Benarkah Rokok Elektrik Vape Timbulkan Penyakit Paru-Paru?

NCIG International memutuskan untuk berinvestasi di Indonesia melihat potensi pasar rokok elektrik yang besar. - FOTO REUTERS
20 Agustus 2019 05:17 WIB Reni Lestari Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sekelompok penyakit paru-paru diyakini dapat dikaitkan dengan penggunaan rokok elektrik. Hal ini merebak di 14 negara. Kini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (Centers for Disease Control [CDC]) sedang menyelidikinya.

CDC mengatakan, belum ada bukti bahwa potensi penyakit yang timbul akibat rokok elektrik merupakan penyakit menular. Namun, dibutuhkan lebih banyak informasi untuk menentukan apakah penyakit-penyakit tersebut memang disebabkan oleh penggunaan rokok elektrik.

CDC bekerja dengan departemen kesehatan di Wisconsin, Illinois, California, Indiana dan Minnesota dalam penelitian ini. Sejak 28 Juni 2019, negara-negara bagian telah melaporkan 94 kemungkinan kasus penyakit paru-paru parah terkait dengan vaping, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Dari kasus-kasus itu, 30 terjadi di Wisconsin.

Pasien mengalami batuk, sesak napas dan kelelahan. Beberapa mengalami kesulitan bernapas yang serius yang membutuhkan ventilasi.

Negara bagian lain, termasuk New York dan New Jersey, juga telah mengeluarkan imbauan tentang penyakit paru-paru terkait vaping dan penggunaan rokok elektrik. CDC tidak menghubungkan penyakit dengan produk tertentu.

Di Amerika Serikat, Juul Labs, di mana Altria Group Inc (MO.N) memiliki 35% saham, merupakan produsen rokok elektrik terbesar.

"Isu kesehatan apapun terkait dengan penggunaan produk rokok, kami memantau laporan ini," kata Juul Labs dalam sebuah pernyataan yang dilansir Reuters, Senin (19/8/2019).

Pernyataan itu melanjutkan, laporan-laporan ini menegaskan kembali perlunya menjaga semua produk tembakau dan nikotin dari tangan kaum muda melalui regulasi yang signifikan tentang akses dan penegakan hukum.

"Kita juga harus memastikan produk ilegal, seperti tiruan, peniru, dan yang memberikan zat yang dikendalikan, tetap berada di luar pasar dan jauh dari masa muda," katanya.

Juul juga mencatat bahwa, menurut beberapa laporan media, beberapa insiden penyakit paru-paru yang terkait dengan vaping melibatkan THC, ditemukan di ganja,

Rokok elektrik umumnya dianggap lebih aman daripada rokok tradisional. Namun Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO tetap tidak merekomendasikan penggunaan barang ini. Alih-alih beralih ke rokok elektrik, perokok lebih disarankan untuk berhenti merokok sama sekali. Pada April lalu, Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS memulai penyelidikan tentang kejang-kejang yang dialami pengguna rokok elektrik.

Sumber : Bisnis.com