Tiga Kain Nusantara Berwarna Cerah untuk Anak-Anak

Fashion Show Inklusi di Hotel Tasneem/ist-Mahardika - Kaylila Lurik
29 Mei 2019 08:47 WIB Salsabila Annisa Azmi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tiga kain nusantara berpadu memeriahkan gelaran Fashion Show bertajuk Celebrating Inclusivity with Traditional Clothing di Ayola Tasneem Hotel, belum lama ini. Tiga kain itu dirancang khusus untuk dikenakan anak-anak yang menjadi model dalam gelaran busana hari itu.

Kain batik ala Allea Batik, lurik ala Kaylila Lurik dan kain shibori ala Rama Shibori berduet membentuk konsep motif yang ceria dalam busana ready to wear. Nyaman digunakan anak.

Puluhan anak-anak berkebutuhan khusus dan non berkebutuhan khusus tambil bersama orang tua mereka, bergaya di catwalk dengan busana yang memadukan tiga jenis kain. Kain batik dalam busana mereka merupakan rancangan Umi Masruro, pemilik Allea Batik. Dalam kesempatan itu, Umi menampilkan motif batik kontemporer modifikasi.

“Karena fashion show ini konsepnya ready to wear dan digunakan oleh anak-anak juga, di situ lah tantangan saya menentukan motif. Biasanya saya mendesain motif untuk usia 23 hingga 30 tahun, jadi kali ini saya modifikasi motif batik yang sudah ada,” kata Umi kepada Harian Jogja, belum lama ini.

Motif batik pakem seperti motif kawung dan parang digambar ulang oleh tangan Umi dengan guratan garis yang lebih santai dan luwes.

Garis-garis itu menggambarkan tren fesyen batik yang dinamis dan mengikuti segala usia. Umi juga menggunakan motif dari kain batik sisa rancangan dewasa yang masih cocok dikenakan anak-anak.

“Supaya cocok dikenakan anak-anak saya pilih yang warnanya pastel cerah. Begitu juga dengan motif modifikasi saya juga mengenakan warna pastel yang cerah seperti kuning, hijau muda, biru, semua saya gunakan di 10 busana buat fashion show inklusi,” kata Umi.

Selain kain batik kontemporer buatan Umi, anak-anak berkebutuhan khusus juga menggunakan busana dengan kain shibori dengan motif modern dan warna yang ceria. Endang Rama Shibori, pemilik Rama Shibori, mengatakan dia menggunakan kain shibori motif itajime, orinui, kumo dan arashi.

Proses Melipat Kain

Endang mengatakan motif itajime identik dengan persegi, teknik pembuatannya melibatkan proses melipat kain secara memanjang dan membentuk persegi.

Motif orinui dihasilkan dari teknik menghias kain dari kain yang dijahit jelujur sederhana, jahitan kemudian ditarik seketat mungkin menghasilkan kerutan yang rapat, hasil akhirnya berupa motif kerutan memanjang.

Sedangkan motif kumo menghasilkan motif tiga dimensi seperti jaring laba-laba. Motif yang berbeda dari motif lainnya adalah motif arashi di mana motifnya menyerupai rintik-rintik hujan.

Motif ini didapat dengan teknik kain yang diikat secara silindris kencang-kencang.

Motif-motif itu dikemas dalam warna biru muda, kuning, oranye, dan hijau muda. “Secara motif memang umum, hanya saja saya bermain di perpaduan warna cerah agar sesuai dikenakan anak-anak dan menonjolkan kesan ceria

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia