PARENTING: Jaga Kesehatan Mental Anak, Jangan Abaikan Perubahan Emosinya

Ilustrasi anak dan orang tua - Reuters
18 Mei 2019 05:17 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Selain menjaga kesehatan fisik, orang tua juga perlu memperhatikan kesehatan mental anak-anak. Seperti manusia dewasa, anak-anak juga bisa stres dan depresi.

Sebagaimana melansir dari Etimes, belum lama ini, ada beberapa penelitian dan laporan yang mengkhawatirkan akhir-akhir ini menyoroti krisis kesehatan mental yang dihadapi oleh anak-anak. Apakah kalian sebagai orang tua memberi tahu anak Anda bahwa anak-anak nakal sajalah yang merengek?

Lalu apakah Anda juga merusak emosi negatif mereka dengan berasumsi bahwa ia terlalu kecil untuk merasa stres bahkan tertekan?

Banyak orang tua yang salah karena mengabaikan sisi perilaku anak mereka seperti ini, yang bisa menjadi buruk seiringnya waktu.

Penting untuk mengakui bahwa anak-anak dan remaja juga memiliki perasaan yang kompleks seperti frustasi, kegembiraan, kegugupan, kesedihan, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan, dan rasa malu. Sulit bagi mereka untuk mengekspresikan diri sehingga mereka cenderung berkomunikasi dengan cara lain, yang terkadang bisa bertindak dengan cara yang tidak pantas atau salah.

Menurut para ahli, gangguan perilaku seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), adanya gangguan perilaku, serta kesulitan belajar tentu sering diabaikan pada anak-anak yang bersekolah. Selain itu, gangguan depresi dan kecemasan, yang sebenarnya umum terjadi pada anak-anak, bahkan sering diabaikan tanpa adanya pengawasan.

Anak depresi

Sebuah studi yang dilakukan oleh Fortis menemukan bahwa ada tingkat kelalaian dan ketidaksadaran yang tinggi tentang masalah kesehatan mental pada anak-anak sekolah. Penelitian yang dilakukan mengungkapkan bahwa 65% pembimbing percaya bahwa siswa tidak mengetahui penyakit mental yang umum.

Media sosial dilaporkan sebagai sumber informasi pilihan bagi siswa tentang kesehatan mental. 91% dari peserta percaya bahwa kesehatan mental tidak diberikan kepentingan yang memadai di sekolah, 96% mereka megakui perlunya memasukkan kurikulum kesehatan mental dalam sekolah, 29% pebimbing percaya bahwa ketika dalam kesusahan, siswa lebih suka menyimpan kekhawatiran mereka sendiri daripada berbicara, dan 88% peserta percaya bahwa siswa tidak tahu bagaimana merespon ketika teman mereka berbicara tentang masalah psikologis atau emosional.

Kesejahteraan mental

Samir Parikh, MBBS, DPM, MD (psy), Konsultan Psikiater, Direktur-Departemen Kesehatan Mental dan Ketua Ilmu Perilaku - Fortis National Mental Health Council mengatakan, bahwa paling awal untuk diperkenalkan adalah pentingnya kesejahteraan mental. Mulai dari kecil untuk menanamkan pentingnya kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis sebagai bagian menyeluruh dari kesehatan.

Kebutuhan akan orientasi awal terhadap kesejahteraan mental seperti ini sangat penting untuk memastikan bahwa anak-anak tidak ragu untuk menjangkau setiap kali mereka merasa tidak nyaman. Serupa dengan mereka yang melaporkan ketidaknyamanan fisik atau rasa sakit, mereka perlu belajar untuk merasa nyaman berbicara tentang rasa sakit dan ketidaknyamanan psikologis mereka saat tumbuh dewasa.

Penyakit mental perlu diperkenalkan dalam konteks model medis, seperti halnya dengan penyakit medis lainnya, mengorientasikan mereka tentang tanda dan gejala yang luas. Tujuan memperkenalkan penyakit mental tidak hanya mendidik anak-anak, tetapi juga membantu mereka diperlengkapi untuk melawan stres.

Sumber : Okezone