MODE: Inspirasi Kaftan di Bulan Ramadan dari Dian dan Wini

Rancangan Lady in Kaftan - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
09 Mei 2019 07:07 WIB Lajeng Padmaratri Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebutan kaftan biasanya merujuk pada model pakaian panjang berpotongan longgar yang berasal dari Timur Tengah. Busana ini juga identik digunakan untuk momen religi. Namun, melalui Lady in Kaftan, Dian dan Wini ingin membawa kaftan bisa diterima kalangan yang lebih luas.

Dalam sejarahnya, kaftan merupakan busana tradisional di Persia untuk perempuan muslim. Bentuknya yang panjang dan longgar umumnya terbuat dari sutra, wol, dan kapas. Baru ketika para perempuan muslim ini tergusur ke Maroko karena akuisisi Spanyol, perempuan-perempuan itu mengembangkan kaftan dengan menambah aksen payet, benang emas, dan bebatuan untuk mempercantik kaftan.

Hal itu pula yang dilakukan oleh Dian dan Wini melalui brand Lady in Kaftan. Mereka menambah ornamen bebatuan dan payet kuning ke dalam kaftan mereka. Bedanya, pada pergelaran Jogja Fashion Festival beberapa waktu lalu, keduanya turut memberikan sentuhan kerang di antara payet dan bebatuan itu.

Ornamen-ornamen itu ada yang tersebar di seluruh kain, ada pula yang dipusatkan di bagian dada dan leher seperti kalung.

Mengangkat tema Mentereng, busana seri Lady in Kaftan diwujudkan dengan bahan dasar kain tradisional Palembang menjadi rancangan busana yang lebih modern nan mewah. Motif jumputan Palembang yang kini sedang digandrungi oleh masyarakat dipilih Dian dan Wini menjadi motif kaftan yang mereka padukan dengan songket.  “Kami print sendiri kainnya. Jumputan yang modern dengan songket yang klasik itu kami gabungkan,” kata Dian.

Melalui Lady in Kaftan, kaftan tak lagi menjadi busana single piece, melainkan bisa dibentuk menjadi beragam model pakaian. Kesan yang melekat pada kaftan sebagai busana acara religi ataupun acara formal pun mereka ubah. Kedua perempuan Palembang ini ingin kaftan bisa digunakan untuk berbagai kesempatan. Termasuk inspirasi busana Anda untuk acara buka puasa bersama pada Ramadan kali ini.

Delapan rancangan busana yang ditampilkan pun tak melulu menunjukkan kaftan sebagai pakaian sepanjang mata kaki yang longgar, melainkan dikreasikan menjadi outer berlayer, jumpsuit, tunik, blazer, dan rok pendek.

Meski kaftan basic tetap mereka tampilkan, namun Dian dan Wini membuat modelnya menjadi tidak membosankan dengan potongan asimetris berbagai rupa.

Mentereng menggunakan dua bahan utama yaitu voal silk dan scuba untuk mendapatkan kesan busana yang mewah, namun tidak panas. “[Rancangan] kami ini agak terang sih, main di warna-warna merah wine, hitam, dan gold. Warna-warna Palembang sebenarnya,” ujar Dini.

Pemilihan warna dan penambahan payet itu sejalan dengan tujuan Dian dan Wini untuk membuat rancangan desain yang lebih mewah dan glamor. “Tapi tetap kesannya ringan dan nggak berat, sudah kelihatan cantik, dan fokus di payet,” kata Dini.

Anggun Berkelas

Ia ingin penambahan ornamen pada busananya sudah cukup menunjukkan pemakainya terlihat berkelas dan anggun tanpa perlu penambahan perhiasan lainnya. “Biar anggun tapi simpel enggak ribet. Jadi dia nggak harus pakai perhiasan macem-macem tapi dengan baju yang dia pakai dia sudah menampilkan kelihatan mewah,” katanya.

Lady in Kaftan menargetkan perempuan dewasa sebagai segmentasinya. “Segmennya kita biasanya dari 25 tahun ke atas sampai 60 tahun. Soalnya kadang-kadang orang tua juga pakai, yang muda juga pakai,” kata dia.

Terlebih, ia melihat jika saat acara-acara hari raya, kaftan pun dipakai oleh anak-anak. Meski begitu, Dian tak ingin kaftan hanya dikenakan untuk acara formal dan identik dengan acara religi. “Tapi ya kayak nonformal, misal acara-acara kantor yang semiformal itu bisa dipakai. Biar lebih luas pasarnya.”

Kini, penjualan busana Lady in Kaftan masih terbatas dengan sistem online dan pembelian langsung saat pameran. Untuk melihat rancangan koleksi Dian dan Wini, bisa dilihat di Instagram @ladyinkaftan.