PARENTING: Saatnya Lebih Memperhatikan Pola Asuh Anak pada Zaman Digital

Anak main gadget - lifehacker
11 Mei 2019 04:07 WIB Syaiful Millah Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Pesatnya perkembangan teknologi tak bisa dipungkiri telah mengubah seluruh sendi kehidupan. Salah satunya adalah kehadiran smartphone atau ponsel pintar dan media sosial yang tak hanya mengubah pola komunikasi antarpertemanan, tetapi juga lingkup antaranggota keluarga.

Memang, keberadaan ponsel pintar sebagai perangkat penunjang sangat membantu dan berguna dalam memenuhi kebutuhan komunikasi sehari-hari. Akan tetapi, banyak juga penelitian yang menyebutkan bahwa penggunaan ponsel pintar telah menciptakan jarak antara anak dan orang tua.

Agaknya, sebuah ungkapan yang seringkali kita dengar saat ini yakni “Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat” memang terjadi dalam era digital ini.

Profesor psikoanalisis kontemporer dan perkembangan sains dari University College London, Peter Fonagy mengatakan kesenjangan komunikasi antara anak dan orang tua memang telah terjadi sejak berakhirnya perang dunia kedua, tetapi era modernisasi saat ini makin menajamkan kesenjangan tersebut.

Kedatangan ponsel pintar dan maraknya penggunaan media sosial membuat lingkungan keluarga saat ini menjadi jauh lebih kompleks. Seolah ada dunia yang berbeda antara orang tua dengan anak, dan keduanya merupakan dunia masing-masing.

Hal tersebut dinilai menjadi dampak dari kemajuan teknologi, yang apabila tidak diakomodasi dengan tepat akan berimbas negatif, sebab akan mengancam perkembangan anak dan mengganggu hubungan yang penting antara anak dan orang tua.

Terlebih lagi, menurut data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebutkan sekitar 75% anak berusia 10—12 tahun di Indonesia telah menggunakan ponsel pintar dan memiliki media sosial. Angka yang cukup besar, yang berarti besar pula kemungkinan hubungan keduanya bakal dipertaruhkan.

Pengaruh

Psikolog anak dari Tiga Generasi, Anastasia Satriyo meyakini bahwa kedekatan hubungan fisik dan emosional antaranggota keluarga merupakan hal yang sangat penting dan akan berpengaruh terhadap perilaku dan perkembangan anak di masa mendatang.

Era digital memang menjadi tantangan tersendiri dengan daya pikat yang kuat dari ponsel pintar beserta seluruh kontennya dibandingkan dengan nilai kekeluargaan yang terkesan konservatif. Namun, bukan berarti tidak ada upaya yang bisa dilakukan terkait hal itu.

Justru, perkembangan teknologi yang ada seperti kehadiran ponsel pintar dan media sosial seharusnya bisa dimanfaatkan untuk makin mendekatkan para orang tua dengan anak-anak mereka.

“Sudah bukan saatnya lagi anti terhadap digital. Orang tua harus lebih kreatif supaya perkembangan ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menjaga hubungan seluruh anggota keluarga.”

Misalnya, terlibat dengan aktivitas media sosial anak. Anastasia menyebut bahwa sekarang kecenderungan anak sudah tidak lagi menghindari orang tua dalam kegiatannya di media sosial. Begitu banyak bentuk kedekatan anak-orang tua yang seringkali kita lihat berseliweran di berbagai jejaring sosial.

Meskipun demikian, sekali lagi hal ini perlu kesadaran orang tua terhadap perilaku anak mereka. Para orang tua sangat disarankan untuk mengenali anak lebih jauh dengan lebih banyak berinteraksi secara nyata ketika ada kesempatan.

Baru kemudian, mereka bisa terlibat dalam aktivitas kekinian si anak.

Cara selanjutnya adalah menjadikan konten-konten digital sebagai hiburan bersama untuk seluruh anggota keluarga.

Saat ini telah banyak platform penyedia layanan konten baik gambar, audio, maupun video yang tersedia dan bisa dimanfaatkan untuk menciptakan bounding,

“Nonton bareng itu kan bisa karena ada teknologi juga. Bagus untuk mendekatkan semua anggota keluarga,” ujarnya.

Selain video, konten gim tentu saja bisa menjadi sarana menarik untuk bermain bersama keluarga. Para orang tua disarankan lebih aktif untuk merekatkan suasana kekeluargaan di era digital seperti sekarang ini.

Pada intinya, derasnya perkembangan teknologi yang mengubah pola perilaku berkehidupan memang tak bisa dibendung. Mau tidak mau kita akan terdampak dari derasnya arus itu.

Akan tetapi, bahwa kita tetap bisa berimprovisasi dan menyesuaikan diri adalah sebuah pilihan. Jadi, mari berkreasi agar digitalisasi membuat hidup kita lebih baik lagi.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia