KOMUNITAS: Wadahi Pemilik Foodtruck, Kembangkan Skill Bersama

Anggota komunitas foodtruck dalam acara bazaar - ist/Komunitas Foodtruck Jogja
03 Mei 2019 08:27 WIB Salsabila Annisa Azmi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Foodtruck atau biasa disebut gerai makanan berjalan mulai masuk ke Jogja pada 2014. Pada 2015, perkembangan geliat acara-acara seni dan musik di Kota Jogja semakin membuat bisnis foodtruck menjanjikan. Demi menciptakan iklim bisnis foodtruck yang sehat dan saling menumbuhkan, Komunitas Foodtruck Jogja mewadahi para pemilik foodtruck untuk saling berdiskusi dan mengembangkan skill bisnis mereka.

Geliat acara seni dan musik di Kota Jogja mulai memuncak pada 2015. Saat itu bahkan banyak mal yang mengadakan festival makanan dan mendatangkan puluhan foodtruck dengan berbagai jenis kuliner. Sekretaris Komunitas Foodtruck Jogja, Dinda Rachman Sebayu Putra mengatakan saat itu dirinya dan puluhan pemilik foodtruck lainnya mengikuti acara festival makanan di salah satu mal.

Saat situasi lengang pembeli, para pemilik foodtruck saling berbincang mengenai harga sewa dan profit sharing yang mereka dapatkan.

“Ternyata kami diberi biaya sewa yang berbeda-beda, profit sharing-nya [pembagian keuntungan] pun juga berbeda antara satu foodtruck dengan foodtruck yang lain. Akhirnya kami sampai pada kesimpulan, kenapa kita enggak bikin komunitas foodtruck aja, kami bergabung jadi satu, biar kalau ada orang yang pesan, lewatnya satu pintu,” kata Dinda saat ditemui Harian Jogja belum lama ini.

Dinda menjelaskan definisi foodtruck. Foodtruck sejatinya adalah mobil yang dimodifikasi sedemikian rupa, di mana di dalamnya terjadi proses pengolahan bahan makanan dari mentah menjadi matang. Tak ada syarat apapun untuk masuk ke komunitas ini kecuali memiliki unit foodtruck dan brand makanan atau minuman.

Syaratnya, mereka harus berdagang dengan makanan andalan dari brand tersebut secara konsisten. Jika ingin menjual produk lain selain yang ditonjolkan tetap diperkenankan.

Kompleksitas dinamika komunitas berbasis bisnis ini mulai terlihat saat mulai banyak panitia dari acara-acara seni, musik, atau festival makanan yang meminang komunitas ini untuk mengisi acara mereka. Tentunya dalam acara tersebut selalu ada kuota foodtruck yang diminta. Dinda menjelaskan keadaan ini sempat membuat sedikit konflik dalam komunitas. Pemilik foodtruck antara satu dengan yang lain saling berebut masuk ke sebuah acara.

“Akhirnya kami bangun sistem antrean, di mana setiap foodtruck memiliki nomor. Ketika ada acara masuk di kami minta kuota 30 misalnya, berarti foodtruck yang masuk adalah nomor antrean satu hingga 30. Ada acara lagi, berarti nomor selanjutnya, yang udah ikut acara sebelumnya tidak boleh ikut lagi. Komunikasi komunitas jadi jauh lebih baik,” kata Dinda.

Sebelum para anggota memutuskan untuk ikut serta dalam sebuah acara, mereka akan mengukur prospek penghasilan dari jalannya acara tersebut pada tahun lalu. Namun apabila ada acara baru pertama kali digelar, komunitas ini juga siap meramaikan sudut kuliner acara tersebut. Berkat kekompakan dan kekonsistenan hadir di setiap acara besar, pesanan dari instansi plat merah pun membanjiri komunitas ini.

“Kami sudah dua kali ikut event pemerintahan, pasti repot kalau mau mengurus NPWP dan administrasi karena kebanyakan bisnis foodtruck dikelola anak muda yang bisnisnya masih kecil. Akhirnya pada 2017 kami melegalkan komunitas kami supaya proses kerja sama dengan semua pihak bisa lebih lancar,” kata Dinda.

Wawasan Bisnis

Di dalam komunitas ini, para pemilik foodtruck bisa saling berbagi insight bisnis. Seperti perbaikan cita rasa makanan, branding, bahkan ide modifikasi mobil dan ilmu bengkelnya.

Komunitas ini juga menerapkan prinsip datang bersih, pulang bersih. Artinya, mereka tidak menyisakan sampah sedikit pun di lokasi acara. Setiap mengirimkan foodtruck ke event luar kota dan terjadi kerusakan foodtruck di jalan, para anggota berkomitmen untuk sigap mengirimkan foodtruck pengganti demi menjaga loyalitas dan kepercayaan klien.

Setiap komunitas juga wajib menjalani SOP sebelum berangkat, yaitu cek kelayakan foodtruck dari sisi listrik dan APAR. Dinda selalu menekankan pada anggotanya bahwa foodtruck ibarat bom waktu. Mulai dari listrik, kompor dan mesin mobil rawan terbakar dan meledak, maka APAR harus terstandar.

“Jika anggota belum bisa beli APAR, bisa kami belikan dulu, sebab itu wajib semua anggota punya,” kata Dinda.