Rokok Dianggap Menjadi Penyebab Awal Penyalahgunaan Narkoba

Ilustrasi merokok - reuters
27 Juni 2019 07:57 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-- Salah satu cara untuk menekan kasus penyalahgunaan narkoba adalah dengan memerangi rokok. Hal itu diungkapkan oleh psikolog Reza Indragiri Amriel.

"Saya kerap menyatakan bahwa rokok adalah gerbang ideal untuk menjadi penyalahguna narkoba," katanya di Jakarta, Rabu (26/6/2019) malam, merefleksikan Hari Antinarkotika Internasional yang diperingati setiap 26 Juni.

Menurut dia, idealnya pemerintah melakukan pelarangan terhadap rokok untuk mengantisipasi terpengaruhnya generasi muda oleh narkoba.

Bersama Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), ia mendorong agar rokok masuk secara eksplisit dalam pasal pidana pada Undang-Undang Perlindungan Anak.

Reza yang pernah menulis buku berjudul "Psikologi Kaum Muda Pengguna Narkoba" menyampaikan anak-anak muda adalah kelompok masyarakat yang paling vital, sekaligus paling riskan.

Artinya, kata alumnus psikologi forensik University of Melbourne itu, pemerintah harus berhati-hati dalam menyikapi persoalan menyangkut anak-anak muda.

Penyalahgunaan narkoba, keluarga yang tidak harmonis, dan kesulitan ekonomi, kata dia, secara klasik kerap disebut sebagai biang kerok utama kejahatan.

"Dan ketiganya ada di sini," kata Dosen Perlindungan Anak, Politeknik llmu Pemasyarakatan (Poltekip), Kemenkumham itu.

Ia mengatakan anak-anak muda merupakan sasaran empuk peredaran narkoba karena untuk menghancurkan generasi suatu negara tidak lagi harus pakai bom.

"Narcoterrorism. Perdagangkan narkoba dalam kemasan kecil agar terjangkau, bahkan oleh anak sekalipun," ujarnya.

Setelah ketagihan, lanjut dia, mereka akan menjadi konsumen setia dengan takaran yang semakin lama semakin besar.

Pada tahap awal, kata dia, cara tersebut memang menghasilkan profit yang kecil, tetapi secara gradual dan dalam tempo singkat permintaan konsumen akan menggila dengan potensi keuntungan kelas dewa.

Reza berpendapat "pull factor" atau faktor penarik pada kalangan anak dan remaja bisa berupa ajakan, tekanan teman, dan media.

"Sementara, 'push factor'-nya adalah anak dan remaja tidak cukup asertif untuk mengatakan 'tidak'. Jadi, 'pull' bertemu 'push', sempurna," katanya.

Sumber : Antara