Ini Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemberian ASI

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, dr. Kirana Pritasari, MQIH di Gedung Kemenkes, Jumat (2/8/2019) - Dok. Kemenkes
03 Agustus 2019 12:47 WIB Ria Theresia Situmorang Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Setelah bayi berusia 6 bulan, air susu ibu (ASI) saja ternyata tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi, sehingga perlu makanan tambahan (MP-ASI).
Demikian disampaikan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kirana Pritasari, dalam pemaparan Pekan ASI, Jumat (2/8/2019).
 
“Pada usia enam bulan ASI hanya memenuhi 2/3 dari kecukupan gizi bayi, dan pada usia sembilan bulan hanya memenuhi ½ kebutuhan, dan pada usia setahun hanya 1/3 dari kebutuhan,” katanya pada temu media Pekan Asi Sedunia 2019 di gedung Kemenkes, Jakarta, yang  dikutip dari siaran pers Kemenkes.
 
Berdasarkan global standard infant and young child feeding, MP-ASI harus memenuhi syarat sebagai berikut:
 
• Tepat waktu (Timely) : MP-ASI mulai diberikan pada saat kebutuhan energi dan zat gizi lain melebihi yang didapat dari ASI
 
• Adekuat (Adequate) : MP-ASI harus mengandung cukup energi, protein dan zat gizi mikro
 
• Aman (Safe) : Penyimpanan, penyiapan dan sewaktu diberikan MP-ASI harus higenis.
 
• Tepat cara pemberian (Properly) : MP-ASI diberikan sejalan dengan tanda lapar dan nafsu makan yang ditunjukan bayi serta frekuensi dan cara pemberiannya sesuai dengan usia bayi.
 
Keberhasilan pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain pengetahuan dan keterampilan ibu dan tenaga kesehatan, tersedianya fasilitas menyusui di tempat kerja, komitmen ibu, dukungan ayah, keluarga, masyarakat, serta pengendalian pemasaran susu formula.
 
Pola Asuh Gizi
 
Pola asuh gizi adalah cara pemberian makanan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Bayi baru lahir harusnya diberikan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian ASI saja tanpa diberi makanan atau minuman tambahan apapun termasuk air putih (kecuali vitamin dan obat).
 
“Ketika sudah berusia enam bulan sampai dua tahun anak tetap diberikan ASI ditambah makanan pendamping ASI. Untuk memastikan bahwa pola asuh gizi yang diberikan sudah benar, maka perlu dilakukan pemantauan pertumbuhan,” tambah Dirjen Kirana.
 
Dirjen Kirana mengajak berbagai pihak untuk membantu upaya peningkatan praktik PMBA khususnya menyusui. 
 
Dukungan ayah
 
Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia Wiyarni Pambudi mengatakan upaya peningkatan praktik PMBA itu harus dilakukan melalui dukungan ayah.
 
“Dukungan ayah dapat berupa mendengarkan keluh kesah istri selama persalinan, kedua sabar, ketiga ayah mencari informasi tentang menyusui sehingga ketika ada masalah ayah bisa memberikan solusi,” katanya.
 
Selain itu,p emerintah juga melakukan perencanaan dan koordinasi pusat dan daerah, untuk program PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak) dan ASI, pengaturan pemasaran susu formula sesuai dengan kode internasional dan rekomendasi WHA, serta promosi ASI eksklusif berupa penyuluhan kelompok maupun konseling menyusui melalui kelas ibu menyusui.
 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia