Orang Indonesia Sadar Pentingnya Pencadangan Data Ponsel, tapi Masih Sedikit yang Melakukannya

Pengunjung berada di gerai ponsel pintar di sebuah pusat perbelanjaan, di Jakarta, Rabu (20/6/2018). - JIBI/Dwi Prasetya
09 Juli 2019 13:07 WIB Deandra Syarizka Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Hasil survei bertajuk “Indonesia Consumer Mobile Habit and Data Management Survey” yang dilakukan oleh Deka Insight and Solutions dan dikomisikan oleh Western Digital Corp menunjukkan pengguna ponsel di Indonesia telah memiliki kesadaran yang cukup tinggi mengenai pentingnya melakukan pencadangan data ponsel pintarnya. Namun, frekuensi pencadangan data yang dilakukan masih minim.

Survei itu dilakukan terhadap 1.120 responden pengguna ponsel pintar di 6 kota besar di Indonesia yaitu Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, dan Yogyakarta. Survey dilakukan secara wawancara langsung pada periode 27 Februari hingga 11 Maret 2019.

Research Director Deka Marketing Research Mamik S. Leonardo menyatakan sebanyak 81% responden telah memiliki kesadaran mengenai pentingnya melakukan pencadangan data, sedangkan 19% sisanya tidak menganggap pencadangan data sebagai hal yang penting. Meski demikian, kesadaran yang tinggi itu tidak menjamin seringnya frekuensi pencadangan data dilakukan.

“Mereka tahu backup data itu penting, tetapi melakukannya masih jarang. Hampir 40% responden yang tidak memiliki frekuensi rutin melakukan backup dalam sebulan,” ujarnya, Senin (8/7/2019).

Berdasarkan hasil survei, sebanyak 30% responden melakukan pencadangan data lebih dari sekali dalam tiga bulan, 20% responden melakukan pencadagan data sekali dalam sebulan. Sementara hanya 17% responden melakukan pencadanan data tiga kali dalam sebulan, 16% kurang dari sekali dalam sebulan, dan 6% dua kali dalam sebulan.

Akibat kurangnya frekuensi pencadangan data, sebanyak 67% responden pernah mengalami kehilangan data, sementara hanya 33% yang tidak pernah mengalaminya. Penyebabnya berbagai macam, mayoritas responden atau sebanyak 51% kehilangan data karena melakukan penghapusan data untuk memperbesar kapasitas penyimpanan, 26% kkarena mendapatkan pemberitahuan mengenai penuhnya kapasitas penyimpanan.

Sementara itu, 22% responden kehilangan data karena gawai yang rusak, 21% tidak sengaja menghapus file, 18% diserang virus, 17% mengalami file yang rusak, 15% tidak bisa mengambil gambar karena penuhnya kapasitas penyimpanan, 11% karena gawai yang hilang, dan 5% karena gagal memindahkan data ke gawai yang baru.

Adapun dari perangkat penyimpanan, sebanyak 70% konsumen masih mengandalkan microSD, 18% laptop, 12% USB, 7% flashdisk on the go, 6% email, 6% media sosial dan 5% harddisk.

Dia menambahkan, umumnya masyarakat Indonesia menggunakan ponsel pintar dengan memori internal 16—32 GB. Namun, kapastas ini dinilai tidak cukup untuk menampung foto dan video yang terus bertambah. Hasil survei mencatat lebih dari setengah responden mengatakan bahwa mrka hanya memiliki sisa memori 1—3 GB di gawainya.

Direktur Sales Regional Western Digital Amy Tan menyatakan kehadiran ponsel pintar telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun, saat masyarakat membuat konten, kerap kali mereka lupa untuk melindunginya.

“Selama ini banyak yang berpikir bahwa proses pencadangan data adalah sesuatu yang rumit atau terlalu memakan waktu,” ujarnya.

Dia menambahkan, untuk membantu pengguna mengelola dan mencadangkan data dengan mudah dan cepat, Western Digital menawarkan solusi terbaru dari brand SanDisk yaitu SanDisk Dual Drive dan iXpand Flash Drive. Dengan kedua perangkat yang terhubung dengan aplikasi ini, pengguna ponsel pintar dapat mengelola dan mencadangkan data dengan mudah.

Pada bagian lain, riset yang dilakukan HP menunjukkan pentingnya personalisasi dalam satu produk. HP meluncurkan infografis yang didapatkan dengan menganalisis 45 juta percakapan dalam jaringan di 4 negara yang menunjukkan bahwa konsumen bersedia membayar lebih untuk produk dipersonalisasi, seperti produk yang memiliki identifikasi sidik jari, mempererat ikatan, dan menunjukkan jati diri penggunanya. Bahkan, sebanyak 25% konsumen menyatakan terbuka untuk membagi data demi pengalaman yang dipersonalisasi.

Generasi Z menjadi konsumen dengan persentase tertinggi yang menyukai produk yang dipersonalisasi sebesar 53%, diikuti oleh generasi milenial sebesar 45%, generasi X 32%, generasi 1950-an sebesar 27%.  Ekspektasi nilai pasar untuk produk hadiah yang dipersonalisasi diproyeksikan menyentuh US$31 miliar pada 2021, meningkat 55% dibandingkan 2016.

Sumber : Bisnis.com