PARENTING: Agar Anak Tak Melulu Was Was, Ini Kiatnya

Ilustrasi - Babypost
29 Mei 2019 06:27 WIB Reni Lestari Lifestyle Share :

Harianjogja.com JAKARTA - Perasaan tidak aman atau insecurity pada anak bisa menyebabkan banyak gangguan dalam kehidupan sosialnya, mulai dari kemunduran prestasi akademik, hingga yang paling fatal keinginan untuk mengakhiri hidup. Kehilangan rasa aman atau secure banyak dialami oleh anak remaja dan menjelang dewasa.

Fania, guru bimbingan konseling di SMP Al-Azhar Jakarta menceritakan, salah seorang muridnya mengalami kemunduran prestasi akademik yang signfikan. Setelah ditelusuri, ternyata sang anak mengalami kondisi multicultural parenting, yakni orang tua dengan latar belakang budaya yang berbeda.

"Anak ini bapaknya orang Indonesia, dari suku Sunda, sementara ibunya dari Jepang," kata Fania.

Di rumah, lanjutnya, ibunya mendorong si anak untuk belajar giat dengan jadwal yang telah ditentukan. Sebaliknya, sang ayah cenderung santai dan memberi ruang bagi anak untuk melakukan hal lain di luar urusan akademik. Dua sosok berbeda prinsip ini menjadikan kondisi psikis si anak terganggu, dia merasa lelah karena terus menerus menerima instruksi yang berbeda dari kedua orang tuanya, hingga akhirnya memunculkan keengganan belajar.

"Sampai akhirnya dia cerita bahwa dia benci sama ibunya," lanjut Fania. Saat dipanggil kedua orang tuanya untuk menemukan solusi atas masalah ini, ibu dan ayahnya pun tidak mau bersepakat.

Psikolog Zahrasari Lukita Dewi mengatakan banyak sekali terjadi kasus-kasus dimana anak kehilangan kemauan belajar hingga menarik diri dari lingkungan sekitar. Umumnya, hal ini disebabkan oleh ketiadaan figur yang melekat pada diri si anak, atau dikenal dengan istilah figure attachment.

Sosok yang melekat dalam diri anak umumnya adalah orang tua. Sosok yang bisa dia andalkan ketika anak mengalami kesulitan hidup. Namun, dalam banyak kasus, orang tua gagal menjadi figur yang melekat pada diri anak. Hal ini menyebabkan tingginya perasaan tidak aman atau insecurity pada anak hingga menimbulkan banyak masalah. 

Zahrasari mengatakan, inetraksi yang intens antara anak dengan figur attachment-nya merupakan modal yang kuat bagi anak untuk memupuk perasaan secure dalam dirinya.

"Bagi anak dia akan melihat, seberapa available-kah figur ini untuk saya, seberapa besarkah figur ini saya andalkan jika saya mengalami kesulitan, seberapa hadirkah dia secara fisik untuk saya, pengalaman itu akan membuat anak merasa secure atau tidak secure," jelasnya. 

Pada kasus yang dialami Fania, Zahrasari menduga ada figur attachment tetapi tidak signifikan berpengaruh pada diri anak. Maka dalam hal ini yang harus dilakukan oleh orang tua adalah duduk bersama dan bersepakat untuk menjadi figur orang tua yang benar-enar hadir bagi anak, menjadi sosok yang membuat anak merasa aman dan nyaman untuk bertumbuh menjadi pribadi dewasa.

"Kalau memang orang tuanya tidak bisa kita tempatkan menjadi figur attachment, kita harus carikan figur pembanding, yang penting anak itu perlu secure-nya dulu, apalagi saat anak berpikir untuk bunuh diri," katanya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia