saya hubungi melalui media sosial, konfirmasi apakah dia juga ikut acara di UNY. Ternyata benar ikut, saya ajak mereka bikin komunitas dan mengumpulkan komikus lain," kata Pepe, kepada Harian Jogja, belum lama ini.

Terkumpul enam orang komikus di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Saat itu komikus lain kesulitan mencari titik kumpul karena sinyal ponsel yang buruk. Ditambah lagi mereka tak mengenal wajah satu sama lain karena media sosial mereka hanya memajang karya komik strip dan tidak ada satu pun foto wajah mereka.

Mereka pun harus mencari satu sama lain, memberanikan diri bertanya pada wajah asing apakah benar mereka komikus. Justru kejadian itu yang menguatkan bonding di antara para komikus yang menurut Pepe mayoritas adalah tipe introvert.

Berkat bonding yang terbangun dengan baik di awal, diskusi di grup Line terjalin dengan intensif. Saat ini, terdapat 30 komikus yang tergabung dalam Komunitas Komik Strip Jogja. Mereka semua konsisten produktif mengunggah karya komik stripnya di media sosial masing-masing. Oleh karena itu, Pepe mengatakan, anggota yang bergabung dalam komunitas ini adalah orang yang terpilih.

Tidak semua orang yang bisa membuat komik bisa bergabung di dalam komunitas ini. Pepe menjelaskan seleksi anggota bukan berdasar taste atau karakter komik. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama, harus bisa membuat komik strip. Kedua, berdomisili di Jogja. Ketiga, anggota mengunggah karyanya di media sosial mereka secara konsisten.

"Jadi kalau ada yang mau bergabung tidak langsung kami terima. Kami semangati dulu memposting karya secara konsisten, kalau sudah teruji konsistensinya, boleh gabung," kata Pepe.

Menurut Pepe, sistem pencarian anggota baru seperti itu akan mendorong kreativitas dan produktivitas banyak komikus di luar sana yang hendak bergabung di dalam komunitas ini. Nantinya, anggota yang sudah bergabung akan mengembangkan karya mereka melalui berbagai kegiatan. Salah satunya event tahunan seperti menjadi peserta atau bintang tamu talkshow untuk event komik yang dapat melatih public speaking mereka.

Setiap bulan, komunitas ini menggelar workshop dengan pembicara dari anggota maupun komikus senior, biasanya berlokasi di Rumah Kreatif Jogja. Selain itu, komunitas ini turut aktif mengisi acara Car Free Day yang merupakan program Dinas Pariwisata DIY. Mereka menyediakan tema yang berbeda-beda untuk mengajak masyarakat menggambari bentangan kain mori. Masyarakat umum dapat bergabung dalam dua kegiatan tersebut.

"Orang yang berkarya sendiri dan orang yang berkarya dalam komunitas sama-sama bisa tetap berjalan baik. Akan tetapi menurut saya, berkomunitas membuat karya kita berkembang lebih cepat karena mendapat banyak kritik dan saran dari sesama komikus," kata Pepe.

Dinamika Sosial

Pepe menjelaskan kegiatan inti komunitas biasanya dihabiskan dengan saling berbagi pandangan soal fenomena dan dinamika sosial yang terjadi di sekeliling mereka. Pandangan-pandangan itu lah ide yang akan mereka wujudkan dalam alur cerita berbentuk komik strip di instagram masing-masing. Anggota bebas menuangkan ide dalam berbagai genre. Mulai dari komedi, horor, romantis, imajinasi atau satir.

"Setelah dibuat, kalau anggota mau, bisa didiskusikan dulu ke sesama anggota, apakah memposting karya itu aman atau tidak, mengundang keributan dan kontroversi atau tidak," kata Pepe.

Pepe mengatakan mayoritas para anggota justru bukan anak seni. Sebab komunitas ini hadir sebagai alternatif buat anak-anak yang berminat pada dunia komik strip. Mulai dari usia Sekolah Dasar hingga mahasiswa S2 semuanya boleh menjadi anggota Komunitas Komik Strip Jogja.