PARENTING: Gampang-Gampang Susah Ajarkan Anak ke Toilet

Ilustrasi toilet training (womantalk)
20 Mei 2019 05:17 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianogja.com, JOGJA-Jika anak sudah cukup umur ajarkan buang air kecil dan buang air besar ke toilet. Tentu tak mudah, Anda harus bersabar agar mereka bisa lepas dari popok. Ada hal-hal sederhana yang bisa Anda coba, berikut ini daftarnya:

1. Ajari anak untuk menyatakan keinginannya buang air kecil, misalnya “Ingin pipis”, “Kencing”, dan sebagainya.
2. Ajari anak untuk bisa merasakan apakah popoknya dalam keadaan kering atau basah.
3. Ajari anak untuk mau duduk di kursi pipis (potty chair).

Setelah anak mampu melakukan hal tersebut, barulah toilet training dimulai. Hal-hal yang dapat Anda lakukan adalah:
1. Sediakan banyak waktu di rumah selama proses toilet training. Terlalu banyak bepergian umumnya akan menyulitkan proses latihan ini.
2. Berikan contoh pada si Kecil mengenai hal-hal yang dilakukan di toilet.
3. Ciptakan rutinitas, misalnya ajak si kecil duduk di kursi pipisnya tiap 2 jam sekali atau setelah 45 menit ia minum banyak air putih.
4. Hindari penggunaan popok sepanjang hari.
5. Berikan hadiah atau apresiasi pada si kecil bila ada kemajuan yang diraihnya.

Selain melakukan hal-hal itu, ada dua hal yang perlu Anda hindari saat mengajari anak buang air kecil di toilet yaitu memberikan hukuman dan memaksa anak untuk duduk di kursi pipis bila ia tidak menghendakinya. Hal tersebut bisa menimbulkan keengganan anak untuk melanjutkan toilet training.

Lama waktu yang dibutuhkan hingga anak berhasil toilet training berbeda-beda. Ada anak yang sudah mampu melakukannya dengan baik setelah dilatih selama beberapa hari, tetapi tak jarang pula anak memerlukan beberapa bulan untuk mempelajarinya.


Namun secara umum, anak yang sudah berusia 5 tahun telah mampu mengontrol otot kandung kemihnya sehingga seharusnya mereka tidak mengompol lagi.
Jika Anda memiliki anak yang telah berusia 5 tahun ke atas dan masih mengompol, segeralah berkonsultasi dengan dokter spesialis anak, karena kemungkinan ada gangguan perkembangan yang terjadi.

Sumber : JIBI/Solopos